Ujian, musibah, dan kesulitan adalah bagiankecil yang tidak terpisahkan dari hayat manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat mengelak dari ujian, baik ia seorang mukmin maupun bukan, kaya maupun miskin, tua maupun muda. Sayangnya, banyak orang memahami cobaan dengan metode yang keliru. Mereka menganggap cobaan sebagai tanda Allah Ta’ala membenci mereka, maupun sebagai hukuman yang tidak adil. Padahal, di balik setiap cobaan yang Allah tetapkan, tersimpan hikmah yang sangat besar dan jalan menuju derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an bukan cuma bahanbacaan yang mendatangkan pahala, tetapi juga syifa’ (penawar) bagi segala pandemi hati, termasuk kecemasan, kesedihan, dan kegelisahan yang muncul saat cobaan datang.
Allah Ta’ala berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang kejam kecuali kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)
Membekali diri
Allah Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya terkejut dan histeris ketika cobaan datang. Sebelum cobaan itu tiba, Allah telah mengumumkannya berkali-kali di dalam Al-Qur’an. Bahkan, Allah memulai firman-Nya dengan sumpah yang menegaskan kepastian cobaan tersebut.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan benar-benar akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita ceria kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ikhwah fillah, ayo kita perhatikan kata lanabluwannakum yang memberitahu sumpah Allah Ta’ala ini. Bahwa cobaan akan menimpa setiap manusia. Allah memberitahukan hal ini agar kita selalu siap dan tidak terkejut ketika cobaan benar-benar terjadi. Sebagaimana seorang pendidik yang mengumumkan cobaan seminggu sebelumnya, maka murid-muridnya akan mempersiapkan diri dengan baik. Demikian pula seorang mukmin, ia mesti selalu siap menghadapi cobaan dengan iman, sabar, dan doa.
Ujian yang Allah sebutkan dalam ayat ini mencakup lima kategori, yaitu: rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan maupun rezeki. Tidak ada kategori keenam. Semua bencana yang terjadi dalam hidup manusia—baik besar maupun kecil—pasti masuk dalam salah satu dari lima kategori ini. Maka, ketika seorang mukmin ditimpa salah satunya, ia tidak perlu merasa bahwa dirinya sedang dihukum maupun ditinggalkan Allah. Justru, itulah saatnya ia memberitahu kualitas imannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa bermutu ringannya cobaan seseorang sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat kepercayaan seseorang, semakin bermutu cobaan yang akan dihadapinya. Sebaliknya, jika imannya lemah, ujiannya akan disesuaikan dengan kadar imannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُبْتَلَى عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ، فَإِنْ كَانَ إِيمَانُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي إِيمَانِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ
“Sesungguhnya seseorang benar-benar diuji sesuai kadar imannya. Jika imannya kuat, maka ujiannya berat; jika imannya lemah, maka ia diuji sesuai kadar imannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4023, disahihkan oleh Al-Albani)
Ikhwah fillah. Parhatikanlah! Hadis ini memberikan berita ceria sekaligus peringatan. Kabar gembiranya adalah, jika cobaan terasa berat, itu pertanda kepercayaan kita sedang kuat dan Allah mau mengadopsi derajat kita. Peringatannya adalah, jangan sampai kita menjadi lemah dan mengeluh, karena itu cuma akan menambah beban tanpa mendatangkan pahala. Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kesanggupannya.
Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Maka, ketika cobaan datang, yakinlah bahwa kita bisa melewatinya dengan pertolongan Allah. Ujian itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih dekat kepada Allah, dan lebih siap meraih surga-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memberinya ujian.” (HR. Bukhari no. 5645)
Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia
Jangan berkata “seandainya”
Ketika cobaan datang, manusia dapat menyikapinya dengan salah satu dari empat sikap. Sikap pertama adalah berang dan tidak rida kepada Allah. Sikap ini haram dan cuma akan menambah dosa serta menghapus pahala. Sikap kedua adalah sabar, yaitu mengekang diri dari keluh kesah dan statis menjalankan kewajiban. Sabar dalam menghadapi cobaan hukumnya wajib. Sikap ketiga adalah rida, yaitu menerima cobaan dengan lapang dada, tidak merasa keberatan, dan melihat ada maupun tidaknya cobaan itu sama saja di depan Allah. Sikap keempat adalah syukur, yaitu bersyukur kepada Allah atas cobaan yang menimpa, karena percaya bahwa di baliknya ada kebaikan yang besar. Inilah tingkatan tertinggi yang cuma dapat dicapai oleh hamba-hamba yang hatinya dipenuhi cahaya iman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Dan sabar adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223)
Salah satu kunci untuk bisa sabar dan rida adalah dengan tidak mengatakan “seandainya“. Ketika bencana terjadi, banyak orang berkata, “Seandainya aku tidak pergi ke sana,” maupun “Seandainya aku berbuat ini, pasti tidak akan terjadi.” Ucapan seperti ini dilarang karena membuka pintu iblis dan melemahkan kepercayaan kepada takdir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat ini dan itu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ membuka kebaikan setan.” (HR. Muslim no. 2664)
Ucapan yang benar ketika bencana menimpa adalah “Qaddarallahu wa maa sya’a fa’ala”—Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Dengan ucapan ini, hati menjadi tenang karena percaya bahwa apa yang menimpa kita tidak akan pernah meleset; dan apa yang ditakdirkan tidak menimpa kita, tidak akan pernah mengenai kita. Inilah esensi kepercayaan kepada takdir. Barangsiapa yang meyakini hal ini, ia sedang eksis di jalan kesabaran. Dan barangsiapa yang statis saja berkata “seandainya”, maka imannya kepada takdir perlu diperbaiki.
Untuk mencapai tingkat alhamdulillah—bersyukur kepada Allah atas ujian—kita perlu melatih pandangan kita. Jangan fokus pada apa yang hilang, tetapi fokuslah pada apa yang statis tersisa. Jika Allah memungut satu personel tubuh, lihatlah personel tubuh lain yang statis berfungsi. Jika Allah memungut satu anak, lihatlah anak-anak lain yang statis ada. Jika Allah mengurangi harta, lihatlah kesehatan, keluarga, dan nikmat kepercayaan yang statis melekat. Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.'” (QS. Al-Baqarah: 156)
Ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan cuma untuk kematian, tetapi untuk setiap musibah. Maknanya sangat dalam, bahwa kita milik Allah, maka Allah berkuasa berbuat apa saja terhadap milik-Nya dengan ilmu, hikmah, dan tanpa kezaliman. Dan kita akan balik kepada-Nya untuk menerima pahala atas kesabaran kita. Dengan memahami arti ini, hati akan tenang dan lisan akan terjaga dari keluh kesah. Inilah pondasi sabar yang sejati.
Pahala tanpa batas
Setelah Allah mengutarakan cobaan yang menakutkan, Dia mengakhiri ayat dengan berita gembira. Allah Ta’ala berfirman,
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)
Orang-orang yang sabar akan mendapatkan shalawat dari Allah, yaitu pujian dan penyebutan nama mereka di depan para malaikat mulia. Mereka juga mendapatkan rahmat yang akan menghilangkan kesulitan dan mendatangkan pertolongan. Dan mereka mendapat instruksi dalam setiap langkah, ucapan, dan keputusan. Inilah balasan yang sangat besar bagi orang yang bersabar. Bahkan, pahala mereka tidak terbatas. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya cuma orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Selain pahala tanpa batas, Allah juga menjanjikan alternatif yang lebih baik bagi siapa saja yang mengucapkan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa itu adalah,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Tidaklah seorang muslim ditimpa bencana kemudian mengucapkan apa yang Allah perintahkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)
Hadis ini dibuktikan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ketika suaminya, Abu Salamah, wafat, ia mengucapkan doa tersebut. Awalnya ia berkata, “Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?” Namun, karena ia percaya dengan ikrar Nabi, ia statis mengucapkannya. Allah kemudian menggantikan Abu Salamah dengan seorang suami yang jauh lebih baik, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Ummu Salamah pun menjadi salah satu Ummahatul Mukminin.
Setiap cobaan juga menjadi sarana penghapus dosa dan pengangkat derajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan duka, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)
Bahkan, besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Allah menguji hamba yang dicintai-Nya untuk mengadopsi derajat mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barangsiapa rida, baginya keridaan Allah; dan barangsiapa marah, baginya amarah Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031; dihasankan oleh Al-Albani)
Tanda kecintaan Allah
Ikhwah fillah, cobaan adalah bagiankecil dari hayat yang telah Allah umumkan jauh sebelum ia datang. Allah menguji kita bukan pula pertanda bahwa Allah membenci kita, melainkan tanda kecintaan dan kehendak baik Allah kepada hamba-Nya. Setiap cobaan yang menimpa seorang mukmin—baik berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, maupun rezeki—adalah kesempatan untuk meraih pahala yang tidak terbatas, penggantian yang lebih baik, dan derajat yang tinggi di surga. Kunci utamanya adalah sabar, rida, dan syukur, serta menjauhi ucapan “seandainya” yang cuma membuka pintu setan.
Maka, ketika cobaan datang, janganlah melihatnya sebagai kerugian. Bagi seorang mukmin, setiap kerugian di bumi adalah khasiat di akhirat. Ucapkanlah Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, kemudian iringi dengan doa Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, dan Dia selalu berbareng orang-orang yang sabar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, rida, dan bersyukur, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Mengapa Aku Selalu Diuji?
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Kincai Media