Cedera PCL: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganan

Klinik Patella Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 10 menit 3x dilihat
Cedera PCL: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganan

Nyeri di bagian belakang dengkul setelah terjatuh, terbentur, alias mengalami kecelakaan sering kali bukan sekadar keseleo biasa. Salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan adalah cedera PCL, ialah gangguan pada salah satu ligamen utama yang menopang sendi lutut. 

Karena letaknya di dalam sendi dan gejalanya tidak selalu mencolok, banyak orang baru menyadari adanya cedera ini setelah kegiatan hariannya mulai terganggu.

Konsultasikan nyeri dengkul dan gangguan sendi Anda dengan master mahir Klinik Patella dengan menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk, atasi radang dengkul dan radang sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Apa Itu Cedera PCL?

Cedera PCL adalah kondisi ketika posterior cruciate ligament, salah satu ligamen penghubung antara tulang paha (femur) dan tulang kering (tibia), mengalami peregangan berlebih alias robekan. 

Pengertian cedera PCL secara medis termasuk dalam golongan cedera ligamen lutut, lantaran ligamen inilah yang menjaga agar tibia tidak bergeser terlalu jauh ke arah belakang saat dengkul bergerak.

Pertanyaan mengenai PCL dengkul adalah apa sering muncul lantaran posisinya yang berada jauh di dalam sendi, sehingga susah diraba alias dilihat dari luar. 

Berbeda dengan cedera pada kulit alias otot permukaan, cedera ligamen PCL baru bisa dipastikan lewat pemeriksaan medis yang lebih menyeluruh.

Secara sederhana, ligamen PCL adalah salah satu dari dua ligamen silang (cruciate) utama di lutut, selain anterior cruciate ligament alias ACL. 

Keduanya bekerja berbareng otot, meniskus, serta ligamen lain seperti medial collateral ligament (MCL) dan lateral collateral ligament (LCL) untuk menjaga sendi dengkul tetap kokoh saat digunakan untuk bergerak.

Anatomi Lutut dan Fungsi PCL

Sendi dengkul merupakan pertemuan antara tiga tulang utama, ialah femur, tibia, dan tempurung dengkul alias patella. Ketiganya disatukan oleh jaringan ligamen dengkul dan dilapisi oleh meniskus, alas tulang rawan yang berfaedah meredam tumbukan saat berjalan, berlari, alias melompat.

Fungsi PCL pada dengkul adalah menahan agar tibia tidak bergeser terlalu jauh ke belakang terhadap femur, terutama ketika dengkul menekuk. 

Bersama ACL yang menahan pergeseran ke arah depan, serta MCL dan LCL yang menjaga stabilitas dari sisi dalam dan luar, PCL berkedudukan besar dalam menjaga sendi dengkul tetap stabil selama kegiatan sehari-hari maupun olahraga.

Karena perannya yang cukup vital, gangguan pada ligamen ini dapat membikin dengkul terasa goyah, terutama saat menahan beban tubuh, menuruni tangga, alias melakukan perubahan arah secara mendadak.

Apa Penyebab Cedera PCL?

Penyebab cedera PCL umumnya berangkaian dengan trauma langsung pada dengkul alias aktivitas yang memaksa tibia bergeser ke belakang secara tiba-tiba. Beberapa situasi yang sering dikaitkan dengan penyebab cedera PCL pada dengkul antara lain:

  • Benturan keras pada bagian depan tulang kering saat dengkul dalam posisi menekuk, misalnya saat dengkul membentur dasbor mobil dalam kecelakaan kendaraan.
  • Terjatuh dengan posisi dengkul tertekuk dan menahan seluruh berat tubuh.
  • Gerakan memutar alias berakhir mendadak saat berolahraga, khususnya pada olahraga yang melibatkan kontak bentuk alias perubahan arah sigap seperti sepak bola, basket, dan futsal.
  • Hiperekstensi lutut, ialah kondisi dengkul yang tertekuk berlebihan ke arah yang tidak wajar.

PCL robek lantaran tumbukan juga dapat terjadi berbarengan dengan cedera ligamen lain, sehingga penyebab ligamen PCL robek tidak selalu berdiri sendiri. 

Pada banyak kasus, cedera PCL lantaran olahraga terjadi berbarengan dengan cedera meniskus alias cedera ACL, terutama pada kegiatan olahraga berintensitas tinggi. 

Sementara itu, cedera PCL akibat kecelakaan lebih sering melibatkan tumbukan langsung dengan style besar dalam waktu singkat, sehingga berisiko menimbulkan robekan yang lebih luas dibandingkan cedera akibat olahraga ringan.

Gejala Cedera PCL yang Perlu Diwaspadai

Gejala cedera PCL dapat bervariasi tergantung tingkat keparahannya, mulai dari ligamen yang hanya meregang hingga robekan total. Beberapa ciri-ciri cedera PCL yang umum dikeluhkan antara lain:

  • Nyeri di bagian belakang lutut, terutama saat dengkul digerakkan alias menahan beban.
  • Lutut bengkak lantaran cedera PCL, meski pada sebagian kasus pembengkakan tidak selalu terlihat berat.
  • Rasa tidak stabil alias goyah pada lutut, terutama saat menaiki alias menuruni tangga.
  • Kesulitan menekuk dengkul secara penuh.
  • Kekakuan pada sendi dengkul setelah beraktivitas.

Tanda PCL robek yang lebih jelas biasanya muncul ketika dengkul terasa “mau ambruk” saat menopang berat badan. Gejala PCL dengkul semacam ini sering membikin penderitanya ragu untuk bertumpu penuh pada kaki yang cedera. 

Mengenai apakah penderita cedera PCL bisa berjalan, jawabannya berjuntai pada derajat robekan; pada cedera ringan, melangkah pelan tetap memungkinkan, sementara pada robekan yang lebih berat, kegiatan ini biasanya terasa nyeri dan tidak nyaman. 

Karena dengkul sakit setelah cedera PCL tidak selalu disertai indikasi yang mencolok, banyak orang menunda pemeriksaan padahal keterlambatan penanganan dapat memperburuk instabilitas dengkul dalam jangka panjang.

Diagnosis Cedera PCL

Diagnosis cedera PCL diawali dengan wawancara medis mengenai sistem cedera, diikuti pemeriksaan bentuk untuk menilai pembengkakan, nyeri tekan, dan rentang mobilitas lutut. 

Pemeriksaan cedera PCL pada tahap ini bermaksud menyingkirkan kemungkinan cedera lain, seperti:

Salah satu tes cedera PCL yang paling umum dilakukan adalah posterior drawer test. Pada pemeriksaan ini, master menekuk dengkul pasien pada perspektif tertentu, kemudian mendorong tulang kering ke arah belakang untuk memandang seberapa jauh pergeserannya dibandingkan sisi yang sehat. Hasil tes ini membantu menilai derajat instabilitas sendi dengkul akibat kerusakan ligamen.

Untuk memastikan langkah mengetahui PCL robek secara lebih akurat, master biasanya merujuk pasien untuk menjalani MRI. 

MRI cedera PCL memberikan gambaran jaringan lunak secara rinci, sehingga dapat memperlihatkan letak dan luas robekan ligamen maupun kemungkinan cedera penyerta pada meniskus. 

Pemeriksaan X-ray juga kerap dilakukan untuk memastikan tidak ada patah tulang yang menyertai cedera. 

Secara keseluruhan, pemeriksaan ligamen PCL yang tepat mengombinasikan riwayat kejadian, pemeriksaan fisik, posterior drawer test, dan pencitraan seperti MRI alias X-ray agar pemeriksaan yang dihasilkan lebih akurat.

Pengobatan dan Penanganan Cedera PCL

Pengobatan cedera PCL disesuaikan dengan tingkat robekan, ada alias tidaknya cedera penyerta, serta kebutuhan kegiatan masing-masing pasien. Pada cedera ringan hingga sedang, penanganan cedera PCL sering kali dapat dilakukan tanpa tindakan bedah.

Cara mengobati cedera PCL pada tahap awal umumnya mengikuti prinsip istirahat, kompres es, elevasi tungkai, serta penggunaan brace dengkul untuk membatasi aktivitas yang berisiko memperparah robekan. 

Tongkat bantu jalan juga bisa disarankan sementara waktu untuk mengurangi beban pada dengkul yang cedera. 

Setelah fase akut mereda, terapi cedera PCL biasanya dilanjutkan dengan fisioterapi cedera PCL secara bertahap, mencakup latihan rentang mobilitas dengkul dan penguatan otot penyangga sendi.

Pertanyaan seputar apakah cedera PCL kudu operasi umumnya dijawab berasas derajat robekan dan tingkat instabilitas lutut. 

Cedera PCL tanpa operasi tetap memungkinkan pada robekan sebagian dengan dengkul yang relatif stabil, asalkan pasien disiplin menjalani rehabilitasi. 

Sebaliknya, operasi cedera PCL alias operasi rekonstruksi PCL lebih dipertimbangkan pada kasus robekan total, cedera dobel pada beberapa ligamen sekaligus, alias ketika penanganan nonoperatif tidak sukses mengembalikan stabilitas dengkul secara memadai.

Periksakan Gangguan Lutut Anda di Klinik Patella

Untuk kondisi yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih mendalam, jasa ahli nyeri dengkul seperti yang tersedia di Klinik Patella dapat menjadi pilihan utama. 

Klinik ini berfokus pada penanganan gangguan sendi lutut, termasuk cedera ligamen seperti PCL, ACL, MCL, maupun LCL, dengan didukung akomodasi pemeriksaan.

Klinik Patella  menawarkan pemeriksaan dengan MRI dengkul serta pilihan penanganan mulai dari fisioterapi hingga prosedur minim invasif seperti arthroscopy bagi kasus yang memerlukan pertimbangan lebih rinci sebelum menentukan langkah operasi.

Pendekatan semacam ini umumnya cocok untuk pasien yang sudah mengalami indikasi berkepanjangan, ketidakstabilan dengkul yang mengganggu aktivitas, alias yang mau memastikan pemeriksaan sebelum memutuskan jenis penanganan lebih lanjut. 

Salah satu master ahli ortopedi yang menangani kasus cedera ligamen dengkul di Klinik Patella adalah dr. Windi Martika, Sp.OT sebagai master ahli gangguan tulang dan sendi, termasuk cedera pada ligamen lutut.

Proses Pemulihan dan Rehabilitasi

Pemulihan cedera PCL tidak berjalan dengan lama yang sama pada setiap orang. Berapa lama cedera PCL sembuh dipengaruhi oleh derajat robekan, usia, kondisi otot sebelum cedera, serta kepatuhan menjalani program rehabilitasi. 

Pada umumnya, lama pemulihan cedera PCL untuk robekan ringan berkisar beberapa minggu, sementara robekan yang lebih berat bisa memerlukan waktu beberapa bulan.

Pada kasus yang memerlukan tindakan bedah, waktu pemulihan setelah operasi PCL condong lebih panjang lantaran dengkul memerlukan fase pengobatan jaringan terlebih dulu sebelum memasuki tahap penguatan otot. 

Latihan setelah cedera PCL biasanya dimulai dari aktivitas pasif untuk menjaga rentang mobilitas lutut, lampau bersambung ke latihan penguatan otot paha dan betis guna menopang stabilitas sendi.

Rehabilitasi cedera PCL yang dijalankan secara berjenjang dan konsisten bermaksud mengembalikan kekuatan otot, stabilitas lutut, serta keahlian melakukan kegiatan sehari-hari tanpa rasa nyeri berlebihan. 

Dalam program rehabilitasi pascaoperasi, pertimbangan rutin diperlukan untuk memantau perkembangan pemulihan. 

Adapun kapan bisa olahraga setelah cedera PCL sepenuhnya berjuntai pada hasil pertimbangan medis, termasuk kekuatan otot dan stabilitas dengkul saat menahan beban maupun aktivitas dinamis.

Cedera PCL vs ACL: Apa Bedanya?

Cedera PCL vs ACL kerap dibandingkan lantaran keduanya berada di tengah sendi dengkul dan sama-sama berkedudukan menjaga stabilitas gerak. Namun jika ditanya PCL dan ACL apakah sama, jawabannya berbeda. 

Perbedaan cedera PCL dan ACL terletak pada arah pergeseran tulang kering yang dicegah oleh masing-masing ligamen. ACL berfaedah mencegah tibia bergeser ke depan, sedangkan PCL mencegah tibia bergeser ke belakang.

Perbedaan ini turut memengaruhi sistem cedera keduanya. Cedera ACL lebih sering terjadi akibat aktivitas memutar mendadak alias perubahan arah cepat, sedangkan cedera PCL lebih banyak dipicu oleh tumbukan langsung pada dengkul yang tertekuk. 

Soal cedera PCL lebih parah dari ACL, tidak ada jawaban yang bertindak untuk semua kasus, lantaran tingkat keparahan sebenarnya lebih ditentukan oleh derajat robekan, ada tidaknya cedera ligamen lain yang menyertai, serta seberapa besar gangguan terhadap kegunaan dengkul sehari-hari.

Jangan biarkan nyeri dengkul mengganggu kegiatan harian Anda. Hubungi Klinik Patella melalui Watsapp di 0811-8124-2022 untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dengkul Anda.

Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik

“Deteksi awal nyeri dengkul adalah langkah terpenting untuk mencegah kerusakan permanen lutut, dan memastikan penyebab nyeri hilang,” ujar salah satu dokter ahli Klinik Patella, dr. Windi Martika, Sp.OT.

Bagi yang sedang mencari rekomendasi master nyeri dengkul terbaik di Jakarta, Klinik Patella datang sebagai klinik nyeri dengkul dan sendi terbaik dengan jasa yang komplit dalam satu atap.

Klinik Patella mempunyai tindakan modern untuk nyeri dengkul ialah Artroskopi Richard Wolf sebagai solusi minimal invasif.

Prosedur ini menggunakan kamera serat optik mini (arthroscope) yang dimasukkan melalui sayatan kecil, sehingga master dapat memandang langsung kondisi di dalam sendi dengkul sekaligus menanganinya tanpa perlu sayatan besar.

Tindakan Artroskopi Richard Wolf ini umumnya berjalan sekitar satu jam dan dilakukan secara rawat jalan, artinya pasien bisa pulang di hari yang sama dan menjalani pemulihan dengan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) di rumah.

Sebagai Artroskopi Richard Wolf, Klinik Patella juga menyediakan beragam pilihan pengobatan lainnya seperti:

  • Fisioterapi
  • Hidroterapi
  • Injeksi Viskosuplemen
  • Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
  • Terapi Secretome
  • Terapi Stem Cell
  • Radiofrekuensi Ablasi
  • Total Knee Replacement

Tim master Klinik Patella adalah:

  • dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
  • dr. Windi Martika, Sp.OT
  • dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
  • dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
  • Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
  • dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS

Yang membikin Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.

Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu perspektif pandang.

Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia alias mereka yang mempunyai kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.

FAQ Seputar Cedera PCL

Apa itu cedera PCL?

Cedera PCL adalah kondisi ketika ligamen posterior cruciate (PCL) di bagian belakang dengkul meregang, robek sebagian, alias robek total akibat trauma alias benturan.

Apa kegunaan PCL pada lutut?

Fungsi PCL pada dengkul adalah mencegah tulang kering (tibia) bergeser terlalu jauh ke belakang terhadap tulang paha (femur), sehingga sendi dengkul tetap stabil saat bergerak.

Apa penyebab utama cedera PCL?

Penyebab cedera PCL umumnya adalah tumbukan langsung pada dengkul yang tertekuk, terjatuh dengan dengkul menahan beban, kecelakaan kendaraan, alias aktivitas mendadak saat berolahraga.

Bagaimana langkah mendiagnosis cedera PCL?

Diagnosis cedera PCL dilakukan melalui pemeriksaan fisik, posterior drawer test, dan pencitraan seperti MRI alias X-ray untuk memastikan letak dan tingkat robekan.

Apakah cedera PCL kudu dioperasi?

Tidak selalu. Robekan ringan hingga sedang sering dapat ditangani tanpa operasi melalui istirahat, brace lutut, dan fisioterapi. Operasi rekonstruksi PCL biasanya dipertimbangkan untuk robekan total alias cedera ligamen ganda.

Berapa lama cedera PCL sembuh?

Lama pemulihan cedera PCL bervariasi, mulai dari beberapa minggu untuk cedera ringan hingga beberapa bulan untuk cedera berat alias kasus pascaoperasi.

Artikel Lainnya Klinik Patella

Bagikan Postingan