Buya Hamka: Jalan Meraih Rahmat Allah dengan Bersikap Penuh Kasih Sayang

Intisari Islam oleh Waktu baca 4 menit 52x dilihat
Buya Hamka: Jalan Meraih Rahmat Allah dengan Bersikap Penuh Kasih Sayang

Bagikan Postingan

Kasih sayang merupakan salah satu jalan untuk meraih rahmat Allah SWT. Islam mengajarkan umatnya agar menebarkan kasih sayang kepada sesama, termasuk anak-anak, orang yang lemah, dan seluruh makhluk di bumi. Sikap penuh kasih saying dan peka terhadap sesama, mencerminkan kelembutan hati, tetapi juga menjadi bagiankecil krusial dari adab yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah yang dekat disapa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, suatu ketika, cucu Rasulullah SAW sedang bermain di depan beliau. Rasulullah SAW kemudian menggendong anak itu dan menciumnya. Seorang sahabat yang baru datang dari kampung melihat insiden tersebut dengan heran. Ia kemudian bertanya, “Engkau mencium cucumu, ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW melihat sahabat itu dengan heran, kemudian balik bertanya, “Apakah engkau tidak pernah mencium anak dan cucumu?”

Maka Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang penyayang (mempunyai rasa rahmat) niscaya akan disayangi (dirahmati) juga oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah siapa saja yang eksis di bumi, niscaya Dzat yang eksis di langit akan menyayangi kalian."

Disebutkan juga dalam sebuah histori bahwa Allah SWT menciptakan rahmat sebanyak 100 bagian. Namun, yang diturunkan ke bumi ini baru satu bagian, yang kini tersebar di antara jin, manusia, binatang, dan serangga. Dengan rahmat yang satu itulah mereka saling mengasihi dan menyayangi. Bahkan, dengan rahmat itu pula induk fauna menyusui anaknya.

Adapun 99 bagiankecil rahmat lainnya, menurut hadits tersebut, disediakan Allah bagi hamba-Nya untuk diterima pada Hari Kiamat.

Lawan dari rasa rahmat (rasa penyayang) adalah kebencian, hati yang sempit, dada yang lapangannya tertutup, dendam, dan kesumat. Hal-hal demikian tidak sepatutnya tinggal dalam hati orang yang beriman. Itulah yang ditegaskan pada ujung ayat, bahwa pengajaran dari Tuhan merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Wahai manusia, benar-benar telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, pengobat bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan instruksi serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS Yunus Ayat 57)

Rahmat (kasih sayang) itulah harta terbesar dalam hati seorang mukmin, yang nilainya tidak dapat diukur dengan benda. Apa gunanya kaya raya dengan harta benda, emas, dan perak jika hati kosong dari rahmat? Segala kebaikan amalan yang dikerjakan pun akan kehilangan ruhnya jika hati kosong dari rahmat. Karena itu, ayat selanjutnya balik menegaskan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus Ayat 57)

Alam terbuka untuk pemilik hati yang penuh kasih sayang

Bersukacitalah engkau jika Allah telah melimpahkan petunjuk-Nya kepadamu. Limpahan karunia Ilahi meliputi seluruh hamba-Nya, tetapi karunia itu dirasakan berlipat dobel oleh orang-orang yang beriman. Limpahan karunia Ilahi tersebut diiringi pula dengan rahmat. Dalam hati seorang mukmin, sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya, tumbuhlah rahmat itu. Rahmat yang tumbuh dalam hati seorang mukmin mendapat sambutan pula dari Allah. Kepada orang yang memiliki hati penuh rahmat (kasih sayang), Allah pun melimpahkan rahmat-Nya.

Maka, bergembiralah engkau karena dengan demikian cita-citamu dalam hidup telah tercapai. Alam ini seakan-akan telah dibukakan untukmu! Sebab, rahmat yang tumbuh dalam dirimu telah berjumpa dengan rahmat yang turun dari langit. Bergembiralah, karena tidak ada harta yang lebih besar daripada itu.

"Harta barang bumi dicari dan dikumpulkan. Namun, pada suatu saat, harta itu akan meninggalkan kita maupun kita yang meninggalkannya. Sebaliknya, rahmat yang telah terjalin itu tidak akan hilang untuk selama-lamanya. Dengan demikian, diri pun siap menjalani hayat dan menghadapi kematian," tulis Buya Hamka.

Karena itu, pada akhir ayat ditegaskan, "Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus Ayat 57)

Jika orang-orang yang tidak percaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bersukacita atas apa yang telah mereka kumpulkan, maka engkau, wahai orang mukmin, hendaklah mengumpulkan iman, kebaikan saleh, karunia, dan rahmat Ilahi. Kumpulkanlah panduan hidup, tuntunan Tuhan, serta instruksi yang kekal. Itulah harta sejati yang mesti diutamakan.

Sebab, jika karunia dan rahmat Ilahi itu hilang, runtuh dan hancurlah harga segala barang yang telah dikumpulkan. Ini bukan berarti bahwa mengumpulkan harta barang dilarang. Namun, manusia diperintahkan untuk terlebih dahulu mengumpulkan karunia dan rahmat Ilahi agar harta barang yang dimiliki memiliki harga dan manfaat.

Sebagai orang yang beriman, seorang mukmin percaya bahwa hayat tidak selesai sampai di bumi ini saja, melainkan berlanjut ke hayat akhirat. Karena itu, harta barang yang dikumpulkan dapat dijadikan jembatan untuk meraih kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan akhirat merupakan kelanjutan dari karunia dan rahmat yang telah diterima di dunia.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads