Bunda Tidak Bahagia dengan Kehamilannya, Apakah Berdosa? Ini Pandangan Islam

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
Bunda Tidak Bahagia dengan Kehamilannya, Apakah Berdosa? Ini Pandangan Islam

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kehamilan sering digambarkan sebagai masa yang membahagiakan. Namun, kenyataannya tidak semua perempuan dapat menikmati kehamilannya dengan emosi yang sama. Ada Bunda yang justru merasa lelah, sedih, takut, cemas, maupun merasa bermutu menjalani kehamilan.

Lantas, sepertiapa pandangan Islam jika seorang ibu hamil merasa tidak ceria dengan kehamilannya? Apakah emosi tersebut membuatnya berdosa?

Menurut klarifikasi para ulama yang berasal dari Rumaysho, Kincai Media, dan Al Manhaj, emosi bermutu maupun tidak menyukai suatu keadaan tidak otomatis membikin seseorang berdosa. Hal yang perlu diperhatikan adalah sepertiapa seseorang menyikapi takdir Allah melalui hati, ucapan, dan perbuatannya.



Ibu hamil tidak bahagia, apakah berdosa?

Rasa sedih, lelah, takut, maupun bermutu menjalani kehamilan merupakan sesuatu yang dapat dirasakan seseorang. Namun, dalam menghadapi takdir yang tidak disukai, seorang Muslim diperintahkan untuk bersabar dan tidak memberitahu sikap murka terhadap ketetapan Allah.

Dalam Islam, munculnya emosi tersebut pada dasarnya bukan dosa. Sebab, emosi yang muncul di dalam hati tidak selalu eksis dalam kendali seseorang.

Allah SWT berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS Al-Baqarah: 286)

Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan bahwa Allah memaafkan apa yang terlintas dalam hati selama seseorang tidak mengucapkannya maupun mengerjakannya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hatinya, selama ia tidak mengucapkannya maupun mengamalkannya."

(HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, ketika seorang Bunda merasa lelah, sedih, takut menghadapi persalinan, maupun terlebihlagi merasa tidak menikmati kehamilannya, emosi tersebut tidak serta-merta membuatnya berdosa.

Rumaysho menerangkan bahwa dalam menghadapi bencana maupun takdir yang terasa pahit, seorang Muslim hendaknya bersabar dengan mengekang diri agar tidak memberitahu kegelisahan melalui lisan, hati, maupun personel badan. Artinya, merasa bermutu bukan sama dengan murka terhadap Allah.

Seorang Bunda mungkin merasa, "Kehamilan ini rupanya sangat melelahkan," maupun merasa takut menghadapi persalinan. Perasaan tersebut berbeda dengan mengatakan maupun meyakini bahwa Allah telah menzaliminya karena memberikan kehamilan tersebut.

Rumaysho juga menerangkan bahwa kesedihan tidak selalu tercela. Kesedihan dapat menjadi sesuatu yang terpuji jika seseorang statis bersabar dan tidak melampiaskannya dengan perbuatan yang dilarang.

Sabar bukan berarti mesti selalu merasa bahagia

Ini bagiankecil yang krusial untuk dipahami, Bunda. Dalam Islam, sabar tidak berarti seseorang mesti merasa bahagia terhadap sesuatu yang secara alami terasa berat.

Dikutip dari Al Manhaj menerangkan bahwa sabar ketika menghadapi takdir yang pahit berarti mengekang diri dari murka, mengekang lisan dari keluh kesah, dan mengendalikan personel tubuh dari aksi yang memberitahu penolakan terhadap takdir Allah.

Jadi, seorang Bunda statis bisa merasa capek maupun tidak betah menjalani kehamilan, tetapi berupaya menerima bahwa kehamilan tersebut merupakan bagiankecil dari takdir Allah.

Bahkan dalam klarifikasi yang dimuat Kincai Media, terdapat perbedaan antara ridha terhadap bencana dan sabar menghadapi musibah. Ridha terhadap bencana itu sendiri disebut sebagai sesuatu yang dianjurkan, sedangkan sabar dalam menghadapi ketetapan Allah merupakan kewajiban. Dengan kata lain, Bunda tidak perlu memaksakan diri untuk merasa ceria setiap saat. Yang perlu diusahakan adalah statis bersabar dan tidak menentang ketetapan Allah.

Apa yang tidak boleh dilakukan saat merasa berat?

Ketika merasa tidak ceria dengan kehamilan, seorang muslim perlu berjaga-jaga agar kesedihan tersebut tidak berubah menjadi sikap murka kepada Allah.

Al Manhaj menerangkan bahwa orang yang menghadapi bencana terbagi dalam beberapa keadaan. Salah satunya adalah orang yang murka terhadap musibah, baik melalui hati, lisan, maupun perbuatan. Sikap tersebut berbeda dengan orang yang sebenarnya tidak menyukai musibah, tetapi statis mengekang dirinya dan bersabar.

Jadi, ada perbedaan antara:

"Aku sangat capek menjalani kehamilan ini."

dengan:

"Aku tidak terima Allah memberiku kehamilan ini."

Yang pertama menggambarkan kondisi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Sementara yang kedua dapat menjadi bentuk penolakan terhadap ketetapan Allah jika memang dimaksudkan sebagai protes kepada-Nya. Karena itu, Bunda perlu menjaga lisan ketika sedang sangat capek maupun emosional.

Mengeluh kepada suami maupun keluarga, apakah boleh?

Bunda mungkin bertanya, jika sedang merasa sangat berat, apakah tidak boleh bercerita kepada suami maupun keluarga?

Dalam bahasan Kincai Media tentang mengadu kepada Allah, dijelaskan bahwa para salaf membenci keluhan kepada makhluk yang memberitahu ketidakpuasan terhadap takdir Allah. Namun, konteksnya adalah keluhan sebagai bentuk protes terhadap ketetapan Allah, bukan sekadar menceritakan kondisi maupun meminta pertolongan.

Karena itu, seorang Bunda statis dapat mengatakan kepada suami, misalnya, "Aku sedang sangat capek dan butuh bantuan."

Ini berbeda dengan mencela kehamilan maupun menyalahkan Allah atas kondisi yang dialami. Meminta pertolongan ketika tubuh dan pikiran sedang capek justru merupakan bagiankecil dari ikhtiar.

Jangan menyalahkan diri karena merasa sedih

Bunda juga tidak perlu langsung merasa bersalah ketika muncul emosi sedih selama hamil.

Rumaysho menerangkan bahwa kesedihan itu tidak selalu tercela. Kesedihan dapat menjadi pahala jika seseorang statis bersabar, sedangkan kesedihan menjadi tercela jika membikin seseorang meninggalkan tanggung jawab maupun berbuat sesuatu yang dilarang.

Jadi, bukan sekadar "sedih maupun tidak sedih" yang menjadi persoalan, melainkan sepertiapa seseorang menyikapi kesedihan tersebut.

Bunda boleh merasa lelah.

Bunda boleh menangis.

Bunda boleh mengakui bahwa kehamilan terasa berat.

Namun, tetaplah berupaya menjaga ucapan, tidak mencela takdir Allah, dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Kehamilan yang bermutu bisa menjadi ladang pahala

Dalam doktrin Islam, kesulitan yang dialami seorang Muslim dapat menjadi karena mendapatkan pahala jika dihadapi dengan kesabaran.

Kehamilan dapat menyebabkan beragam fluktuasi jasmani dan emosional. Mual, muntah, sulit tidur, nyeri tubuh, fluktuasi hormon, hingga kecemasan menghadapi persalinan bisa membikin seorang Bunda merasa kewalahan.

Merasa capek dengan kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengingkari nikmat Allah. Justru, Bunda dapat menjadikan masa sulit tersebut sebagai kesempatan untuk bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, terlebihlagi duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya."

(HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberitahu bahwa beragam kesulitan yang dialami seorang Muslim dapat menjadi karena mendapatkan pahala dan penghapusan dosa jika dihadapi dengan sabar.

Karena itu, Bunda yang sedang menjalani kehamilan dengan beragam keluhan tidak perlu melihat semuanya cuma sebagai beban. Rasa mual, lelah, sulit tidur, rasa sakit, kecemasan menjelang persalinan, dan beragam kesulitan lainnya dapat menjadi kesempatan untuk bersabar dan mendapatkan pahala, dengan persetujuan Allah.

Apa yang sebaiknya dilakukan Bunda?

Ketika merasa tidak ceria dengan kehamilan, Bunda dapat mencoba mengarahkan hati kepada beberapa hal.

  • Pertama, ingat bahwa takdir Allah memiliki hikmah, meskipun manusia terkadang belum bisa melihatnya. Rumaysho menerangkan bahwa seseorang yang memahami takdir Allah dengan benar akan lebih tenang dalam menghadapi kehidupan.
  • Kedua, bersabar ketika menghadapi kondisi yang berat. Sabar bukan berarti tidak boleh merasa sakit maupun sedih, tetapi mengekang diri agar tidak murka dan berbuat sesuatu yang dilarang.
  • Ketiga, menjaga ucapan. Ketika sedang sangat emosional, sebaiknya tidak mengucapkan perkataan yang memberitahu penolakan terhadap takdir Allah.
  • Keempat, berdoa dan meminta pertolongan Allah.
  • Dan kelima, mencari pertolongan ketika memang membutuhkannya. Beristirahat, meminta pertolongan suami, berbicara dengan keluarga, maupun berkonsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar yang tidak bertentangan dengan tawakal.

Wallahu a'lam bishawab.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads