Banyak orang mengira bahwa seseorang yang memiliki Intelligence Quotient (IQ) tinggi pasti juga pandai dalam memahami emosi orang lain. Padahal, kenyataannya tidak selalu seperti itu, Bunda.
Dalam keseharian, kita tentu pernah berjumpa dengan orang yang sangat pandai dalam pelajaran alias pekerjaan. Namun, saat berinteraksi dengan orang lain, mereka justru kesulitan memahami emosi dan situasi di sekitarnya.
Tidak hanya itu, ada pula orang yang bisa berpikir logis dan menyelesaikan masalah dengan cepat, tetapi kurang peka terhadap emosi orang lain. Sikap dan ucapan mereka pun terdengar dingin alias bikin orang di sekitarnya merasa tidak nyaman.
Berbicara soal ini, ada beberapa langkah mengenali seseorang yang mempunyai IQ tinggi dengan kepintaran emosional rendah dari kalimat yang diucapkan. Simak penjelasan selengkapnya, Bunda.
Cara mengenali seseorang punya IQ tinggi dengan kepintaran emosional rendah dari kalimat yang diucapkan
Dikutip dari laman Your Tango, berikut beberapa ungkapan yang kerap diucapkan oleh orang dengan IQ tinggi, tetapi mempunyai kepintaran emosional yang rendah.
1. "Mana buktinya?"
Orang yang berpikir logis sangat berjuntai pada bukti, seperti halnya dalam metode ilmiah. Mereka susah menerima sesuatu yang tidak didukung oleh bukti yang kuat sehingga memandang suatu perihal secara hitam-putih.
Sebenarnya, kehidupan ini tidak selalu memberikan jawaban yang pasti, Bunda. Dalam situasi tertentu, intuisi juga dibutuhkan, tetapi perihal ini kerap membikin orang pandai merasa tidak nyaman hingga mengucapkan kalimat seperti, "Mana buktinya?".
2. "Itu tidak masuk akal"
Orang yang mempunyai IQ tinggi sangat mengandalkan logika dalam berpikir. Bagi mereka, sesuatu dianggap tidak masuk logika jika tidak logis alias susah dipahami gimana seseorang bisa sampai pada konklusi tersebut.
Dalam kenyataannya, banyak keputusan dibuat berasas emosi, bukan semata-mata logika, Bunda. Karena susah mengikuti langkah berpikir tersebut, orang dengan IQ tinggi tidak mau mencoba memahami perspektif pandang orang lain.
3. "Perasaanmu tidak krusial jika itu tidak benar"
Di tengah banyaknya info yang salah, tetap banyak yang menganggap jika kebenaran dan kebenaran adalah yang penting. Pandangan ini dimiliki oleh orang yang pandai tetapi kurang mempunyai empati terhadap orang lain.
Sebenarnya, emosi juga krusial dalam langkah seseorang belajar dan mengambil keputusan. Emosi dapat berpengaruh pada perspektif pandang seseorang, sehingga emosi tidak bisa begitu saja diabaikan.
4. "Kamu bereaksi berlebihan saat ini"
Psikoterapis asal Amerika Serikat, Ilene S. Cohen, PhD, mengatakan bahwa reaksi berlebihan sering kali tidak hanya dipicu oleh situasi yang sedang terjadi.
Jadi, saat seseorang dianggap bereaksi berlebihan, bisa jadi mereka memang tidak punya banyak kendali atas perasaannya. Namun, orang dengan kepintaran emosional yang rendah tetap menganggap orang lain terlalu berlebihan.
5. "Sebenarnya itu tidak benar"
Biasanya, orang yang sangat pandai suka merasa dirinya paling benar. Mereka apalagi tidak memikirkan emosi orang lain saat mau membuktikan bahwa pendapatnya yang paling tepat.
Mereka juga bisa terang-terangan mengatakan jika kepercayaan dan pendapat seseorang itu keliru hanya untuk menunjukkan kecerdasannya. Padahal, tidak semua keadaan mengharuskan seseorang membuktikan bahwa dirinya 'benar'.
Memang saja, ada situasi di mana ketika kita mengoreksi orang lain itu krusial lantaran rasa peduli dan perhatian. Namun, jika seseorang selalu mau terlihat benar, perihal itu justru menunjukkan rendahnya kepintaran emosional.
6. "Itu sangat sederhana"
Banyak dari kita pernah merasa susah memahami sesuatu, lampau ada orang yang berbicara bahwa perihal itu sebenarnya sangat sederhana. Ucapan seperti ini justru membikin seseorang merasa tidak cukup pintar.
Orang yang suka berbicara seperti ini terlalu 'mengagungkan' dirinya sendiri dan meremehkan orang lain. Meski mempunyai IQ tinggi, mereka tetap kurang mempunyai kepintaran emosional.
7. "Semua orang tahu itu"
Tidak ada perihal yang lebih mengecewakan daripada saat kita baru menyadari sesuatu yang terasa istimewa, lampau ada orang yang langsung berbicara bahwa semua orang sudah mengetahuinya.
Orang seperti ini biasanya tidak menyadari bahwa sesuatu yang menurut mereka sudah 'jelas' belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Karena kurang peka, mereka pun susah memandang perspektif pandang yang berbeda.
Saat seseorang bersikap seperti ini, kecerdasannya justru bisa menjadi sikap yang menyakitkan, Bunda.
8. "Orang-orang tidak berpikir lagi"
Ada orang yang sudah tahu mempunyai IQ tinggi merasa dirinya termasuk golongan yang sangat 'langka'. Mereka menganggap diri mereka cerdas, tetapi memandang banyak orang lain sebagai orang yang tidak pintar.
Jika ada orang yang berpikir berbeda dengan mereka, mereka langsung beranggapan bahwa orang tersebut tidak berpikir dengan baik.
Itulah sebabnya, mereka memandang kehidupan dengan langkah yang berbeda dan merasa bahwa hanya merekalah orang pandai yang tersisa.
9. "Kamu terlalu sensitif soal ini"
Memang ada kalanya emosi berpengaruh pada langkah kita menilai suatu hal. Namun, ada juga orang yang pandai tetapi kurang memahami emosi orang lain, sehingga mereka langsung menilai seseorang terlalu sensitif.
Bunda perlu tahu, orang dengan kepintaran emosional rendah susah untuk mengerti bahwa setiap orang itu mempunyai langkah berbeda dalam menanggapi suatu situasi.
Berkaitan dengan perihal tersebut, terapis hubungan di Amerika Serikat, Ken Page, mengatakan bahwa perihal yang dianggap orang lain sebagai sikap berlebihan justru bisa menjadi perihal yang sangat berfaedah bagi kita.
Jadi, orang yang menegur kita lantaran terlalu 'sensitif' ini mungkin sebenarnya merekalah yang lebih kurang mengetahui topik tersebut.
Itulah beberapa langkah mengenali seseorang yang mempunyai IQ tinggi dengan kepintaran emosional rendah dari kalimat yang diucapkan dalam keseharian.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·