Cara Mengenali Anak yang Tumbuh dari Keluarga Kurang Harmonis lewat Kebiasaannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 39x dilihat
Cara Mengenali Anak yang Tumbuh dari Keluarga Kurang Harmonis lewat Kebiasaannya

Bagikan Postingan

Masa kecil tidak selalu terasa seperti pengalaman yang kurang menyenangkan saat dijalani. Namun, ketika mengingatnya balik saat dewasa, beberapa kebiasaan maupun situasi yang dahulu dianggap biasa mungkin rupanya memberitahu adanya masalah dalam keluarga.

Anak yang tumbuh dalam famili kurang harmonis dapat membawa pengalaman tersebut hingga dewasa melalui beragam kebiasaan, seperti selalu berjaga-jaga saat berbicara maupun sulit mengungkapkan perasaan.

Lantas, apa saja tandanya? Yuk, Bunda, simak 13 metode mengenali anak yang tumbuh dari famili kurang harmonis lewat kebiasaannya berikut ini.


13 Cara mengenali anak tumbuh dari famili kurang harmonis lewat kebiasaannya

Mengutip dari laman Bolde, berikut 13 metode untuk mengenali anak yang tumbuh dari famili kurang harmonis melalui kebiasaannya.

1. Terbiasa berjaga-jaga agar tdak memicu konflik

Anak yang tumbuh di famili yang kerap berkelahi mungkin terbiasa menjaga sikap dan ucapan, agar tidak memicu perselisihan maupun hukuman. Mereka juga bisa menjadi lebih peka terhadap kondisi sekitar dan fluktuasi nada bicara orang lain.

Menurut riset Dr. Christine G. Wilson, paparan terus-menerus terhadap lingkungan yang penuh ketegangan dapat menaikkan kecemasan saat dewasa. 

2. Tidak terbiasa membicarakan perasaan

Dalam famili yang kurang harmonis, membicarakan emosi mungkin dianggap tabu. Anak akhirnya terbiasa memendam emosi karena merasa tidak punya ruang untuk mengungkapkannya.

Kondisi ini dapat membikin mereka kesulitan mengenali emosi sendiri, terbuka kepada orang lain, maupun merasa betah memberitahu kerentanan

3. Batasan pribadi tidak dihargai

Ruang pribadi yang sering dilanggar, seperti buku harian dibaca tanpa persetujuan maupun dipaksa menceritakan hal yang tidak mau dibagikan, memberitahu bahwa limitasi diri tidak dihargai.

Menurut terapis Nedra Glover Tawwab, menghargai limitasi krusial untuk hubungan yang sehat dan kesejahteraan diri.

4. Terbiasa dengan konflik

Jika masa kecil dipenuhi pertengkaran, tangisan, dan konflik, seseorang mungkin terbiasa dengan situasi yang penuh drama. Ketika kondisi kurang harmonis menjadi hal yang biasa, ketenangan justru bisa terasa luar maupun tidak nyaman.

Tumbuh dalam famili seperti ini juga dapat membikin seseorang sulit membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat. 

5. Tanggung jawab terasa berlebihan

Jika sejak kecil mesti menjalankan peran seperti menjadi penengah perselisihan keluarga, mengurus personel keluarga, maupun menjaga adik, hal ini bisa terasa bermutu bagi anak.

Menurut konselor famili Dr. Kim John Payne, tanggung jawab seperti orang dewasa dapat membikin anak kehilangan masa kecilnya.

Anak mungkin merasa mesti cepat dewasa dan kehilangan kesempatan untuk bermain dengan bebas. Saat dewasa, pengalaman tersebut dapat membikin seseorang terbiasa memungut terlalu banyak tanggung jawab hingga mengabaikan dirinya sendiri. 

6. Banyak rahasia dalam keluarga

Tumbuh dalam famili yang penuh rahasia dapat membikin anak merasa bingung dan tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika menyimpan rahasia menjadi hal yang biasa, anak bisa kesulitan mempercayai orang lain dan terbuka kepada mereka.

7. Sering menjadi penengah

Jika sejak kecil sering menjadi penengah saat famili bertengkar, bisa jadi anak terbiasa eksis di lingkungan yang penuh konflik. Menurut psikolog Dr. Susan Heitler, terus-menerus menjadi penengah dapat memicu stres dan kelelahan.

Anak juga bisa merasa berkewajiban atas emosi orang lain, yang menjadi beban berat. Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa, seperti sulit menjauh dari perselisihan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. 

8. Jarang mendengar kata maaf

Jika kata “maaf” jarang terdengar saat tumbuh besar, anak mungkin tidak terbiasa mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan. Saat dewasa, mereka bisa kesulitan meminta maupun menerima permintaan ampun dari orang lain.

9. Tidak memiliki privasi

Jika sejak kecil anak terbiasa tidak memiliki privasi, misalnya orang di rumah masuk tanpa mengetuk pintu, ia bisa kesulitan memahami pentingnya limitasi pribadi. Saat dewasa, kondisi ini dapat membikin seseorang kesulitan menetapkan limitasi maupun merasa bersalah ketika mau menyendiri.

10. Uang sering menjadi masalah

Tumbuh dengan masalah finansial yang terus-menerus dapat membikin seseorang cemas terhadap duit hingga dewasa. Melihat orang tua stres memikirkan faktur bisa menimbulkan rasa takut mengalami kesulitan finansial.

Akibatnya, seseorang mungkin terbiasa menabung berlebihan maupun merasa bersalah saat menggunakan duit untuk diri sendiri. 

11. Merasa seperti orang luar di keluarga

Jika saat kecil sering merasa seperti orang luar di rumah sendiri, hal ini bisa berhubungan dengan kurangnya kedekatan emosional dalam keluarga.

Perbedaan nilai, minat, maupun kurangnya pemahaman dapat membikin anak merasa kesunyian dan tidak dianggap sebagai bagiankecil dari keluarga. Perasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa, seperti sulit merasa betah maupun benar-benar menjadi bagiankecil dari suatu lingkungan.

12. Terbiasa dengan perubahan

Keluarga yang sering bergeser rumah maupun mengalami banyak fluktuasi dapat membikin anak merasa kurang stabil. Saat dewasa, ia mungkin memengaruhi kestabilan, tetapi juga takut dengan komitmen dan sulit merasa benar-benar memiliki tempat untuk pulang.

13. Terbiasa menjadi “orang tua”

Jika sejak kecil lebih sering mengurus maupun menenangkan orang tua daripada menerima perhatian dari mereka, Anda mungkin terbiasa memungut peran sebagai orang tua dalam keluarga. Kondisi ini dapat membikin masa kanak-kanak terasa lebih singkat karena mesti tumbuh dewasa terlalu cepat.

Demikian beberapa ciri-ciri anak anak tumbuh dari famili yang kurang harmonis. Dilihat dari kebiasaanya anak akan menjadi lebih awas hingga tidak terbiasa membicarakan perasaannya. Semoga membantu mengasuh Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads