Jakarta -
Belakangan ini istilah Flamingo Era mulai ramai dibahas di media sosial untuk menggambarkan fase perubahan besar yang dialami wanita setelah menjadi ibu.
Istilah ini bukan pemeriksaan medis, melainkan metafora tentang gimana wanita bisa mengalami perubahan fisik, emosional, hingga identitas diri selama membesarkan anak mirip seperti flamingo yang berubah warna seiring waktu.
Apa itu flamingo era?
Flamingo rra adalah istilah viral yang menggambarkan fase perubahan besar yang dialami wanita setelah menjadi ibu, terutama setelah melahirkan dan selama membesarkan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istilah ini terinspirasi dari burung flamingo. Saat flamingo merawat anaknya, warna bulunya bisa memudar lantaran daya dan nutrisi banyak digunakan untuk mengurus anak. Setelah anak tumbuh mandiri, warna tubuhnya perlahan kembali cerah. Fenomena itu kemudian dianalogikan dengan kehidupan seorang ibu.
Banyak wanita merasa mengalami perubahan setelah punya anak, seperti, tubuh lebih sigap lelah,emosi lebih sensitif,perubahan corak tubuh,kehilangan waktu untuk diri sendiri,hingga merasa identitas dirinya berubah.
Karena itulah fase ini disebut 'flamingo era', ialah masa ketika seorang ibu 'berubah warna' lantaran konsentrasi besar pada family dan anak.
Namun istilah ini bukan istilah medis resmi, melainkan metafora terkenal di media sosial untuk menggambarkan perjalanan emosional dan bentuk wanita setelah melahirkan.
Kenapa disebut flamingo?
Flamingo dikenal mempunyai warna merah muda cerah lantaran makanan yang mereka konsumsi. Namun saat sedang mengerami telur dan merawat anak, warna bulunya bisa memudar lantaran daya dan nutrisi banyak terkuras untuk merawat anaknya.
Setelah anak flamingo tumbuh mandiri, warna tubuh induknya perlahan kembali cerah. Fenomena ini kemudian dianggap mirip dengan perjalanan seorang ibu. Setelah melahirkan, banyak wanita merasa tubuh lebih mudah lelah,emosi naik turun,penampilan berubah,kehilangan waktu untuk diri sendiri,hingga merasa identitas lamanya 'menghilang'.
Namun perlahan, saat anak mulai tumbuh besar, banyak ibu mulai menemukan kembali dirinya.
Hubungan pengasuhan dengan warna fink flamingo
Fenomena ini rupanya berangkaian langsung dengan proses pengasuhan. Menurut penjelasan dari The Environmental Literacy Council, flamingo menggunakan banyak daya dan nutrisi untuk merawat anaknya, termasuk memproduksi crop milk alias susu unik flamingo untuk anak.
Proses tersebut menguras persediaan karotenoid di tubuh flamingo sehingga warna bulunya bisa menjadi lebih pucat sementara. Bahkan dalam beberapa kasus, flamingo dapat terlihat nyaris putih alias abu-abu selama masa pengasuhan.
Setelah anak flamingo tumbuh berdikari dan induknya mulai kembali makan serta merawat dirinya sendiri, warna pink itu perlahan muncul lagi. Karena itulah flamingo sering dianggap simbol pengorbanan orang tua dalam bumi hewan.
Apakah 'warna ibu' bisa kembali?
Bisa dong Bunda. Dan bagi banyak perempuan, proses itu memang terjadi secara perlahan. Dalam konsep Flamingo Era, 'warna ibu' adalah simbol dari energi, rasa percaya diri, identitas diri, hingga kebahagiaan yang terasa berubah setelah menjadi ibu.
Saat merawat anak, banyak wanita merasa, hidup hanya berputar pada kebutuhan keluarga,tubuh mudah lelah,sulit punya waktu sendiri,kehilangan hobi,atau merasa bukan dirinya yang dulu.
Namun kondisi ini tidak selalu permanen ya Bunda. Sama seperti flamingo yang warna pink-nya kembali setelah anak tumbuh mandiri, banyak ibu perlahan mulai menemukan kembali dirinya ketika fase pengasuhan mulai lebih stabil.
Menurut penelitian dari American College of Obstetricians and Gynecologists, masa pemulihan setelah melahirkan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga mental dan emosional. Proses penyesuaian ini bisa berjalan berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun.
Penelitian lain dalam jurnal Nature Neuroscience menemukan bahwa perubahan otak selama kehamilan tidak selalu berfaedah penurunan kemampuan, tetapi juga corak penyesuaian biologis untuk membantu ibu lebih peka terhadap kebutuhan anak.
Artinya, perubahan yang dialami ibu bukan berfaedah kehilangan diri, melainkan tubuh dan pikiran sedang beradaptasi.
Kisah-Kisah Ibu yang Alami Flamingo Era
Banyak ibu yang mengalami Flamingo Era mengaku hidup mereka berubah total setelah punya anak. Ada yang merasa dirinya perlahan “memudar”, bukan lantaran tidak senang menjadi ibu, tetapi lantaran seluruh energi, waktu, dan perhatian lenyap untuk mengurus keluarga.
Salah satu ibu dalam pembahasan tentang faded flamingo mum mengaku dulu dirinya sangat aktif. Ia rutin olahraga, suka berdandan, sering nongkrong dengan teman, dan menikmati pekerjaannya. Namun setelah punya anak, hari-harinya berubah menjadi rutinitas menyusui, begadang, membersihkan rumah, dan mengurus anak tanpa henti.
Berikut kisahnya dikutip dari Mamamia.com.
“Saya ingat betul kehilangan rasa percaya diri dan 'warna' saya ketika kedua anak laki-laki saya tetap kecil, lantaran kurang tidur dan menyusui mereka selama berbulan-bulan, sementara terjebak di rumah merasa jenuh dan terisolasi,” kata salah seorang ibu.
"Saya merasa seperti flamingo yang pudar selama empat tahun penuh ketika berada di tengah kesibukan mengasuh anak," kata Tegan, ibu dari tiga anak di bawah usia enam.
"Saya merasa seperti begitu saya mendapatkan kembali sedikit kemandirian... beberapa bulu saya kembali, tetapi tetap belum sepenuhnya merah muda! Kita telah membahas beban mental acapkali di podcast ini, tetapi Anda tahu, mengasuh anak itu tanpa henti, baik Anda mempunyai satu, dua, alias 10 anak - dan apakah mereka berumur tiga alias 15 tahun itu hanyalah pekerjaan tanpa henti," sambungnya.
Meski begitu, banyak cerita ibu berhujung dengan perihal yang hangat. Saat anak mulai besar dan lebih mandiri, mereka perlahan mulai menemukan kembali dirinya. Ada yang kembali bekerja, mulai olahraga lagi, punya waktu berjumpa teman, alias sekadar menikmati waktu sendiri tanpa rasa bersalah. Beberapa ibu mengatakan “warnanya kembali” bukan lantaran hidup jadi mudah, tetapi lantaran mereka akhirnya sadar bahwa diri mereka juga krusial untuk dirawat.
Pentingnya support ibu setelah melahirkan
Tak sedikit ibu merasa lebih sensitif setelah punya anak. Ada yang lebih mudah menangis, resah berlebihan, alias merasa kehilangan kebebasan. Penelitian dari American Psychological Association menyebut masa transisi menjadi ibu memang bisa memicu stres emosional lantaran perubahan peran yang sangat besar.
Bahkan, sebagian ibu mengalami baby blues,kelelahan mental,krisis identitas,hingga depresi pasca melahirkan. Bentuk dukungannya pun tidak kudu besar. Hal sederhana seperti membantu mengurus bayi, memberi waktu istirahat, mendengarkan cerita ibu, alias sekadar mengatakan, “Kamu sudah hebat,” bisa sangat berarti.
Menurut World Health Organization, support emosional dan sosial setelah persalinan berkedudukan krusial dalam menjaga kesehatan mental ibu dan kesejahteraan family secara keseluruhan. Karena itu, merawat ibu setelah melahirkan sama pentingnya dengan merawat bayi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·