Bunda, rupanya langkah seseorang berbincang sehari-hari rupanya bisa jadi gambaran dari kepribadiannya. Ciri kepribadian orang yang susah mengendalikan diri kerap muncul tanpa disadari. Bahkan, bisa lewat kalimat-kalimat sederhana yang sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari.
Meskipun demikian, ini bukan berfaedah orang-orang ini selalu terlihat marah alias emosional secara terbuka, sebagian dari mereka terlihat biasa saja dari luar. Namun jika diperhatikan lebih dalam, langkah mereka merespons situasi tertentu lewat kata-kata bisa menunjukkan pola pikir yang condong reaktif dan kurang tertata.
Ciri kepribadian orang yang susah mengendalikan diri
Berikut ini beberapa karakter kepribadian orang yang susah mengendalikan diri yang bisa dikenali dari kalimat-kalimat yang biasa mereka ucapkan. Yuk, simak penjelasan selengkapnya menurut pakar.
1. Ucapan “Sepertinya saya tidak betul-betul memikirkannya dengan matang”
Orang yang kurang mengendalikan diri terkadang tidak terlalu memikirkan perilaku mereka. Karena mengutamakan insting, baru konsekuensinya kemudian. Kalimat "Saya tidak betul-betul memikirkannya dengan matang," bisa saja terlontar setelahnya.
Sebaliknya, memberi jarak ketika memutuskan suatu perihal dapat berakibat baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Profesor James R Langabeer, Ph.D., Ed.D. Ia menyampaikan bahwa "Bahkan jarak singkat dapat mengurangi reaktivitas emosional dan memungkinkan kegunaan pelaksana otak untuk aktif," ujarnya.
2. Ucapan “Saya hanya mau memandang apa yang bakal terjadi”
Ketika ada situasi yang tidak kondusif alias melanggar batas, orang-orang yang nekat condong terus menguji batas orang lain. Meski tahu hasilnya bisa berantakan, mereka tetap tidak peduli.
Ada dorongan dalam diri mereka yang selalu mau memandang apa yang terjadi jika mereka melanggar batas alias patokan sekali lagi. Sama halnya seperti remaja yang rasa mau tahunya tinggi, mereka biasanya jarang mau mendengar peringatan alias penjelasan soal perilaku yang tidak bisa diterima. Orang seperti ini biasanya baru belajar lewat langkah yang sulit.
3. Ucapan “Mungkin kelak saya bakal menyesal, tapi ya sudahlah”
Ciri kepribadian orang yang susah mengendalikan diri berikutnya adalah sering mengucapkan kalimat “Mungkin kelak saya bakal menyesal, tapi ya sudahlah.” Orang dengan pemikiran untuk melakukan sesuatu, lampau memikirkan konsekuensinya kemudian, ada kemungkinan untuk menyesal, tetapi bisa saja mengulanginya lagi.
4. Ucapan “Saya bakal memikirkan itu besok”
Orang yang tidak dapat mengendalikan diri biasanya tidak memikirkan akibat dari perilaku mereka secara langsung. Setiap kali mereka dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan, mereka bakal berkata, "Aku bakal memikirkan itu besok."
Memang, mungkin ada bujukan untuk menjauhkan perihal itu tidak dapat dipungkiri, tapi menunda-nunda hanya membikin keadaan semakin buruk. Kebiasaan ini menjadi karakter bahwa seseorang tidak bisa mengendalikan diri dengan baik.
5. Ucapan “Saya tidak suka disuruh melakukan apa”
Diberitahu orang lain tentang apa yang kudu kita dikerjakan tidak selalu menyenangkan. Namun, sebagian orang biasanya memilih untuk mendengarkan, apalagi jika kita tidak ingin. Ini krusial untuk memastikan hubungan dan pekerjaan kita berkembang.
Namun, orang yang susah mengendalikan diri terkadang tidak peduli. Mereka tidak masalah jika hubungan dengan musuh bicaranya hancur. Mereka juga tidak memikirkan kelanjutan pekerjaan lantaran sikap seperti itu dan berpikiran mereka bakal menemukan pekerjaan baru.
6. Ucapan “Kadang saya tidak bisa menahan diri”
Tidak ada orang yang betul-betul suka mengakui kesalahan. Kalau diberi pilihan, sebagian orang bakal lebih memilih menutup mata daripada mengakui bahwa diri sendiri sudah melakukan salah.
Namun sigap alias lambat, setiap orang pasti dihadapkan pada realita yang kudu dihadapi. Meski terasa berat, belajar merenungi diri sendiri sebenarnya jadi fondasi krusial untuk membangun pengendalian diri, baik secara mental maupun emosional.
Sayangnya, bagi orang yang susah mengendalikan diri, dorongan dan pikiran jelek mereka seolah lebih berkuasa dibanding kesadaran diri mereka sendiri. Alih-alih introspeksi, mereka justru sibuk mengalihkan kesalahan kepada orang lain.
Meskipun terdengar kekanak-kanakan, tapi kalimat yang sering mereka ucapkan biasanya, "Kadang saya memang tidak bisa menahan diri" sebagai pembelaan.
7. Ucapan ‘Kamu hanya hidup sekali“
Ucapan kita hanya hidup sekali memang bisa digunakan, tetapi sesuai kondisi. Mengucapkan kata ini sebagai argumen untuk melakukan keputusan impulsif sebaiknya dihindari. Karena, apapun yang dilakukan dalam hidup mempunyai akibat nyata.
Ketika berhadapan dengan orang lain, krusial untuk berhati-hati agar tidak sembarangan mengatakan perihal itu, terutama saat seseorang mencoba meyakinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berisiko alias drastis. Orang dengan kontrol diri yang kurang baik umumnya jarang memperhatikan akibat jangka panjang.
8. Ucapan “Kamu bereaksi berlebihan”
Orang yang tidak dapat mengendalikan emosi biasanya tidak suka dikritik. Mereka tidak bisa membedakan antara kritik dan diserang secara personal.
Sehingga, mereka bakal merespons dengan mengatakan kepada orang yang mengkritik bahwa mereka sebenarnya adalah masalahnya.
Sebagian besar orang pada dasarnya takut terhadap penolakan. Mengutip laman Your Tango, penolakan sosial bukan sekadar rasa malu sesaat. Hal ini menyebabkan kemarahan, kesedihan, depresi, dan kecemasan.
Namun, orang yang kurang dapat mengendalikan mental dan emosional membawa perihal ini ke tingkat yang berbeda.
Mereka biasanya terlalu terjebak dalam emosi sendiri, mereka lupa menyadari kapan mereka salah dan gimana perilaku mereka menjauhkan orang.
9. Ucapan “Seharusnya baik-baik saja”
Ketika mulai membangun kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik, berpikir matang sebelum mengambil langkah besar adalah perihal yang krusial untuk disadari.
Memang terasa merepotkan, tapi sedikit kehati-hatian tidak pernah merugikan siapapun. Apalagi untuk keputusan besar yang tidak bisa disikapi dengan berbicara "Seharusnya tidak apa-apa".
Mengambil akibat memang bisa membikin hidup terasa lebih hidup, tapi jika ada orang yang mengucapkan kalimat semacam itu sebelum bertindak gegabah, ada baiknya dijadikan sinyal untuk berpikir dua kali sebelum menjalin hubungan alias kerja sama yang lebih dalam dengannya.
Sebab jika seseorang saja bisa asal-asalan terhadap dirinya sendiri, besar kemungkinan dia juga bakal bersikap sama terhadap orang lain. Terkadang, sikap paling asal-asalan dari orang-orang seperti ini justru terlihat dari kebiasaan mereka selalu terburu-buru.
Menurut penulis sekaligus psikolog klinis, Shoba Sreenivasan, Ph.D., dan Linda E. Weinberger, Ph.D., stres akibat terlalu sering terburu-buru dapat membikin seseorang lebih rentan mengalami gangguan organ, masalah tidur, hingga persoalan kesehatan mental.
Oleh lantaran itu, ada baiknya memperlambat langkah dan berpikir matang-matang sebelum betul-betul mengambil keputusan.
10. Ucapan “Saya betul-betul tidak peduli apa yang mereka pikirkan”
Tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain memang baik bagi kita. Ini bisa mengurai pikiran agar tidak terlalu membebani.
Namun, terlalu tidak peduli juga sebaiknya dihindari. Apalagi berangkaian dengan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri alias orang lain, alias berangkaian dengan orang yang pendapatnya krusial dihargai.
Sebagai contoh seseorang yang sama sekali tidak peduli jika rekan kerjanya menganggapnya tidak jujur atau apalagi fanatik. Ia semestinya mulai lebih peduli tentang kenapa dan gimana penilaian itu bisa terjadi.
Itulah karakter orang yang susah mengendalikan diri berasas kalimat yang diucapkan. Respons seseorang terhadap kondisi sekitar melalui kalimat sehari-hari bisa jadi sinyal kepribadian mereka.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)