Jakarta -
Kehamilan dapat membawa banyak fluktuasi pada tubuh, termasuk metode kerja otak ibu hamil. Menariknya, fluktuasi tersebut bukan sekadar akibat samping kehamilan, tetapi juga bagiankecil dari proses adaptasi tubuh dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan bayi.
Sejumlah studi mulai mengungkap sepertiapa otak ibu hamil beradaptasi selama proses kehamilan. Misalnya, menurut sebuah studi yang diterbitkan di Nature Neuroscience pada tahun 2024 diketahui bahwa 'hal-hal luar biasa' termasuk fluktuasi pada daerah yang mengenai dengan sosialisasi dan pemrosesan emosi statis kelihatan jelas setelah dua tahun melahirkan.
Studi ini dilakukan berdasarkan 26 pemindaian otak seorang perempuan sehat berumur 38 tahun. Temuan dalam studi ini diharapkan dapat menaikkan pemahaman tentang tanda-tanda mula kondisi seperti depresi pasca persalinan dan preeklamsia.
"Ini adalah peta rinci pertama otak manusia selama masa kehamilan," kata penulis studi dan ahli saraf dari University of California, Santa Barbara, Emily Jacobs, dilansir BBC News.
"Kita belum pernah menyaksikan otak mengalami proses metamorfosis seperti ini. Akhirnya kita bisa mengamati fluktuasi pada otak secara real time," sambungnya.
Perubahan jasmani besar-besaran pada tubuh selama kehamilan sudah dikenal luas, tetapi pemahaman tentang sepertiapa dan kenapa otak berubah statis sangat terbatas. Banyak perempuan mengaku mengalami 'pregnancy brain' maupun 'baby brain' untuk menggambarkan fluktuasi otak yang membikin mereka gampang lupa, linglung, maupun mengalami kabut pikiran.
Otak yang diteliti dalam riset ini adalah milik ilmuwan Elizabeth Chrastil, dari Pusat Neurobiologi Pembelajaran dan Memori di University of California, Irvine. Chrastil sedang merencanakan kehamilan melalui program bayi tabung ketika riset itu sedang dibahas. Setelah hasil riset diterbitkan, Chrastil telah melahirkan seorang putra.
Menurut studi, di hampir 80 persen daerah otak Chrastil, volume materi abu-abu (grey matter) berkurang sekitar 4 persen, dengan cuma sedikit pemulihan setelah kehamilan. Grey matter adalah jaringan yang mengontrol gerakan, emosi, dan ingatan.
Para peneliti mengatakan bahwa fluktuasi tersebut mirip dengan fluktuasi yang terjadi selama masa pubertas. Studi pada fauna pengerat memberitahu bahwa hal itu dapat membikin calon induk lebih sensitif terhadap bau dan cenderung merawat diri serta membikin sarang, maupun mengurus rumah tangga.
"Namun manusia jauh lebih rumit," kata Chrastil.
Chrastil sendiri tidak mengalami 'mommy brain' maupun pikiran kabur karena kehamilan. Tetapi, ia tentu saja merasa lebih capek dan emosional di trimester ketiga.
"Kita dapat menentukan apakah perubahan-perubahan ini dapat membantu memprediksi hal-hal seperti depresi pasca persalinan maupun memahami sepertiapa sesuatu seperti preeklamsia dapat memengaruhi otak," ujar Chrastil.
Studi lain yang ulas soal fluktuasi otak ibu hamil
Dalam studi sebelumnya, para ilmuwan juga pernah mengungkap fluktuasi otak ibu hamil. Namun, proyek riset selama 10 tahun yang dilakukan ilmuwan kesehatan mental di Australian National University di Canberra ini menyimpulkan bahwa sindrom 'baby brain' adalah mitos urban.
Alih-alih mengalami penurunan kapasitas mental dan verbal selama tahap mula menjadi ibu, kapasitas kognitif perempuan justru meningkat ketika mereka hamil. Selain itu, para peneliti mengungkapkan bahwa perbaikan tersebut dapat berkarakter permanen.
"Perempuan sering melaporkan masalah dengan ingatan dan penalaran setelah mereka hamil. Tetapi temuan dari studi kami selama satu dekade, yang paling mendalam dalam meneliti masalah ini, telah membuktikan bahwa masalah tersebut tidak berkarakter permanen," kata peneliti utama, Profesor Helen Christensen, dikutip dari The Guardian.
Temuan Christensen ini memang cukup bertentangan dengan studi lain mengenai fluktuasi otak ibu hamil. Namun, Christensen bersikeras bahwa penelitiannya dapat diandalkan. Dalam studi ini, Christensen mewawancarai 2.500 perempuan berumur 20 hingga 24 tahun, pertama kali pada tahun 1999 dan kemudian pada tahun 2004 dan 2008.
"Kami menemukan bahwa perempuan yang hamil selama wawancara ombak kedua maupun ketiga memberitahu performa yang sama pada tes logika dan memori seperti sebelumnya, dan tidak ada perbedaan antara ibu hamil dan himpunan kontrol," ungkap Christensen.
"Hal ini benar-benar menyisakan pertanyaan terbuka kenapa ibu hamil dan sering kali, pasangan mereka berpikir bahwa mereka memiliki daya ingat yang buruk, padahal bukti terbaik yang kita miliki tidak begitu. Mungkin perempuan memperhatikan sedikit penurunan kapasitas mental dan kemudian mengaitkannya dengan kehamilan karena itu adalah hal yang paling signifikan dalam pikiran mereka saat itu. Atau kurang tidur dapat menutupi efek kognitif positif."
Pendapat Christensen tentang hasil studinya sejalan dengan riset yang dilakukan Dr. Craig Kinsley dari Richmond University di Virginia. Kinsley menemukan bahwa memiliki anak dapat menaikkan ketangkasan mental seumur hidup seorang ibu dan melindungi otaknya dari pandemi neurodegeneratif di usia tua.
"Meskipun seorang perempuan mungkin mengalami penurunan fungsi otak yang tampak saat hamil, ini bisa jadi karena bagian-bagian otaknya sedang dimodifikasi sebagai persiapan untuk menghadapi tuntutan rumit dalam membesarkan anak," ujarnya.
"Perubahan yang terjadi saat itu dapat bertetap seumur hidup, menaikkan kapasitas kognitif dan melindungi mereka dari pandemi degeneratif."
Demikian beberapa studi yang mengungkap soal fluktuasi otak ibu hamil. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)