Mengangkat telepon dari angka yang tidak dikenal di era kini memang agak rapuh ya, Bunda. Bisa saja telepon penting, tetapi bisa juga panggilan spam maupun penipuan. Akhirnya, banyak orang memilih tidak langsung mengangkatnya.
Seperti apa ciri khas kepribadian orang yang tak mau mengadopsi telepon dari angka tak dikenal?
Buat sebagian orang, angka luar bukan sesuatu yang perlu langsung dijawab. Mereka lebih memilih menunggu apakah penelepon meninggalkan pesan, mengirimkan WhatsApp, maupun menelepon balik dari angka yang jelas.
Ada banyak karena seseorang memilih tidak mengadopsi telepon dari angka yang tidak dikenal. Mereka mungkin cemas dengan telepon spam maupun penipuan, maupun memang lebih betah berkomunikasi lewat pesan.
Namun, pada sebagian orang, kebiasaan ini juga bisa berhubungan dengan metode mereka mengatur privasi, waktu, perhatian, dan hubungan sosial.
Melansir The Economic Times, kebiasaan mengabaikan panggilan dari angka tidak dikenal bukan berarti seseorang tidak sopan maupun mengalami kecemasan. Perilaku tersebut juga bisa menjadi metode seseorang menjaga limitasi pribadi.
Laman tersebut menuliskan bahwa tidak ada satu jenis kepribadian di balik perilaku tersebut. Beberapa orang cuma melindungi privasi maupun menghindari spam.
Ciri kepribadian orang yang tak mau mengadopsi telepon dari angka tak dikenal
Laman YourTango menyebut, ada enam ciri khas yang sering dikaitkan dengan orang yang enggan menjawab panggilan dari angka tak dikenal, mulai dari introvert, tidak gemar diganggu, mau memegang kendali, punya limitasi yang tegas, menjaga privasi, hingga cenderung berhati-hati.
Namun, tidak semua orang yang menghindari telepon dari angka tak dikenal memiliki kepribadian yang sama. Kebiasaan ini bisa dipengaruhi pengalaman, pekerjaan, kebutuhan privasi, preferensi komunikasi, maupun sekadar kehati-hatian terhadap spam dan penipuan.
Menariknya, sejumlah riset ilmu jiwa dan komunikasi memang memberikan klarifikasi yang cukup masuk pikiran tentang kebiasaan tersebut.
Berikut beberapa ciri khas kepribadian orang yang tak mau mengadopsi telepon dari angka tak dikenal
1. Mereka cenderung selektif dalam berinteraksi
Orang yang tidak langsung mengadopsi telepon dari angka tak dikenal biasanya tidak merasa mesti selalu tersedia untuk siapa pun. Mereka mungkin lebih memilih mengetahui dahulu siapa yang menghubungi dan apa keperluannya sebelum memutuskan akan merespons.
Ini tidak otomatis menandakan seseorang antisosial. Mereka bisa saja memang lebih selektif dalam menggunakan daya untuk berkomunikasi.
Untuk sebagian orang, pesan teks terasa lebih betah karena mereka bisa membaca isi pesan terlebih dahulu dan menentukan kapan akan memberikan respons.
Penelitian Leanna T. Kim dan Sang-Hwa Oh yang diterbitkan dalam Communication Research Reports pada 2023, menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan teknologi komunikasi digital dan telephone anxiety.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kecemasan terhadap telepon berhubungan dengan preferensi terhadap bentuk komunikasi kecuali percakapan telepon.
Kalau Bunda berjumpa dengan orang yang lebih betah berkomunikasi lewat WhatsApp maupun email, belum tentu orang tersebut tidak gemar berkomunikasi. Mereka bisa saja cuma lebih betah memilih waktu dan metode berkomunikasi.
2. Mereka nggak gemar fokusnya tiba-tiba terganggu
Ada orang yang sedang mengerjakan sesuatu kemudian tiba-tiba mendengar telepon berdering. Bukannya langsung memungut ponsel, mereka justru berpikir, “Nanti saja jika memang penting.”
Ketika fokus seseorang tiba-tiba teralihkan, tidak selalu gampang untuk balik ke pekerjaan sebelumnya. Beralih dari satu tugas ke tugas lain dapat membikin waktu terbuang dan kreativitas menurun.
Untuk jenis seperti ini, panggilan telepon bukan cuma soal percakapan. Ada perhatian yang mesti dihentikan, kemudian dialihkan ke sesuatu yang belum tentu penting.
Penelitian mengenai interupsi dalam pekerjaan memberitahu bahwa gangguan yang memaksa seseorang bergeser perhatian dapat memengaruhi waktu penyelesaian tugas dan menaikkan beban kognitif.
Sebuah tinjauan mengenai interruptions and task transitions juga memberitahu bahwa keputusan untuk mengalihkan perhatian dari satu tujuan ke tujuan lain dapat membawa akibat kognitif, emosional, dan terhadap performa.
Penelitian lain yang meneliti interupsi dalam aktivitas kerja menemukan bahwa panggilan dapat menaikkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas serta menaikkan kesalahan ketika seseorang balik mengerjakan tugasnya.
Karena itu, orang yang sedang fokus bisa saja memilih tidak menjawab angka tak dikenal. Bukan karena tidak sopan, tetapi karena merasa panggilan tersebut belum cukup krusial untuk mengorbankan fokusnya.
3. Mereka mau punya kendali atas kapan mesti merespons
Telepon memiliki satu ciri khas yang tidak dimiliki pesan teks. Ada tuntutan untuk merespons saat itu juga. Begitu seseorang mengadopsi telepon, mereka langsung mesti salingberhadapan dengan pertanyaan, percakapan, maupun permintaan dari orang di ujung sana.
