Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 515x dilihat
Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Keputusan untuk menyusui alias memberikan susu tambahan sering kali menjadi perihal yang sangat individual bagi seorang Bund. Sayangnya, dalam praktiknya, tidak sedikit Bunda yang justru merasa dihakimi ketika pilihan alias pengalaman menyusuinya tidak sesuai dengan angan orang lain.

Hal inilah yang belakangan menjadi perhatian setelah Choi Yeon-soo, putri chef Korea Selatan Choi Hyun-seok, membagikan pengalamannya mengalami apa yang dia sebut sebagai breastfeeding gaslighting hingga akhirnya berakhir menyusui setelah satu bulan.

Curhat alami breastfeeding gaslighting hingga berakhir menyusui

Dalam sesi tanya jawab di media sosialnya, Choi Yeon-soo menjawab pertanyaan seorang netizen yang mengaku merasa bersalah lantaran mau memberikan susu tambahan kepada bayinya setelah mendapat tekanan untuk terus menyusui.


Choi mengaku pernah mengalami perihal serupa. Ia mengatakan sering mendengar komentar seperti bayinya lahir kecil, dirinya mempunyai banyak ASI, serta menyusui dianggap sebagai pilihan terbaik untuk bayi. Komentar-komentar tersebut membuatnya merasa bersalah ketika memutuskan untuk berakhir menyusui.

Bahkan, dia sempat menyesal dan mempertimbangkan untuk kembali menyusui alias melakukan relaktasi.  Namun, menurut pengakuannya, kondisi fisiknya membikin keputusan tersebut tidak mudah.

Ia mengalami keluhan pada pergelangan tangan lantaran kudu mempertahankan posisi tertentu saat menyusui. Ia juga merasa posturnya berubah akibat posisi menyusui. Bahkan ketika ASI diperah dan suaminya membantu memberikan ASI kepada bayi, dia merasa tanggung jawab menyusui tetap berada di pundaknya sehingga waktu untuk beristirahat semakin sedikit.

Choi akhirnya mengatakan bahwa dia hanya menyusui selama sekitar satu bulan sebelum memilih berhenti. Ia menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati ibu yang memilih menyusui, tetapi berambisi keputusan mengenai pemberian makanan kepada bayi tidak dijadikan ukuran kasih sayang seorang ibu.

Apa itu breastfeeding gaslighting?

Istilah breastfeeding gaslighting sebenarnya bukan istilah medis alias pemeriksaan psikologis resmi. Istilah ini lebih banyak digunakan secara terkenal untuk menggambarkan pengalaman ketika seorang ibu merasa realitas, kesulitan, alias keputusannya dalam menyusui terus-menerus diragukan, diremehkan, alias dibuat merasa bersalah oleh orang lain.

Misalnya, seorang ibu yang sedang kesulitan menyusui justru mendapatkan komentar seperti:

“ASI-mu sebenarnya banyak, kok.”

“Kalau betul-betul sayang anak, pasti tetap menyusui.”

“Jangan menyerah, ibu lain juga bisa.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin awalnya dimaksudkan untuk mendorong ibu menyusui. Namun, jika disampaikan tanpa memahami kondisi ibu, support tersebut justru bisa berubah menjadi tekanan.

Yang perlu dibedakan, mendapatkan info mengenai faedah ASI bukan berfaedah mengalami gaslighting. Tenaga kesehatan tetap perlu memberikan info berbasis bukti mengenai faedah menyusui sekaligus membantu ibu mengatasi hambatan yang dihadapi.

Masalahnya muncul ketika info tersebut berubah menjadi penghakiman alias membikin ibu merasa bahwa dirinya kandas jika tidak bisa menyusui sesuai sasaran tertentu.

Tekanan menyusui bisa memengaruhi mental Bunda

Pengalaman seperti yang diceritakan Choi Yeon-soo juga mendapat perhatian dalam penelitian mengenai tekanan menyusui. Sebuah studi yang diterbitkan di Frontiers in Public Health pada 2024 meneliti hubungan antara tekanan untuk menyusui dengan kondisi mental ibu setelah melahirkan.

Penelitian longitudinal tersebut menemukan bahwa persepsi mendapat tekanan untuk menyusui berangkaian dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan indikasi trauma persalinan empat minggu kemudian.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian ibu merasa kudu memenuhi gambaran “ASI adalah yang terbaik” dan menganggap keberhasilan menyusui sebagai bagian dari keberhasilan mereka sebagai ibu. Ketika mengalami kesulitan, kurangnya pilihan dan support dapat membikin tekanan tersebut semakin berat.

Penelitian lain yang melibatkan 501 responden juga menemukan tiga tema utama, ialah tekanan untuk menyusui, tekanan untuk tidak menyusui, serta dampaknya terhadap kesehatan mental.

Studi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dirasakan ibu dapat berakibat negatif terhadap kesehatan mental, sementara pengalaman menyusui yang positif dan mendapatkan support justru dapat memberikan akibat yang lebih baik.

Artinya, persoalannya bukan sekadar apakah seorang ibu menyusui alias tidak. Bagaimana ibu mendapatkan support dalam proses tersebut juga penting.

Menyusui banyak manfaatnya, tetapi ibu juga memerlukan dukungan

ASI mempunyai banyak faedah bagi bayi dan ibu. WHO dan UNICEF tetap merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan berbareng makanan pendamping hingga usia dua tahun alias lebih.

Namun, rekomendasi tersebut semestinya melangkah berbareng dengan support yang memadai untuk ibu. WHO dan UNICEF di Indonesia pada 2026 menekankan bahwa ibu memerlukan info yang akurat, konseling menyusui yang berkualitas, support keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, hingga lingkungan kerja yang mendukung.

Jadi, ketika seorang ibu mengalami masalah seperti pelekatan bayi yang sulit, produksi ASI yang dirasa kurang, puting nyeri, kelelahan, alias kesulitan memerah ASI, respons yang dibutuhkan bukan sekadar mengatakan, “Pokoknya kudu menyusui.”

Ibu memerlukan support untuk mencari tahu apa masalahnya dan gimana solusinya. Menjadi ibu sudah cukup melelahkan tanpa kudu terus-menerus merasa diuji oleh lingkungan sekitar.

Menyusui memang merupakan salah satu langkah memberikan nutrisi dan perlindungan kepada bayi. Tetapi, pengalaman setiap ibu berbeda. Ada ibu yang dapat menyusui dengan lancar, ada yang memerlukan support konselor laktasi, ada yang melakukan kombinasi ASI dan susu tambahan, dan ada pula yang akhirnya memilih susu tambahan.

Yang penting, keputusan pemberian makan bayi sebaiknya dibuat berasas kondisi bayi, kondisi ibu, info kesehatan yang tepat, serta pertimbangan berbareng tenaga kesehatan jika diperlukan.

Sebab, kasih sayang seorang ibu tidak bisa diukur hanya dari gimana dia memberikan susu kepada bayinya.

Dan seperti yang ditunjukkan beragam penelitian, mendukung ibu bukan berfaedah memberikan tekanan tanpa henti. Dukungan yang baik justru membikin ibu merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian dalam menjalani masa setelah melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads