Bagaimana Wellness Berubah Menjadi Industri Global

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 7 menit 516x dilihat
Bagaimana Wellness Berubah Menjadi Industri Global

Bagikan Postingan

Beberapa dasawarsa lalu, kata wellness mungkin lebih mudah diasosiasikan dengan spa, yoga, gym, alias liburan kesehatan. Sekarang cakupannya jauh lebih luas. Tidur, makanan, skincare, olahraga, meditasi, wearable device, suplemen, hotel, tempat tinggal, apalagi kreasi sebuah gedung dapat dipasarkan melalui pendapat yang sama: membantu manusia hidup lebih sehat dan merasa lebih baik.

Perubahan tersebut membikin wellness bukan lagi kategori mini dalam industri kesehatan. Menurut Global Wellness Institute (GWI), ekonomi wellness dunia mencapai US$6,8 triliun pada 2024, tumbuh 7,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Nilainya telah lebih dari dua kali lipat dibanding 2013 dan sekarang setara dengan sekitar 6,1 persen produk domestik bruto global. GWI memperkirakan pasar ini dapat mencapai sekitar US$9,8 triliun pada 2029 jika tumbuh sesuai proyeksi 7,6 persen per tahun.

Angka sebesar itu menunjukkan perubahan penting: menjaga kesehatan telah berkembang menjadi salah satu kegiatan konsumsi terbesar di dunia.

Photo via gandumuluwatu.com

Wellness Bukan Lagi Sekadar Spa dan Gym

Besarnya nomor tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. GWI mendefinisikan wellness economy secara sangat luas melalui 11 sektor, mulai dari individual care dan beauty, healthy eating dan nutrition, kegiatan fisik, wellness tourism, traditional and complementary medicine, kesehatan preventif, wellness real estate, mental wellness, spa, thermal springs, hingga workplace wellness.

Pada 2024, individual care dan beauty sendiri berbobot sekitar US$1,35 triliun. Physical activity mencapai sekitar US$1,14 triliun, sementara healthy eating, nutrition, dan weight loss berada di sekitar US$1,15 triliun. Wellness tourism mendekati US$894 miliar.

Karena definisinya luas, nomor GWI tidak bisa langsung dibandingkan dengan semua laporan pasar wellness lainnya. McKinsey, misalnya, memperkirakan pasar wellness dunia sekitar US$2 triliun, tetapi riset mereka menggunakan ruang lingkup yang lebih sempit dan berfokus pada enam dimensi konsumsi: health, sleep, nutrition, fitness, appearance, dan mindfulness.

Keduanya pada dasarnya menunjukkan kejadian yang sama: wellness telah bergerak jauh melampaui industri kebugaran tradisional.

Bagaimana Wellness Berubah Menjadi Industri Global

Photo Cr. Gaurav Sawn

Dari Mengobati Penyakit ke Mencegahnya

Salah satu perubahan terbesar adalah langkah konsumen memandang kesehatan.

Model lama condong reaktif: seseorang mencari jasa kesehatan ketika sakit. Budaya wellness bergerak ke arah yang lebih preventif. Orang berolahraga sebelum mengalami masalah kesehatan, memantau tidur dengan smartwatch, memperhatikan komposisi makanan, menggunakan sunscreen setiap hari, menjalani pemeriksaan rutin, alias menggunakan aplikasi untuk memantau kondisi tubuh.

Pertumbuhan tersebut juga muncul di tengah persoalan kesehatan dunia yang nyata. WHO memperkirakan sekitar 31 persen orang dewasa dunia—sekitar 1,8 miliar orang—tidak memenuhi rekomendasi kegiatan bentuk pada 2022. Sementara informasi terbaru WHO menunjukkan lebih dari satu miliar orang hidup dengan kondisi kesehatan mental.

Kondisi itu tidak berfaedah setiap produk bercap wellness otomatis menjadi solusi medis. Tetapi menjelaskan kenapa rumor seperti olahraga, tidur, stres, nutrisi, dan kesehatan mental semakin menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Wellness kemudian datang di antara dua dunia: kesehatan dan lifestyle.

Photo via dreamerealestate.com

Ketika Wellness Masuk ke Semua Industri

Kemampuan wellness menembus beragam kategori menjadi salah satu argumen industrinya berkembang begitu besar.

Hotel tidak lagi cukup menjual kamar; beberapa menawarkan sleep program, healthy menu, meditation, spa, dan fitness experience. Pengembang properti mulai menjual pencahayaan alami, kualitas udara, ruang hijau, walking environment, hingga akomodasi kebugaran sebagai bagian dari nilai sebuah hunian.

Tidak mengherankan jika wellness real estate menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam informasi GWI. Nilainya mencapai sekitar US$548 miliar pada 2024 dan tumbuh rata-rata 19,5 persen per tahun sejak 2019. GWI memperkirakan sektor tersebut dapat melampaui US$1 triliun menjelang 2029.

Perkembangan serupa terjadi pada mental wellness. Sektor ini mencapai sekitar US$268 miliar pada 2024 dan tumbuh rata-rata 12,4 persen per tahun sejak 2019—tercepat kedua setelah wellness real estate.

Artinya, wellness tidak lagi hanya menjual aktivitas. Ia mulai memengaruhi gimana rumah dibangun, perjalanan dirancang, makanan dipasarkan, teknologi dikembangkan, dan waktu senggang digunakan.

Generasi Muda Membuat Wellness Menjadi Rutinitas

Millennial dan Gen Z memainkan peran krusial dalam perubahan tersebut.

Survei McKinsey terhadap lebih dari 9.000 konsumen di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Tiongkok menemukan bahwa wellness semakin dipandang generasi muda sebagai praktik harian dan personal, bukan sesuatu yang dilakukan sesekali. Di Amerika Serikat, 84 persen konsumen dalam survei mengatakan wellness merupakan prioritas krusial alias sangat penting; angkanya mencapai 94 persen di Tiongkok.

Hal tersebut terlihat dari gimana wellness sekarang dibagi menjadi ritual kecil: hitungan langkah harian, protein intake, skincare routine, sleep score, pilates class, journaling, meditation app, hingga screen-time management.

Wellness pun semakin dekat dengan konsep self-optimization: bukan sekadar tidak sakit, tetapi tidur lebih baik, bekerja lebih fokus, terlihat lebih segar, bergerak lebih banyak, dan merasa lebih terkendali atas kehidupan sendiri.

Di era media sosial, kebiasaan tersebut sekaligus menjadi identitas. Botol minum, running shoes, busana olahraga, makanan sehat, gym membership alias weekend retreat dapat berfaedah sebagai produk kesehatan sekaligus simbol lifestyle.

Indonesia Juga Menjadi Pasar Besar

Pertumbuhan wellness bukan kejadian yang hanya terjadi di Amerika Serikat alias Eropa.

Data negara terbaru yang dirilis Global Wellness Institute pada 2026—menggunakan nomor pasar 2024—menempatkan Indonesia sebagai pasar wellness terbesar ke-20 di dunia, dengan nilai sekitar US$56 miliar. Ekonomi wellness Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 5,1 persen per tahun sepanjang 2019–2024.

Posisi Indonesia menarik lantaran beragam komponen wellness sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan lokal: jamu, pijat tradisional, spa, herbal, mandi dan perawatan tubuh, hingga praktik kesehatan berbasis komunitas.

Yang berubah adalah langkah praktik tersebut berjumpa dengan ekonomi modern. Tradisi dapat berubah menjadi produk beauty dan individual care, retreat menjadi wellness tourism, olahraga menjadi lifestyle community, sementara makanan dan minuman kesehatan berkembang menjadi kategori konsumen tersendiri.

Bali menjadi contoh paling terlihat dari persilangan tersebut, ketika pariwisata, yoga, spa, healthy food, retreat, dan budaya lokal berjumpa dalam ekonomi yang melayani konsumen domestik maupun internasional.

Photo Rima Kruciene/Unsplash

Ketika Sehat Menjadi Produk

Namun pertumbuhan wellness juga membawa kontradiksi. Semakin besar industrinya, semakin mudah pendapat tentang kesehatan diterjemahkan menjadi sesuatu yang kudu dibeli.

Istirahat dapat menjadi sleep technology. Berjalan kaki menjadi wearable subscription. Relaksasi menjadi retreat. Makanan biasa memperoleh label khusus. Bahkan kebutuhan dasar seperti tidur, bergerak, bersosialisasi, dan mendapatkan udara bersih dapat dikemas menjadi pengalaman premium.

Di titik tersebut, wellness berisiko berubah dari pendapat tentang kesehatan menjadi simbol status.

Ada pula persoalan klaim ilmiah. Tidak semua tren wellness mempunyai tingkat bukti yang sama. Produk suplemen, terapi alternatif, program detoks, perangkat kesehatan konsumen hingga beragam tren viral dapat bergerak lebih sigap daripada penelitian yang mendukungnya.

Karena itu, pertumbuhan industri perlu melangkah berbareng literasi kesehatan. Wellness semestinya tidak menggantikan pemeriksaan dokter, pengobatan berbasis bukti, alias sistem kesehatan publik.

Kontradiksinya semakin jelas ketika akses diperhitungkan. Dunia mempunyai industri wellness berbobot triliunan dolar, tetapi WHO pada 2025 tetap melaporkan bahwa sebagian besar dari lebih satu miliar orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental tidak memperoleh jasa yang memadai.

Wellness sebagai Budaya Kehidupan Modern

Pada akhirnya, perkembangan wellness tidak hanya dapat dijelaskan melalui tren gym, green juice, yoga alias skincare.

Ia tumbuh lantaran arti “hidup sehat” sendiri menjadi semakin luas. Kesehatan bentuk berjumpa kesehatan mental. Kebugaran berjumpa teknologi. Pariwisata berjumpa self-care. Properti berjumpa kualitas hidup. Beauty berjumpa longevity.

Konsumen tidak lagi hanya membeli produk. Mereka membeli pendapat bahwa kualitas hidup dapat ditingkatkan melalui serangkaian keputusan sehari-hari. Di situlah wellness berubah menjadi industri global.

Namun mungkin tantangan terbesar berikutnya bukan lagi membikin wellness semakin besar, melainkan memastikan maknanya tidak lenyap di tengah komersialisasi. Karena hidup sehat semestinya tidak menjadi kemewahan yang hanya tersedia bagi mereka yang bisa membeli produk, membership, retreat, alias teknologi terbaru.

Pada akhirnya, wellness yang paling berbobot tetap berangkat dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: akses terhadap makanan yang baik, kegiatan fisik, istirahat, hubungan sosial, lingkungan yang sehat, serta jasa kesehatan yang dapat dijangkau.

Sumber: Global Wellness Institute, Global Wellness Economy Monitor 2025 dan Global Wellness Economy: Country Rankings 2019–2024; McKinsey & Company, Future of Wellness 2025; World Health Organization (WHO), informasi Physical Activity dan World Mental Health Today.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads