Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat bagian erupsi menerus selama sekitar 25 jam sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Episode panjang itu telah berakhir, tetapi hingga 7 September status Anak Krakatau tetap berada pada Level III alias Siaga.
Pemantauan pada 6–7 September juga tetap menunjukkan tingkat kegempaan yang tinggi. Badan Geologi mencatat tiga gempa erupsi, sembilan gempa hembusan, 93 gempa low frequency, 98 gempa hybrid/fase banyak, empat tremor menerus, dan satu gempa vulkanik dangkal. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tetap diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kegiatan gunung.
Situasi seperti ini membikin film-film tentang gunung berapi terasa sedikit berbeda ketika ditonton kembali. Dalam sinema, gunung berapi sering menjadi mesin spectacle: lava mengalir, kota runtuh, manusia berkompetisi melawan waktu. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Ada pemantauan, mitigasi, ketidakpastian ilmiah, masyarakat yang hidup berdampingan dengan gunung aktif, dan tragedi yang tidak berhujung ketika credit title muncul.
Berikut beberapa movie dan dokumenter yang memandang gunung berapi dari perspektif berbeda.

“Dante’s Peak” (1997)
“Dante’s Peak” adalah contoh klasik disaster movie Hollywood yang tetap menarik lantaran sebagian fondasi vulkanologinya cukup dekat dengan kenyataan.
Pierce Brosnan berkedudukan sebagai vulkanolog Harry Dalton yang dikirim ke sebuah kota mini di dekat gunung berapi yang mulai memperlihatkan tanda-tanda aktivitas. Ketika dia memperingatkan kemungkinan erupsi besar, muncul persoalan yang juga relevan dalam mitigasi musibah nyata: kapan intelektual mempunyai cukup bukti untuk memperingatkan masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan yang belum tentu diperlukan?
Film ini tentu melakukan banyak dramatisasi. Namun United States Geological Survey (USGS) mencatat bahwa sejumlah ancaman vulkanik yang digambarkan dalam “Dante’s Peak”—seperti awan abu, aliran piroklastik, dan lahar—cukup dekat dengan perilaku erupsi stratovolcano di bumi nyata. USGS apalagi pernah membikin materi unik untuk memisahkan kebenaran dan fiksi dalam movie tersebut.
Karena itu, “Dante’s Peak” terasa lebih menarik daripada sekadar movie tentang orang-orang yang melarikan diri dari gunung meletus. Film ini juga berbincang tentang komunikasi risiko: gimana menerjemahkan informasi ilmiah menjadi keputusan yang menyangkut keselamatan manusia.

“Volcano” (1997)
Dirilis pada tahun yang sama dengan “Dante’s Peak”, “Volcano” memilih pendekatan jauh lebih bombastis.
Film ini membayangkan letusan gunung berapi muncul tepat di tengah Los Angeles. Lava merayap melalui jalan raya dan akomodasi kota, sementara petugas darurat berupaya mengarahkan alirannya agar tidak menghancurkan metropolitan.
Jika “Dante’s Peak” berupaya mempertahankan sebagian injakan pada sains, “Volcano” lebih terang-terangan menjadi khayalan katastrofik perkotaan. Namun konsepnya menarik sebagai budaya populer: manusia modern sering merasa bahwa kota, teknologi, dan prasarana telah membikin kita relatif kondusif dari alam. Film ini membalik dugaan tersebut.
Ancaman vulkanik tidak lagi berada di pegunungan yang jauh. Ia muncul dari bawah aspal, tepat di tengah kota.
Kekuatan “Volcano” bukan pada ketepatan ilmiahnya, tetapi pada gambaran sungguh sigap sistem perkotaan dapat kehilangan kendali ketika berhadapan dengan kekuatan alam yang tidak masuk dalam skenario perencanaan normal.

“Krakatoa, East of Java” (1969)
Tidak ada movie dalam daftar ini yang lebih langsung berasosiasi dengan situasi sekarang dibandingkan “Krakatoa, East of Java”.
Berlatar 1883, movie pengarahan Bernard L. Kowalski mengikuti kapal Batavia Queen yang berlayar menuju area Krakatau untuk mencari kapal karam dan kekayaan berharga. Petualangan itu berjalan ketika Krakatau bergerak menuju erupsi katastrofik yang kemudian mengubah sejarah Selat Sunda.
Film ini adalah contoh klasik gimana Hollywood mengubah musibah sejarah menjadi spectacle. Namun dia sekarang justru lebih terkenal lantaran satu kesalahan besar dalam judulnya.
Krakatau tidak berada di sebelah timur Jawa, melainkan di sebelah barat Jawa, di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatera.
American Film Institute mencatat bahwa kesalahan geografis tersebut sudah disorot ketika movie dirilis. Eksekutif distributornya kabarnya baru mengetahui kesalahan setelah material promosi diproduksi, sementara perubahan titel dianggap terlalu mahal. Film tersebut secara resmi tercatat dirilis di Amerika Serikat pada 14 Mei 1969, meskipun kewenangan ciptanya telah didaftarkan pada Desember 1968—yang menjelaskan kenapa movie ini terkadang dicantumkan sebagai produksi 1968.
Hari ini, “Krakatoa, East of Java” menarik bukan hanya sebagai disaster movie, tetapi sebagai artefak gimana Hollywood pernah memandang Asia Tenggara: eksotis, jauh, dan terkadang geografisnya bisa diperlakukan dengan cukup longgar.

Krakatoa: The Last Days
“Krakatoa: The Last Days” (2006)
Jika “Krakatoa, East of Java” menjadikan Krakatau sebagai spectacle Hollywood, “Krakatoa: The Last Days” mengambil jalan nyaris berlawanan.
Docudrama produksi BBC ini berupaya merekonstruksi hari-hari terakhir sebelum erupsi Krakatau 1883 melalui kesaksian saksi mata, foto, tulisan surat kabar, dan penelitian ilmiah. Netflix mendeskripsikannya secara definitif sebagai docudrama yang berasal dari material-material tersebut.
Pendekatan ini membikin musibah terasa lebih personal. Krakatau tidak hanya muncul sebagai gunung yang meledak di kejauhan, tetapi sebagai peristiwa yang dialami manusia biasa: keluarga, pekerja, pejabat kolonial, pelaut, serta masyarakat yang berada di sekitar Selat Sunda.
Film ini juga menghadirkan tokoh geolog Rogier Verbeek, yang penelitiannya setelah erupsi Krakatau menjadi bagian krusial dalam perkembangan studi modern mengenai vulkanisme.
Jika mau memahami kenapa Krakatau 1883 tetap menjadi salah satu musibah paling terkenal dalam sejarah, “Krakatoa: The Last Days” menjadi salah satu tontonan paling relevan dalam daftar ini.

“Pompeii” (2014)
Jauh sebelum Krakatau 1883, letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M telah menciptakan salah satu gambaran paling terkenal tentang kehancuran akibat gunung berapi.
“Pompeii” karya Paul W. S. Anderson mengubah tragedi tersebut menjadi perpaduan movie romansa, gladiator, dan disaster movie. Ceritanya mengikuti Milo, seorang budak yang menjadi gladiator, ketika dia berupaya menyelamatkan Cassia di tengah kehancuran Pompeii akibat letusan Vesuvius. Sony Pictures sendiri menempatkan erupsi Vesuvius sebagai klimaks utama movie tersebut.
Secara sejarah, movie ini jelas mengambil banyak kebebasan dramatik. Tetapi daya tarik “Pompeii” ada pada perspektif yang berbeda: manusia menjalani kehidupan normal hingga alam tiba-tiba mengubah seluruh struktur sosial di sekeliling mereka menjadi tidak relevan.
Status, kekayaan, politik, dan kekuasaan kehilangan makna ketika kota berada di bawah awan vulkanik.
Karena itu, di kembali formula blockbuster-nya, “Pompeii” menyimpan buahpikiran yang cukup universal: peradaban manusia terlihat permanen sampai alam mengingatkan sungguh rapuhnya permanensi tersebut.

“Into the Inferno” (2016)
Werner Herzog tidak tertarik membikin movie mengenai manusia melawan gunung berapi. Ia justru mau mengetahui kenapa manusia begitu terobsesi dengannya.
Bersama vulkanolog Clive Oppenheimer, Herzog mengunjungi gunung-gunung berapi di Korea Utara, Ethiopia, Islandia, dan Vanuatu. Mereka berbincang dengan intelektual sekaligus masyarakat lokal untuk memahami hubungan antara gunung berapi, mitologi, keyakinan, dan budaya.
Menurut Netflix, “Into the Inferno” secara unik mengeksplorasi hubungan manusia yang kompleks dan telah mengakar lama dengan gunung berapi, memadukan reportage, sejarah, dan filsafat.
Gunung berapi bukan hanya kejadian geologi. Ia juga dapat menjadi bagian dari identitas suatu masyarakat, sumber mitologi, ruang sakral, objek penelitian, sekaligus ancaman nyata.
Dalam konteks Indonesia—negara yang kehidupan masyarakatnya sejak lama berdampingan dengan banyak gunung api aktif—perspektif seperti ini terasa jauh lebih relevan daripada sekadar memandang letusan sebagai tontonan.

“The Volcano: Rescue from Whakaari” (2022)
Tidak ada pengaruh visual yang bisa menyamai ketegangan ketika kita mengetahui bahwa apa yang sedang terlihat betul-betul terjadi.
“The Volcano: Rescue from Whakaari” merekonstruksi erupsi Whakaari alias White Island di Selandia Baru pada 2019. Dokumenter ini menggunakan kesaksian penyintas dan penyelamat serta rekaman menit demi menit dari peristiwa tersebut.
Perbedaannya dengan disaster movie Hollywood sangat terasa. Tidak ada protagonis yang bisa mengendalikan alam. Tidak ada solusi dramatis yang ditemukan tepat sebelum klimaks. Yang ada adalah manusia yang mengambil keputusan dalam kondisi ekstrem, terkadang tanpa info komplit dan hanya mempunyai waktu beberapa detik.
Dokumenter ini juga memberikan perspektif krusial tentang langkah kita menonton bencana. Gambar letusan yang terlihat spektakuler dari kejauhan dapat berfaedah pengalaman yang sepenuhnya berbeda bagi orang-orang yang berada di dalamnya.

“Fire of Love” (2022)
Jika kebanyakan movie dalam daftar ini berbincang tentang ketakutan terhadap gunung berapi, “Fire of Love” justru bermulai dari rasa cinta.
Katia dan Maurice Krafft adalah pasangan vulkanolog Prancis yang selama sekitar dua dasawarsa berkeliling bumi mengejar dan mendokumentasikan erupsi. Arsip mereka menghasilkan beberapa rekaman gunung berapi paling luar biasa dalam sejarah pengarsipan vulkanologi.
National Geographic menjelaskan bahwa keduanya mencintai dua hal: satu sama lain dan gunung berapi. Mereka akhirnya meninggal dalam erupsi Gunung Unzen di Jepang pada 1991, tetapi pengarsipan dan kerja ilmiahnya meninggalkan kontribusi krusial bagi pengetahuan tentang gunung berapi.
“Fire of Love” menggunakan arsip tersebut bukan hanya untuk membikin movie pengetahuan pengetahuan, tetapi juga sebuah kisah mengenai obsesi, rasa mau tahu, dan hubungan manusia dengan sesuatu yang kita tahu tidak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan.
Gambar-gambar lava yang mereka rekam memang indah. Namun keelokan itulah yang membikin movie ini kompleks: manusia dapat sekaligus takut dan terpikat pada kekuatan yang sama.
Gunung Berapi di Layar dan di Dunia Nyata
Ada argumen kenapa gunung berapi terus muncul dalam sinema. Secara visual, dia nyaris sempurna sebagai metafora: sesuatu yang terlihat tak bersuara tetapi menyimpan daya besar di bawah permukaan. Ia bisa mewakili kehancuran, kelahiran kembali, ketidakpastian, apalagi hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Hollywood biasanya mengambil bagian yang paling spektakuler. Dokumenter menunjukkan bagian yang tidak kalah penting: pengetahuan pengetahuan, observasi, masyarakat, keputusan sulit, dan akibat nyata.
Aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 kembali mengingatkan perbedaan tersebut. Hingga 7 September, Badan Geologi tetap menetapkan status Level III (Siaga) dan menyatakan kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya tetap tinggi. Potensi ancaman utama yang disebutkan meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava andaikan erupsi menerus kembali terjadi.
Karena itu, mungkin langkah terbaik menonton film-film ini bukan dengan memandang gunung berapi sebagai monster alam yang kudu dikalahkan.
Manusia tidak pernah betul-betul mengalahkan gunung. Yang bisa dilakukan adalah mempelajarinya, membaca tanda-tandanya, menghormati pemisah aman, dan memahami bahwa kehidupan di planet yang aktif secara geologis selalu membawa unsur ketidakpastian.
Di layar, letusan berhujung ketika credit title muncul. Di bumi nyata, hidup berdampingan dengan gunung berapi adalah cerita yang terus berlangsung.