Streaming memberi family kebebasan memilih apa dan kapan mau menonton, tetapi sekaligus mengubah televisi dari ruang berbareng menjadi pengalaman yang semakin individual dan tersebar di banyak layar.
Ada masa ketika menonton televisi adalah kegiatan yang sangat terikat waktu. Sebuah movie tayang pukul delapan malam, kegiatan musik muncul setiap akhir pekan, dan serial favorit hanya bisa diikuti jika seluruh family berada di depan televisi pada jam yang sudah ditentukan. Remote mungkin diperebutkan, tetapi layar yang diperebutkan biasanya hanya satu.
Streaming mengubah nyaris seluruh patokan tersebut. Netflix, Disney+, Prime Video, Apple TV, dan beragam platform lain membikin movie serta serial tidak lagi berjuntai pada agenda televisi. Satu bagian dapat dihentikan, diteruskan besok, alias ditonton sekaligus sampai satu musim selesai. Anggota family yang berbeda apalagi bisa menonton program yang berbeda pada waktu berbarengan melalui televisi, smartphone, tablet, maupun laptop.
Perubahannya tidak hanya teknologi. Streaming secara perlahan mengubah salah satu ritual domestik paling familiar abad ke-20: menonton berbareng keluarga.
Dari Jadwal Televisi ke Jadwal Kita Sendiri
Televisi tradisional mempunyai kekuatan yang sekarang mulai susah dibayangkan: dia menentukan waktu. Penonton menyesuaikan kehidupan dengan agenda program, bukan sebaliknya. Karena sebuah kegiatan hanya tersedia pada waktu tertentu, menonton sering menjadi kegiatan kolektif secara otomatis.
Streaming membalik hubungan tersebut. Konten tersedia ketika penonton menginginkannya dan bisa dimulai dari perangkat mana pun. Deloitte mencatat bahwa streaming video-on-demand telah menjadi salah satu corak entertainment berbayar yang paling sering digunakan konsumen. Dalam survei Digital Media Trends 2025 di Amerika Serikat, 90 persen konsumen mempunyai setidaknya satu jasa streaming berbayar di rumah dan rata-rata rumah tangga yang berlangganan bayar empat layanan.
Pada 2026, pola tersebut tidak lagi memperlihatkan pertumbuhan tanpa batas. Deloitte menemukan rumah tangga pengguna streaming rata-rata tetap menghabiskan sekitar US$69 per bulan, tetapi pasar semakin matang dan konsumen mulai lebih sensitif terhadap harga.
Artinya streaming telah bergerak dari teknologi baru menjadi bagian normal kehidupan rumah tangga. Pertanyaannya bukan lagi apakah family menggunakan streaming, melainkan gimana keberadaannya mengubah langkah mereka menonton.

Televisi Tidak Hilang, Fungsinya yang Berubah
Kemunculan smartphone sempat melahirkan prediksi bahwa televisi besar di ruang family bakal kehilangan relevansi. Kenyataannya lebih kompleks. Streaming tidak selalu membunuh televisi; dalam banyak kasus, dia justru mengubah televisi menjadi layar streaming terbesar di rumah.
Nielsen mencatat sebuah tonggak krusial pada Mei 2025 ketika streaming mencapai 44,8 persen dari seluruh penggunaan televisi di Amerika Serikat, untuk pertama kalinya melampaui campuran broadcast dan cable TV yang mencapai 44,2 persen. Penggunaan streaming melalui televisi meningkat 71 persen dibandingkan empat tahun sebelumnya.
Perubahan serupa menuju kehidupan multi-screen juga terlihat di Indonesia. Nielsen melaporkan lebih dari 70 persen Gen Z dan Gen Y Indonesia sekarang mempunyai smartphone sekaligus televisi, sementara mengambil smart TV meningkat terutama pada rumah tangga urban dan family yang lebih muda. Penonton juga semakin terbiasa beranjak layar alias menggunakan perangkat kedua ketika sedang menonton sesuatu di layar utama.
Televisi lantaran itu tetap mempunyai posisi sentral, tetapi fungsinya berbeda. Dulu perangkat tersebut membawa program yang dipilih stasiun televisi ke rumah. Sekarang televisi menjadi portal menuju katalog yang dipilih sendiri oleh penghuninya.
Dari “Nonton TV” Menjadi “Kita Mau Nonton Apa?”
Perubahan paling menarik mungkin terjadi pada proses memilih tontonan. Pada era televisi linear, pilihan family relatif terbatas sehingga kompromi sering terjadi secara otomatis. Semua orang akhirnya menonton program yang sama lantaran memang itulah yang tersedia.
Streaming menawarkan kondisi sebaliknya: pilihan nyaris tidak terbatas. Secara teori, perihal itu menyenangkan. Dalam praktiknya, kebebasan tersebut dapat menghasilkan ritual baru yang cukup familiar bagi banyak keluarga: menghabiskan waktu lebih lama mencari tontonan daripada betul-betul menontonnya. Setiap personil family membawa preferensi masing-masing, sementara recommendation algorithm juga semakin mengenali kebiasaan individu.
Profil individual memperkuat perubahan tersebut. Ayah bisa mendapatkan rekomendasi thriller, ibu drama Korea, anak animation, sementara personil family lain mungkin nyaris seluruhnya menonton anime. Satu subscription digunakan bersama, tetapi pengalaman di dalamnya semakin individual.
Streaming dengan demikian menciptakan sebuah paradoks: akses family terhadap entertainment menjadi semakin besar pada saat selera setiap personil family semakin terpisah.
Menonton Bersama Ternyata Belum Hilang
Meski personalisasi semakin dominan, dugaan bahwa semua orang sekarang menonton sendiri juga tidak tepat. Data Nielsen menunjukkan masyarakat Amerika tetap menonton televisi berbareng orang lain sekitar 47 persen dari waktu menonton mereka. Angkanya memang bervariasi berasas program dan waktu, tetapi menunjukkan bahwa co-viewing tetap menjadi bagian besar dari pengalaman televisi.
Yang berubah adalah argumen orang berkumpul. Dulu family menonton berbareng lantaran keterbatasan teknologi dan jadwal. Sekarang menonton berbareng lebih sering merupakan keputusan. Film keluarga, pertandingan olahraga, finale serial besar, kejuaraan reality show alias sebuah movie yang sengaja disimpan untuk akhir pekan dapat menciptakan kembali pengalaman tersebut.
Dalam konteks ini, streaming apalagi mempunyai keuntungan. Sebuah family tidak kudu berada di rumah tepat pukul delapan malam. Mereka dapat menentukan sendiri kapan ritual itu berlangsung. Menonton berbareng tidak hilang, tapi berubah dari default behavior menjadi intentional behavior.

Binge-Watching Mengubah Bentuk Kebersamaan
Streaming juga mengubah unit dasar sebuah cerita televisi. Dulu satu bagian biasanya menjadi satu sesi menonton. Penonton kemudian menunggu satu minggu sebelum cerita berikutnya.
Ketika satu musim tersedia sekaligus, pemisah tersebut menghilang. Keluarga alias pasangan bisa menyelesaikan tiga bagian dalam satu malam dan menjadikan sebuah serial sebagai proyek berbareng selama beberapa hari.
Kebiasaan ini menghasilkan corak bonding yang berbeda. Percakapan mengenai apa yang bakal terjadi minggu depan berubah menjadi negosiasi yang lebih modern: apakah boleh menonton bagian berikutnya ketika personil family lain belum pulang?
Netflix dan Disney+ Hotstar merupakan dua platform streaming movie paling terkenal di Indonesia saat ini. Salah satu perbedaan mencolok yang terlihat antara kedua platform ini adalah tolak ukur kualitas dan kuantitas. Disney+ tetap identik dengan budaya weekly shows, sedangkan Netflix dengan binge-watching.
Meski ada banyak koleksi serial lama yang bisa kita binge di Disney+, platform ini lebih memilih untuk mempopulerkan budaya ‘weekly shows’. Setiap serial terbaru di platform ini hanya merilis satu bagian baru di hari dan jam yang sama, sesuatu yang sudah semakin jarang kita temukan dalam industri serial semenjak kebangkitan platform streaming.
Fenomena sederhana ini menunjukkan sesuatu yang menarik. Bahkan ketika teknologi memberikan kebebasan menonton individual, manusia tetap menciptakan patokan sosial di sekeliling tontonan. Sebuah serial dapat menjadi kegiatan berbareng yang memerlukan komitmen informal untuk tidak melanjutkan cerita sendirian.
Layar Kedua Masuk ke Ruang Keluarga
Namun kebersamaan hari ini juga berbeda secara kualitas. Empat orang bisa duduk di sofa yang sama sembari tidak sepenuhnya memandang layar yang sama.
Smartphone menjadi second screen. Penonton mencari nama aktor, membuka media sosial, membalas pesan, membaca komentar tentang movie yang sedang berjalan, alias sekadar beranjak perhatian ketika cerita terasa lambat. Nielsen memandang perilaku multi-screen seperti ini semakin krusial di Indonesia, terutama pada audiens yang lebih muda.
Ruang family akhirnya mengalami corak fragmentasi perhatian yang sebelumnya tidak ada. Secara bentuk semua orang berada bersama, tetapi secara digital perhatian mereka dapat berada di banyak tempat sekaligus.
Streaming tidak menciptakan kebiasaan tersebut sendirian. Smartphone dan media sosial mempunyai peran besar. Namun seluruh ekosistem digital membikin konsep “menonton bersama” sekarang jauh lebih cair daripada sekadar beberapa orang memandang televisi yang sama.
Terlalu Banyak Pilihan Juga Menjadi Masalah
Era streaming sempat menjanjikan sebuah bumi yang lebih sederhana: bayar satu jasa dan tonton apa pun yang kita mau. Setelah nyaris satu dasawarsa kejuaraan streaming, pengalaman tersebut kembali menjadi kompleks.
Film dan serial tersebar di banyak platform. Harga subscription meningkat, password sharing semakin dibatasi, dan konsumen kudu menentukan jasa mana yang tetap layak dipertahankan. Deloitte pada 2025 menemukan 47 persen konsumen yang disurvei merasa bayar terlalu mahal untuk streaming, sementara 39 persen telah membatalkan setidaknya satu jasa berbayar dalam enam bulan sebelumnya. Pada 2026, sekitar 61 persen mengatakan kemungkinan bakal membatalkan jasa favorit mereka jika harganya naik US$5.
Menariknya, industri sekarang mulai kembali ke konsep bundling dan aggregation—beberapa jasa digabung dalam satu paket melalui operator telekomunikasi, perusahaan teknologi alias penyedia pay TV. Deloitte memperkirakan kecenderungan ini menjadi semakin krusial setelah konsumen mencapai titik jenuh mempunyai terlalu banyak subscription terpisah.
Dalam makna tertentu, streaming perlahan menciptakan kembali sebagian pengalaman televisi kabel yang sebelumnya mau digantikannya.

Ritualnya Tidak Hilang, tetapi Berubah
Streaming telah memberikan sesuatu yang susah dibantah: kontrol. Keluarga tidak lagi kudu hidup berasas agenda program televisi dan mempunyai akses terhadap movie serta serial dari beragam negara dalam jumlah yang dulu nyaris mustahil tersedia di satu rumah.
Tetapi setiap corak kebebasan menciptakan perubahan lain. Ketika pilihan menjadi personal, pengalaman menonton juga semakin individual. Ketika setiap orang mempunyai layar, berada dalam satu ruangan tidak otomatis berfaedah menikmati entertainment yang sama.
Itulah sebabnya televisi family belum betul-betul kehilangan maknanya. Di tengah beragam perangkat personal, layar besar di rumah tetap menjadi salah satu sedikit teknologi yang secara alami mengundang beberapa orang untuk memandang sesuatu secara bersamaan. Perbedaannya, family sekarang kudu memilih untuk melakukannya.
Ritual lama ketika semua orang otomatis berkumpul lantaran sebuah kegiatan mulai pukul delapan malam mungkin semakin menghilang. Sebagai gantinya muncul ritual baru: memilih movie bersama, menyimpan satu serial unik untuk akhir pekan, membikin watchlist keluarga, alias menahan diri tidak menonton bagian berikutnya lantaran seseorang belum pulang.
Streaming membikin menonton jauh lebih personal. Namun justru lantaran itulah, ketika sebuah family akhirnya menemukan sesuatu yang mau mereka tonton bersama, pengalaman tersebut menjadi semakin disengaja.
Sumber: Nielsen; Deloitte Digital Media Trends 2025–2026.