Kekurangan unsur besi tetap menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih luas. Prevalensi anemia di Indonesia tetap tergolong cukup tinggi. Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi anemia tercatat pada anak usia 0-4 tahun 23,8%, 5-14 tahun 16,3% dan pada wanita secara keseluruhan 18,0% (SKI 2023).
Pada Ibu Hamil, secara dunia WHO mencatat kasus anemia sekitar 37%2 . Sebagian besar kasus anemia disebabkan lantaran kekurangan unsur besi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekurangan unsur besi tetap menjadi tantangan kesehatan yang berakibat pada kegunaan kognitif, keahlian belajar, serta potensi tumbuh kembang jika tidak ditangani dengan tepat.
Suplementasi unsur besi bisa mencegah anemia dan juga potensi penurunan kepintaran anak. Tapi dosis yang tepat perli diperhatikan!
Dampak Kekurangan Zat Besi pada Anak
Zat besi mempunyai peran krusial dalam pembentukan sel darah merah serta mendukung kegunaan kognitif, termasuk konsentrasi dan keahlian belajar. Kebutuhan unsur besi perlu diperhatikan sejak dini, mulai dari bayi hingga usia dewasa, terutama pada periode pertumbuhan, masa remaja, sebelum kehamilan, hingga selama kehamilan.
“Masalah akibat kekurangan unsur besi ini bukan hanya anemia, dan jika sampai anemia berfaedah sudah kelurangan unsur besi kronis. Tapi unsur besi juga berkedudukan dalam perkembangan otak di 1000 Hari Pertama Kehidupan. Jadi jika kekurangan unsur besi dalam jangka panjang tidak hanya menyebabkan anemia tapi juga IQ turun. Penelitian menunjukkan IQ anak turun hingga 18 poin akibat kelurangan unsur besi,” jelas dr. Lucky Yogasatria Sp.A, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasidalam peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas brand Maltofer, belum lama ini.
Zat besi termasuk mikronutrisi krusial untuk semua usia, dan termasuk yang direkomendasikan untuk pemberian suplementasinya, selain vitamin D dan vitamin A. Mencegah kekurangan unsur besi, lanjut dr. Lucky, bisa dilakukan dengan memberikan makanan kaya unsur besi. Sumber unsur besi yang terbaik berasal dari protein hewani (heme), ialah hati ayam, daging ayam, alias daging sapi.
Kebutuhan Zat Besi untuk Semua Usia
Suplementasi unsur besi umumnya tersedia dalam bentuk senyawa Ferrous (seperti Ferrous Sulfate, Fumarate, atau Gluconate) yang mudah diserap tubuh untuk mengatasi anemia. Suplementasi unsur besi (Fe) umumnya aman, namun dapat menimbulkan pengaruh samping seperti konstipasi (sembelit), diare, mual, muntah, sakit perut, dan tinja berwarna hitam. Risiko lainnya termasuk kelebihan unsur besi dalam tubuh yang merusak organ.
Pilihan lain adalah Iron Polymaltose Complex (IPC). IPC adalah unsur besi unik dengan sistem pelepasan unsur besi terkendali sehingga dapat diserap sesuai kebutuhan tubuh. “Keunggulan IPC dibandingkan Fe²⁺ antara lain jarang menyebabkan pengaruh samping di saluran cerna seperti konstipasi, mual, dan muntah. Selain itu, dapat dikonsumsi kapan saja tanpa perlu jarak dengan makanan dan minuman.
Kebutuhan unsur besi besi pada anak sekitar 11 mg/hari alias setara 500 gram daging ayam. menurut dr. Lucky, ini susah dipenuhi, makanya diberikan suplementasi unsur besi.
Suplemen unsur besi sudah bisa mulai diberikan mulai usia 4 bulan, usia di mana cadangam unsur besi yang diperoleh dari ibunya selama dalam kandungan sudah mulai berkurang.
Adapun dosis suplementasi unsur besi bisa dikonsultasikan dengan master anak, agar tidak sampai kelebihan. Jika anak sudah ada indikasi anemia, menurut dr. Lucky, bisanya bakal diberikan dosis terapi sampai 3-5x lipat dengan pemantauan.
Pada masa kehamilan, kecukupan unsur besi sangat krusial untuk mendukung kesehatan ibu, pertumbuhan janin, serta membantu menurunkan akibat bayi lahir dengan persediaan unsur besi yang rendah, sehingga dapat menekan potensi kekurangan unsur besi pada bayi sejak awal kehidupan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·