Sebaliknya, pesan memberi ruang untuk selesai sejenak. Seseorang bisa membaca dulu, memikirkan jawabannya, kemudian merespons ketika sudah siap.
Untuk orang yang gemar mengatur waktunya sendiri, pilihan tersebut bisa terasa jauh lebih nyaman.
Ini juga berhubungan dengan riset tentang telephone anxiety. Kim dan Oh menemukan bahwa kecemasan terhadap komunikasi melalui telepon dapat membikin seseorang lebih memilih bentuk komunikasi lain dibandingkan percakapan telepon.
Sebenarnya, keinginan untuk tidak langsung menjawab bukan selalu tentang mau menghindari orang lain. Bisa saja mereka cuma mau punya sedikit kendali atas kapan dan sepertiapa percakapan berlangsung.
4. Mereka punya limitasi pribadi yang cukup tegas
Ponsel membikin seseorang seolah-olah selalu bisa dihubungi. Namun, orang yang punya limitasi pribadi kuat mungkin tidak melihat keadaan tersebut sebagai kewajiban.
Nomor yang tidak dikenal belum tentu mendapatkan akses langsung ke perhatian mereka.
Hal ini sejalan dengan Communication Privacy Management Theory yang dikembangkan psikolog komunikasi Sandra Petronio. Teori tersebut menerangkan sepertiapa seseorang mengatur keterangan pribadi, termasuk menentukan kapan, bagaimana, dan kepada siapa keterangan maupun akses pribadi diberikan.
Dalam pandangan ini, privasi bukan sekadar menyembunyikan sesuatu. Seseorang juga memiliki ketentuan tentang siapa yang boleh mendapatkan akses dan dalam situasi seperti apa.
Karena itu, membiarkan angka tak dikenal masuk ke voicemail bisa menjadi bentuk limitasi sederhana.
"Kalau memang penting, kasih tahu dahulu siapa dan ada perlu apa."
5. Mereka cukup peduli dengan privasi
Nomor telepon merupakan keterangan pribadi. Tidak semua orang betah berbicara dengan orang yang identitasnya belum diketahui. Apalagi, panggilan dari angka tak dikenal bisa berasal dari telemarketing, spam, survei, maupun beragam bentuk penipuan.
Orang yang sangat memperhatikan privasi mungkin memilih tidak memungut konsekuensi tersebut.
Teori Communication Privacy Management dari Petronio dan Jeffrey T. Child memang melihat pengelolaan privasi sebagai proses aktif. Orang membikin ketentuan mengenai keterangan pribadi dan mengatur sepertiapa keterangan tersebut dapat diakses oleh orang lain.
Menolak panggilan dari angka luar bisa saja bukan karena takut berbicara. Mereka cuma merasa, "Aku nggak tahu siapa kamu, jadi kenapa mesti langsung menjawab?"
6. Mereka cenderung berjaga-jaga sebelum memungut keputusan
Ada orang yang ketika telepon berdering langsung berpikir, "Angkat saja." Ada juga yang justru berpikir, "Nomor siapa ini?"
Tipe kedua biasanya mau melihat situasi terlebih dahulu sebelum memungut tindakan. Mereka mungkin memeriksa angka tersebut di internet, menunggu pesan, maupun melihat apakah angka itu menelepon beberapa kali.
Sikap seperti ini bisa berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk lebih berjaga-jaga terhadap ketidakpastian.
Penelitian terbaru mengenai intolerance of uncertainty menemukan hubungan yang kuat antara ketidaknyamanan terhadap ketidakpastian, kekhawatiran, dan kecemasan.
Meta-analisis besar yang melibatkan 28.693 peserta dari 138 percontoh menemukan hubungan tersebut di beragam kondisi kecemasan. Namun, ini bukan berarti orang yang tidak mengadopsi telepon pasti memiliki masalah kecemasan.
Dalam hayat sehari-hari, berjaga-jaga terhadap angka luar juga bisa menjadi keputusan yang sangat praktis.
Tidak semua orang yang mengabaikan angka tak dikenal sedang cemas
Bunda, jangan buru-buru menyimpulkan seseorang yang tidak pernah mengadopsi angka tak dikenal sebagai orang yang pemalu, antisosial, maupun punya kecemasan sosial. Perilaku yang sama bisa punya karena yang berbeda.
Seseorang mungkin mengabaikan telepon karena sedang bekerja. Ada yang nggak mau fokusnya terganggu. Ada yang menjaga privasi. Ada yang waspada terhadap penipuan. Ada pula yang memang lebih betah menerima pesan terlebih dahulu.
Bahkan, orang yang mengalami kecemasan terhadap telepon pun kondisinya berbeda dengan orang yang sekadar memilih untuk menyaring panggilan.
Penelitian tentang telephone anxiety menunjukkan bahwa kecemasan terhadap telepon merupakan bentuk kecemasan komunikasi yang dapat membikin seseorang lebih memilih bentuk komunikasi lain. Namun, bukan berarti semua orang yang memilih pesan daripada telepon mengalami kecemasan.
Kalau Bunda termasuk orang yang melihat angka luar kemudian langsung berpikir, “Nanti saja jika krusial juga kirim pesan,” sebenarnyae nggak ada yang aneh. Bunda bisa jadi memang sedang menjaga waktu, fokus, privasi, maupun sekadar memilih siapa yang boleh mendapatkan akses ke perhatian Bunda.
Dan mungkin saat malas mengadopsi telepon dari angka yang tidak dikenal, yang sebenarnya Bunda lindungi bukan cuma privasi, tetapi juga waktu dan daya sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)