Artikel ini bakal menjelaskan tentang akibat jumping smash voli dan cedera olahraga voli bagi tubuh, terutama dengkul dan pergelangan kaki, serta cara-cara mudah untuk mencegahnya.
Olahraga voli adalah salah satu olahraga bola voli yang banyak digemari, baik sebagai olahraga kompetitif di level pertandingan resmi maupun olahraga rekreasional yang dimainkan sekadar untuk bersenang-senang berbareng teman.
Bahkan atlet voli papan atas Indonesia seperti Megawati Hangestri Pertiwi pun tetap kudu memperhatikan teknik yang betul agar terhindar dari cedera, meski sudah terbiasa tampil di level profesional.
Salah satu aktivitas yang paling menarik perhatian dalam permainan ini adalah smash voli, ialah pukulan keras yang dilakukan sembari melompat tinggi.
Sayangnya, di kembali aktivitas yang terlihat keren ini, ada ancaman jumping smash voli yang perlu diketahui oleh setiap pemain, baik yang baru belajar maupun yang sudah sering bertanding.
Jika mau berkonsultasi tentang cedera dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!
Kenapa Jumping Smash Voli Bisa Berbahaya?
Saat bermain voli, tubuh dituntut melakukan banyak aktivitas berat seperti melompat (jumping), memukul bola keras (spike), melakukan jump serve, menahan serangan musuh (block), dan mendarat kembali ke lantai (landing/pendaratan).
Semua aktivitas ini membebani tubuh, terutama bagian dengkul dan pergelangan kaki, dan berpotensi menjadi cedera akibat olahraga jika dilakukan dengan langkah yang salah.
Kebanyakan cedera dalam olahraga voli justru terjadi saat pemain melakukan blocking dan smash, lantaran keduanya sama-sama melibatkan lompatan yang tinggi dan berulang-ulang.
Karena aktivitas ini dilakukan acapkali dalam satu latihan alias pertandingan, pemain voli jadi rentan mengalami overuse injury, ialah cedera yang muncul bukan lantaran tumbukan keras, tapi lantaran bagian tubuh yang sama dipakai terus-menerus tanpa rehat cukup.
Inilah salah satu jawaban dari pertanyaan olahraga voli menyebabkan cedera apa saja, ialah bukan hanya cedera mendadak seperti muscle strain (otot tertarik), tapi juga cedera yang muncul pelan-pelan seiring waktu.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Melakukan Jumping Smash?
Supaya lebih mengerti soal akibat sering jumping smash, ada baiknya kita tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat aktivitas ini dilakukan, dilihat dari sisi biomekanika lompatan.
Bagian paling rawan dari smash voli sebenarnya bukan saat melompat, tapi saat mendarat kembali ke lantai.
Ketika melompat lampau memukul bola, tubuh menyimpan tenaga yang besar hasil dari lompatan eksplosif tadi. Nah, tenaga ini kudu dibuang alias diserap kembali oleh kaki saat mendarat.
Kalau langkah mendaratnya salah, tenaga besar tadi bakal langsung membebani dengkul dan pergelangan kaki, dan inilah yang bisa menyebabkan cedera akibat pendaratan setelah smash.
Bahaya Utama Smash Voli pada Lutut
Lutut adalah bagian tubuh yang paling sering mengalami cedera serius akibat dampak sering jumping smash. Berikut beberapa jenis cedera dengkul yang biasa dialami pemain voli.
1. Cedera ACL akibat smash voli
ACL (Anterior Cruciate Ligament) adalah salah satu ligamen ACL utama (jaringan pengikat) di dalam dengkul yang bekerja menjaga dengkul tetap stabil.
Selain ACL, ada juga ligamen lain seperti PCL, MCL, dan LCL yang sama-sama berfaedah menjaga kestabilan sendi dengkul dan stabilitas sendi dengkul secara keseluruhan.
Cedera ACL paling sering terjadi saat mendarat, apalagi jika posisi kaki terlalu lurus (tidak ditekuk) alias badan dalam posisi tidak seimbang saat menyentuh lantai.
Yang perlu diketahui, jumping smash menyebabkan cedera dengkul jenis ini biasanya bukan lantaran tumbukan dengan pemain lain, melainkan murni lantaran kesalahan saat mendarat sendiri. Dalam istilah medis, kondisi ini juga dikenal dengan julukan ACL Injury.
2. Cedera meniskus saat voli
Meniskus adalah semacam alas di dalam dengkul yang berfaedah meredam tumbukan antara tulang paha dan tulang kering.
Saat pemain mendarat dengan satu kaki saja alias lututnya menekuk terlalu dalam, alas ini bisa robek lantaran menahan beban yang terlalu besar, kondisi yang dalam istilah medis disebut Meniscus Tear.
3. Cedera patella (Jumper’s Knee)
Ada juga jenis cedera yang disebut Jumper’s Knee alias Patellar Tendinitis, ialah peradangan pada tendon patella (jaringan penghubung otot dan tulang) yang menghubungkan tempurung dengkul dengan tulang kering.
Kondisi ini termasuk salah satu corak tendinitis yang paling umum pada pemain voli. Cedera patella lantaran voli ini termasuk yang paling sering ditemukan, lantaran tendon ini terus-menerus menerima tekanan setiap kali pemain melompat dan mendarat.
Selain tendon patella, tendon Achilles di bagian belakang pergelangan kaki juga rentan mengalami peradangan akibat aktivitas lompat-mendarat yang berulang.
Risiko pada Pergelangan Kaki
Selain lutut, pergelangan kaki juga jadi bagian tubuh yang paling sering cedera saat bermain voli.
Cedera ankle saat smash voli biasanya berupa keseleo alias ankle sprain, dan ini adalah jenis cedera yang paling sering membikin pemain kudu tidakhadir dari lapangan dalam waktu lama.
Keseleo ini biasanya terjadi lantaran sendi pergelangan kaki terpelintir ke arah luar. Kejadian ini sering muncul ketika seorang pemain yang sedang blocking mendarat tepat di atas kaki pemain musuh alias rekan setimnya di dekat net.
Risiko cedera pergelangan kaki ini juga lebih besar jika bermain di lapangan indoor, lantaran lantainya keras dan gesekannya lebih tinggi dibanding lapangan outdoor berpasir.
Mendarat dengan Satu Kaki Setelah Jumping Smash Voli
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pemain, apalagi yang sudah cukup berpengalaman, adalah mendarat dengan satu kaki setelah melakukan jumping smash voli.
1. Bebannya jadi dua kali lipat
Kalau mendarat dengan satu kaki, artinya seluruh berat badan dan tenaga dari lompatan tadi ditahan oleh satu kaki saja, bukan dua.
Akibatnya, dengkul yang menjadi tumpuan kudu menahan beban yang jauh lebih besar. Ini yang membikin akibat cedera saat mendarat setelah loncat jadi meningkat drastis.
2. Gampang kehilangan keseimbangan
Mendarat dengan satu kaki juga membikin tubuh lebih susah menjaga keseimbangan. Kalau sudah goyah, akibat jatuh alias cedera tambahan pun makin besar.
Kenapa Lutut Sering Sakit Setelah Main Voli?
Banyak pemain voli mengeluhkan dengkul nyeri setelah smash voli, entah itu terasa pegal, ngilu, alias apalagi bengkak
Kalau ditanya kenapa dengkul sakit setelah bermain voli, jawabannya sederhana: lantaran dengkul menerima tumbukan pada dengkul secara berkali-kali setiap kali mendarat.
Kalau tumbukan ini tidak diimbangi dengan teknik mendarat yang baik dan otot yang cukup kuat, lama-lama bisa menyebabkan inflamasi alias peradangan, nyeri yang berkepanjangan, apalagi kerusakan jaringan di dalam lutut.
Inilah salah satu penyebab dengkul sakit setelah main voli yang paling umum ditemukan, dan menjadikannya cedera olahraga pada pemain voli yang paling khas.
Cara Mencegah Cedera Saat Jumping Smash Voli
Meski risikonya cukup nyata, sebenarnya ada banyak langkah mencegah cedera saat jumping smash yang bisa diterapkan, baik untuk pemain yang serius bertanding maupun yang hanya main untuk hobi.
Pencegahan cedera sebaiknya menjadi kebiasaan rutin, bukan sekadar dilakukan sesekali saja.
Kuasai Teknik Jumping Smash yang Benar
Teknik jumping smash yang betul bukan hanya soal memukul bola sekeras mungkin.
Tapi juga soal gimana melakukan seluruh rangkaian aktivitas dengan aman, dari awal lompatan sampai mendarat kembali.
1. Awalan dan lompatan
Ambil langkah yang pas agar lompatan lebih terkontrol. Gerakan kaki dan ayunan tangan perlu selaras agar tenaga yang dihasilkan maksimal tanpa membebani sendi secara berlebihan.
2. Saat melayang di udara
Fokus untuk memukul bola pada titik tertinggi lompatan.
3. Cara mendarat yang kondusif (landing technique)
Usahakan selalu mendarat dengan kedua kaki bersamaan, bukan satu kaki, agar beban tubuh terbagi rata. Saat kaki menyentuh lantai, tekuk dengkul sedikit untuk meredam benturan.
Tapi jangan menekuk terlalu dalam juga, lantaran itu bisa berisiko menyebabkan cedera lain. Posisi merendah sedikit ini bakal membantu otot menyerap tenaga dengan lebih baik.
Jangan lupa juga menjaga pandangan lurus ke depan agar tubuh tetap seimbang dan dengkul lebih stabil saat mendarat.
Rutin Latihan Kekuatan dan Keseimbangan
Selain latihan teknik di lapangan, latihan untuk mencegah cedera voli juga krusial dilakukan di luar jam bermain untuk mempersiapkan tubuh menahan beban olahraga voli.
1. Latihan kekuatan otot
Memperkuat otot paha (quadriceps dan hamstring) serta otot betis bakal membantu menstabilkan ligamen dengkul dan meredam tumbukan saat mendarat.
Latihan loncat yang terprogram dengan baik bisa meningkatkan kekuatan otot tungkai yang dibutuhkan untuk melompat tinggi. Jenis latihan ini juga dikenal bagus untuk mengurangi akibat cedera.
2. Latihan keseimbangan
Latihan ini krusial untuk mencegah cedera ankle. Berlatih di permukaan yang tidak rata bisa membantu melatih sendi pergelangan kaki agar lebih siap saat mendarat di kondisi lapangan yang kurang ideal.
3. Peregangan otot
Jangan lupa rutin melakukan pemanasan sebelum bermain dan pendinginan setelah bermain. Fleksibilitas otot yang baik membikin otot lebih lentur dan lebih tahan terhadap cedera dibanding otot yang kaku.
Gunakan Alat Bantu Kalau Perlu
Bagi pemain yang punya riwayat cedera sebelumnya, memakai brace dengkul alias pelindung pergelangan kaki bisa memberi support ekstra dan rasa lebih kondusif saat bermain.
Jangan Lupa Istirahat
Salah satu penyebab utama overuse injury pada pemain voli adalah kurang istirahat. Tubuh butuh waktu untuk memulihkan diri setelah berlatih alias bertanding.
Kalau sudah terasa nyeri, jangan dipaksakan untuk terus bermain, lantaran bisa memperparah kondisi.
Jika Sudah Terlanjur Cedera, Bagaimana?
Kalau cedera sudah terjadi, penanganan sigap sangat penting. Metode PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation) bisa jadi langkah pertama untuk menangani cedera akut seperti keseleo.
Kalau cederanya lebih serius, seperti robekan ligamen alias nyeri dengkul yang tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera periksa ke dokter, termasuk master ahli ortopedi yang menangani masalah tulang dan sendi.
Fisioterapi dan rehabilitasi cedera olahraga bakal membantu memulihkan kegunaan sendi dan otot secara bertahap.
Dokter biasanya bakal melakukan pemeriksaan fisik, alias jika perlu, menyarankan pemeriksaan tambahan seperti MRI, X-Ray, alias USG Muskuloskeletal untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Pada kasus tertentu, penanganan seperti injeksi PRP (Platelet Rich Plasma) alias apalagi Prosedur Richard Wolf bisa jadi pilihan, tergantung seberapa parah cederanya.
Kalau keluhan pada dengkul alias sendi terus bersambung akibat bermain voli, ada baiknya memeriksakan diri ke klinik nyeri dengkul dan sendi seperti Klinik Patella, yang mempunyai master ahli berpengalaman, agar penanganannya lebih tepat sesuai kondisi masing-masing.
Kesimpulan tentang Smash Voli
Jumping smash voli memang aktivitas yang keren dan efektif dalam permainan bola voli, tapi jangan lupa jika ada ancaman jumping smash voli bagi dengkul dan sendi lain yang mengintai di baliknya.
Cedera ACL akibat voli, cedera meniskus saat voli, cedera ankle saat smash voli, sampai Jumper’s Knee adalah beberapa akibat yang bisa dialami pemain, apalagi jika langkah mendaratnya salah.
Karena itu, mencegah cedera kudu jadi prioritas, baik untuk pemain yang serius bertanding maupun yang hanya main santai.
Dengan menguasai teknik jumping smash yang benar, terutama soal mendarat dengan dua kaki dan menekuk dengkul secukupnya, ditambah rutin latihan kekuatan otot paha, latihan keseimbangan, pemanasan, dan pendinginan, akibat cedera bisa ditekan jauh lebih kecil.
Jangan lupa juga untuk selalu mendengarkan sinyal dari tubuh sendiri dan memberi waktu rehat yang cukup agar terhindar dari overuse injury.
Dengan begitu, olahraga voli tetap bisa dinikmati dengan kondusif sembari terus meningkatkan performa atlet, tanpa kudu cemas soal cedera yang berkepanjangan.
Jika mau berkonsultasi tentang cedera dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!
Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
“Deteksi awal nyeri dengkul adalah langkah terpenting untuk mencegah kerusakan permanen lutut, dan memastikan penyebab nyeri hilang,” ujar salah satu master ahli Klinik Patella, dr. Windi Martika, Sp.OT.
Bagi yang sedang mencari rekomendasi master nyeri dengkul terbaik di Jakarta, Klinik Patella datang sebagai klinik nyeri dengkul dan sendi terbaik dengan jasa yang komplit dalam satu atap.
Klinik Patella mempunyai tindakan modern untuk nyeri dengkul ialah Arthroscopy Richard Wolf sebagai solusi minimal invasif.
Prosedur ini menggunakan kamera serat optik mini (arthroscope) yang dimasukkan melalui sayatan kecil, sehingga master dapat memandang langsung kondisi di dalam sendi dengkul sekaligus menanganinya tanpa perlu sayatan besar.
Tindakan Arthroscopy Richard Wolf ini umumnya berjalan sekitar satu jam dan dilakukan secara rawat jalan, artinya pasien bisa pulang di hari yang sama dan menjalani pemulihan dengan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) di rumah.
Sebagai Arthroscopy Richard Wolf, Klinik Patella juga menyediakan beragam pilihan pengobatan lainnya seperti:
- Fisioterapi
- Hidroterapi
- Injeksi Viskosuplemen
- Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
- Terapi Secretome
- Terapi Stem Cell
- Radiofrekuensi Ablasi
- Total Knee Replacement
Tim master Klinik Patella adalah:
- dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
- dr. Windi Martika, Sp.OT
- dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
- dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
- Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
- dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS
Yang membikin Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.
Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu perspektif pandang.
Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia alias mereka yang mempunyai kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.
FAQ Seputar Smash Voli
Kenapa dengkul sering sakit setelah main voli?
Lutut sering sakit setelah main voli lantaran sendi ini menerima tumbukan berkali-kali setiap kali pemain mendarat dari lompatan.
Jika tumbukan ini tidak diimbangi dengan teknik mendarat yang betul dan kekuatan otot paha yang memadai, lama-lama bisa memicu peradangan, nyeri berkepanjangan, hingga kerusakan jaringan di dalam lutut.
Apa saja cedera yang paling sering dialami pemain voli akibat jumping smash?
Cedera yang paling sering dialami pemain voli akibat jumping smash meliputi cedera ACL, robekan meniskus, dan patellar tendinitis (Jumper’s Knee) pada lutut, serta ankle sprain alias keseleo pada pergelangan kaki. Sebagian besar cedera ini terjadi saat fase pendaratan, bukan saat melompat.
Bagaimana langkah mendarat yang betul setelah jumping smash agar tidak cedera?
Cara mendarat yang betul setelah jumping smash adalah mendarat dengan kedua kaki secara bersamaan, bukan satu kaki, agar beban tubuh terdistribusi merata.
Lutut perlu ditekuk secukupnya saat menyentuh lantai untuk meredam benturan, namun tidak boleh terlalu dalam lantaran berisiko menimbulkan cedera lain.
Latihan apa yang bisa mencegah cedera saat bermain voli?
Latihan yang bisa mencegah cedera saat bermain voli meliputi latihan kekuatan otot paha (quadriceps dan hamstring) untuk menstabilkan lutut, latihan keseimbangan untuk melatih kestabilan pergelangan kaki, serta pemanasan dan pendinginan rutin untuk menjaga elastisitas otot.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·