Cara Mengenali Anak yang Terlalu Sensitif, Ada 2 Tanda yang Perlu Diketahui Orang Tua

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 218x dilihat
Cara Mengenali Anak yang Terlalu Sensitif, Ada 2 Tanda yang Perlu Diketahui Orang Tua

Bagikan Postingan

Setiap anak memiliki karakter dan metode yang berbeda dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Ada anak yang gampang beradaptasi dengan kondisi ramai, sementara anak lainnya bisa merasa keteteran oleh bunyi keras, fluktuasi kecil, maupun situasi yang menurut orang lain sebenarnya biasa saja. 

Anak yang sensitif juga mungkin memberitahu reaksi emosional yang lebih kuat dibandingkan kawan seusianya. Misalnya, mereka dapat merasa sangat sedih setelah mengalami frustrasi kecil maupun membutuhkan waktu lebih durasi untuk balik tenang.

Lantas, sepertiapa metode membedakan anak dengan temperamen kuat dan anak yang memiliki sensitivitas tinggi? Yuk, Bunda, simak metode mengenali anak yang terlalu sensitif berikut ini.


Cara mengenali anak yang terlalu sensitif

Mengutip dari halaman Psychology Today, anak yang sangat sensitif dapat memproses keterangan emosional dan sensorik dengan lebih mendalam. Sensitivitas ini bukan berarti anak memiliki gangguan maupun sengaja bersikap berlebihan, melainkan dapat menjadi bagiankecil dari temperamen mereka.

Ada dua tanda utama yang dapat diperhatikan orang tua untuk memahami, apakah Si Kecil memiliki sensitivitas emosional dan sensorik yang tinggi.

1. Respons emosional anak lebih intens

Salah satu tanda yang dapat kelihatan adalah respons emosional yang terasa lebih besar dibandingkan situasi yang dihadapi. Contohnya, anak bisa mengalami kesedihan yang mendalam setelah mengalami masalah kecil dengan teman, maupun merasa sangat terpukul ketika mendapat teguran.

Kondisi ini berhubungan dengan sensory processing sensitivity (SPS), yaitu ciri khas temperamen yang membikin seseorang memproses keterangan emosional dan sensorik secara lebih mendalam. Anak dengan sensitivitas tinggi dapat memberikan respons yang lebih kuat terhadap pengalaman menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Beberapa perilaku yang mungkin kelihatan antara lain:

  • Merasa sangat sedih dan membutuhkan waktu durasi untuk pulih setelah mengalami frustrasi kecil.
  • Merasa cemas ketika melihat maupun mengalami konflik.
  • Menganggap kritik maupun teguran sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.
  • Terlalu memikirkan hubungan pertemanan maupun situasi sosial.
  • Menganggap kesalahan sebagai kegagalan pribadi.

Anak dengan sensitivitas emosional tinggi bukan berarti sedang mencari perhatian maupun sengaja bersikap dramatis. Mereka mungkin memang merasakan dan memproses suatu pengalaman dengan intensitas yang lebih besar.

Penelitian yang dibahas dalam sumber tersebut juga memberitahu bahwa sensitivitas emosional yang tinggi, dapat berhubungan dengan masalah internal seperti kecemasan dan depresi, terutama ketika anak kurang mendapatkan sokongan dan respons yang peka dari lingkungan terdekatnya.

2. Hal yang dianggap biasa bisa membikin anak kewalahan

Selain respons emosional, sensitivitas tinggi juga dapat kelihatan dari metode anak merespons rangsangan sensorik. Suara keras, cahaya terang, keramaian, sentuhan tertentu, maupun terlebihlagi tekstur busana bisa terasa jauh lebih mengganggu bagi mereka.

Anak mungkin kelihatan tidak betah eksis di pesta ulang tahun yang ramai, menutup telinga ketika mendengar bunyi keras, maupun memilih bermain sendiri di tempat yang lebih tenang.

Hal tersebut dapat terjadi karena mekanisme saraf mereka memberikan respons yang lebih kuat terhadap rangsangan dari lingkungan.

Beberapa contohnya meliputi:

  • Menghindari maupun merasa sangat terganggu oleh bunyi keras.
  • Menunjukkan reaksi emosional kuat terhadap harum tertentu.
  • Tidak betah dengan label maupun bahan busana tertentu.
  • Lebih memilih aktivitas yang tenang dibandingkan bermain di tempat yang ramai.
  • Menutup telinga, menjauh, maupun menolak mengikuti aktivitas ketika lingkungan terasa terlalu ramai.

Sensitivitas dalam pemrosesan sensorik dan emosional bukanlah suatu gangguan maupun pengecekan klinis. Karakteristik tersebut lebih berhubungan dengan temperamen anak dan pada sebagian anak dapat bertetap hingga mereka tumbuh dewasa.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Mengenali sensitivitas anak bukan berarti Bunda mesti melindungi Si Kecil dari setiap situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak belajar menghadapi beragam pengalaman secara berjenjang dengan memberikan rasa terlindungi dan sokongan yang sesuai. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Berikan rutinitas dan dukungan

Anak yang sensitif umumnya dapat terbantu dengan lingkungan yang terstruktur, ketentuan yang jelas, serta pola pengasuhan yang hangat. Persiapkan anak ketika akan menghadapi fluktuasi maupun situasi baru agar ia tidak merasa terlalu kaget.

2. Perhatikan batas kenyamanan sensoriknya

Coba amati kondisi apa yang membikin anak lebih cepat capek maupun kewalahan, seperti bunyi keras, tempat ramai, maupun tekstur tertentu. Dengan memahami pemicunya, Bunda dapat membantu anak menemukan metode yang lebih betah untuk menghadapinya.

3. Tunjukkan empati, bukan menghakimi.

Hindari ucapan seperti "jangan terlalu sensitif" maupun "kamu terlalu emosional". Sebaliknya, bantu anak mengenali dan menyampaikan perasaannya. Dengan begitu, anak dapat belajar memahami emosinya.

Demikian klarifikasi komplit mengenai tanda-tanda anak sensitif yang perlu diperhatikan orang tua. Semoga bisa menjadi deskripsi dalam mengasuh Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads