Ciri Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban dari Kalimat yang Diucapkan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 505x dilihat
Ciri Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban dari Kalimat yang Diucapkan

Bagikan Postingan

Dalam menjalani kehidupan, terkadang ada masanya hari-hari terasa terlalu berat untuk dijalani. Namun, selalu merasa kehidupan ini sadis seperti ujian yang tidak berujung juga patut dicermati, lantaran ini bisa jadi karakter orang yang merasa jadi korban alias dikenal dengan victim mentality. 

Pasalnya, meskipun memang terkadang terasa berat, tetapi pola pikir negatif terhadap suatu perkara bisa mempengaruhi langkah seseorang memandang sebuah masalah.

Mengutip dari laman Your Tango, memutuskan untuk mulai menjalani hidup tanpa mentalitas korban (victim mentality) dapat menjadi pemicu datangnya kelimpahan dan rasa syukur.


Meskipun tidak selalu mudah dijalani, ada beberapa karakter orang yang merasa jadi korban yang sebaiknya dihindari. Ciri tersebut dapat dilihat dari kalimat yang diucapkan.

1. Kalimat “Ini bukan salahku”

Ciri orang yang selalu merasa dirinya korban adalah sering mengucapkan “Ini bukan salahku.” Dalam menjalani kehidupan, seseorang kudu mempertimbangkan akibat dari apa yang dilakukannya. Karena, ini dapat berakibat pada hasil di masa mendatang.

Meskipun tidak semua masalah berasal dari diri sendiri dan aspek eksternal bisa berpengaruh, tetapi merenungkan tindakan-tindakan yang mungkin berkontribusi pada hasil di kemudian hari merupakan bagian dari kedewasaan. Ini juga sekaligus bagian dari tanggung jawab.

Dr. Charles Chaffin menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan mereka yang menerima tanggung jawab condong mengalami kepuasan kerja yang lebih besar dan tujuan hidup yang lebih jelas.

"Rasa otonomi yang mengenai dengan akuntabilitas adalah motivator yang ampuh, memungkinkan perseorangan untuk merasa bahwa mereka mengendalikan takdir mereka sendiri daripada hanya bereaksi terhadap keadaan," kata Dr. Chaffin.

2. Kalimat “Semua orang menentangku”

Pemikiran bahwa semua orang menentang alias tidak mengerti emosi kita dapat menjadi karakter orang yang selalu merasa jadi korban. Padahal, tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita inginkan dan orang lain lebih peduli pada diri sendiri.

Ahli neuropsikologi dan Direktur Comprehend the Mind di Amerika Serikat, Dr. Sanam Hafeez, menyampaikan bahwa "Seringkali, kekhawatiran Anda dapat mengalahkan logika, dan itu dapat membikin Anda kewalahan dan menyebabkan penderitaan yang nyata," ujar Dr. Hafeez.

Beliau juga menambahkan "Stres dapat menyebabkan orang menyesuaikan pemikiran mereka dengan langkah yang berfaedah untuk apa yang mereka yakini sebagai kelangsungan hidup mereka saat ini, tetapi langkah berpikir ini tidak logis alias sehat,” sambungnya.

3. Kalimat “Mengapa ini selalu terjadi padaku”

Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang ada emosi bahwa hidup seringkali menempatkan seseorang lebih susah dibanding orang lain. Namun, ini perlu diwaspadai lantaran bisa mengarah ke mentalitas korban (victim mentality).

Terlalu percaya bahwa hidup seseorang lebih berat lantaran memang jalan hidupnya seperti itu bisa mencegah dia berpikir bahwa bisa jadi dirinya sendiri telah membikin hidup menjadi lebih sulit.

Ketika hidup terasa sulit, bakal lebih baik jika seseorang merefleksi apa yang telah dilakukan sehingga hidupnya terasa berat. Introspeksi diri membantu memperbaiki keadaan hidup menjadi lebih baik.

4. Kalimat “Ini terlalu susah bagi saya”

Sering merasa bahwa diri sendiri tidak bisa mengatasi persoalan bakal jadi sia-sia andaikan tidak dibarengi dengan usaha.

Seseorang yang berbicara demikian tanpa berupaya keluar dari cobaan, bisa saja tidak tahu bahwa dirinya mempunyai keahlian yang lebih besar dari yang dia kira. Ini dapat menghalang kemajuan dan penyelesaian masalah.

Selain itu, mengeluh susah tanpa mencoba menghadapi masalah dapat menambah beban pada pikiran. Sebaliknya, mempertimbangkan cara-cara untuk menyelesaikan masalah, dapat mengurai beban pikiran.

Pelatih transisi pekerjaan eksekutif, Susan Peppercorn, beranggapan bahwa, “Dengan membingkai situasi yang Anda takuti secara berbeda sebelum Anda mencobanya, Anda mungkin dapat menghindari beberapa stres dan kecemasan.”

5. Kalimat “Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang itu”

Perasaan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi  persoalan hanya bakal membikin masalah hidup tidak terselesaikan. Meskipun tidak semua bisa sepenuhnya terselesaikan, konsentrasi pada hal-hal yang dapat dikendalikan bakal membikin masalah itu lebih terurai.

Berdasarkan laporan State of the Global Workplace 2026, 85 persen orang merasa tidak terlibat. Hal ini mungkin disebabkan oleh hubungan yang rusak dalam hidup mereka alias keadaan dunia.

Merasa bahwa memperbaiki hidup adalah perihal yang di luar kendali merupakan upaya mengelak dari ketidaknyamanan untuk memulai perubahan.

6. Kalimat “Aku tidak bisa berubah”

Kalimat “Aku tidak bisa berubah” adalah salah satu karakter orang yang merasa dirinya selalu jadi korban. Memiliki pemikiran seperti itu telah menghilangkan kesempatan bagi diri sendiri untuk mengubah keadaan.

Dikutip dari laman Your Tango, satu langkah untuk mengubah mentalitas korban adalah dengan mengembangkan welas asih terhadap diri sendiri. Ini berangkaian dengan menerima realitas kehidupan yang ada dengan kehangatan dan kelembutan, bukan mengabaikan rasa sakit.

Alih-alih menarik diri lantaran malu bakal kekurangan alias kesalahan, perlakukan perihal itu sebagai bagian dari pengalaman.

7. Kalimat “Segalanya tidak pernah melangkah sesuai rencana untukku”

Ketika telah mengupayakan segala perihal secara acapkali namun kandas ini dapat menyebabkan putus asa. Meskipun ada kalanya kehilangan semangat untuk mencoba lagi, alih-alih berpikir bahwa  “Segalanya tidak pernah melangkah sesuai rencana untukku”, ada baiknya percaya bahwa kegagalan bukanlah penghalang permanen.

Percaya bahwa segala perihal tidak pernah melangkah sesuai rencana hanya bakal menghalang diri untuk terus bertumbuh lebih baik. Ini juga merupakan karakter orang yang selalu merasa jadi korban.

8. Kalimat “Aku hanya kurang beruntung”

Ciri orang yang selalu merasa jadi korban selanjutnya adalah sering merasa dirinya kurang beruntung. Ciri ini berangkaian dengan orang yang menganggap bahwa pencapaian dan prestasi didapat dari keberuntungan, tetapi melupakan aspek dedikasi dan kerja keras.

Terlalu bertawakal pada keberuntungan dan tidak berupaya meningkatkan keahlian dan kerja keras, dapat membikin kesempatan baik untuk masa depan jadi terlewatkan.

9. Kalimat “Orang selalu memanfaatkan saya”

Ketika seseorang merasa bahwa dirinya sering dimanfaatkan orang lain, krusial untuk berpikir kembali apakah dia telah memberi batas yang tegas kepada orang lain.

Pasalnya, terkadang seseorang susah untuk berbicara “tidak” alias menolak permintaan orang lain, sehingga orang lain menjadi merasa leluasa untuk meminta bantuan, apalagi secara berlebihan.

Dengan memberi batas yang tegas, seseorang dapat terhindar dari dimanfaatkan orang lain, serta terhindar dari victim mentality.

10. Kalimat “Aku tidak meminta ini”

Ada kalanya hal-hal yang tidak kita suka mengacaukan hidup yang dijalani. Banyak perihal tidak diinginkan yang datang di luar kendali. Namun, menanamkan pemikiran “Aku tidak meminta ini” secara terus-menerus juga sebaiknya dihindari.

Alih-alih meletakkan daya yang banyak untuk menyangkal keadaan, bakal lebih baik jika kita menggunakan kesempatan ini untuk betul-betul memahami situasi sehingga perihal itu tidak perlu terjadi lagi. 

Terkadang, melalui hal-hal yang mungkin tidak kita rencanakan, kita dapat menemukan sungguh kuatnya kita sebenarnya.

Itulah beberapa karakter orang yang merasa jadi korban menurut master berasas dari kalimat yang diucapkan. Melalui karakter tersebut, dapat diketahui bahwa meskipun banyak peristiwa yang kehadirannya tidak diinginkan, ada peran diri sendiri untuk menentukan langkah menyikapinya. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads