Jakarta -
Gangguan mental selama kehamilan hingga setelah melahirkan menjadi permasalahan kesehatan ibu yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi seperti depresi dan kecemasan bukan sekadar fluktuasi kondisi hati yang bisa diabaikan, Bunda.
Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan tepat, gangguan kesehatan mental dapat berakibat serius terhadap keselamatan ibu. Simak klarifikasi berikut.
Gangguan mental jadi komplikasi serius selama kehamilan
Kehamilan dan persalinan membawa fluktuasi besar bagi tubuh, hormon, hayat sehari-hari, serta kondisi emosional seorang perempuan. Sebagian ibu mungkin mengalami kecemasan, kesedihan, maupun kelelahan. Namun, ketika gejala terjadi terus-menerus, semakin berat, maupun mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian medis.
Mengutip halaman The Guardian, psikiater perinatal Dr. Edna Lekgabe mengatakan gangguan mental sebagai komplikasi angka satu pada kehamilan dan masa setelah persalinan. Menurutnya, hingga satu dari lima perempuan dapat mengalami kondisi kesehatan mental yang dapat didiagnosis sejak konsepsi hingga satu tahun setelah bayi lahir.
Depresi dan kecemasan merupakan gangguan mental yang paling lazim terjadi. Namun, spektrum gangguan kesehatan mental pada masa ini juga mencakup gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder maupun PTSD) setelah mengalami trauma persalinan, gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang ditandai dengan pikiran-pikiran mengganggu tentang kemungkinan menyakiti bayi, serta bagian psikosis yang jarang terjadi tetapi dapat menimbulkan akibat yang sangat serius dan termasuk kondisi darurat psikiatri.
Sementara pada laporan The Beacon terungkap di Missouri, Amerika Serikat, kondisi kesehatan mental menjadi salah satu penyebab utama kematian selama kehamilan dan dalam satu tahun setelah melahirkan.
Laporan terbaru Pregnancy-Associated Mortality Review (PAMR) di negara bagiankecil tersebut menemukan bahwa kondisi seperti depresi, kecemasan, dan gangguan penggunaan zat berkontribusi terhadap hampir seperempat kematian mengenai kehamilan selama masa 2019 hingga 2023.
Risiko tersebut terlebihlagi lebih tinggi pada perempuan yang tinggal di daerah pedesaan. Menurut sebuah studi pada 2020, perempuan di daerah pedesaan memiliki kemungkinan 21 persen lebih tinggi mengalami depresi perinatal dibandingkan perempuan yang tinggal di daerah perkotaan.
Dibandingkan dengan upaya negara bagiankecil lain dalam menangani kesehatan mental selama dan setelah kehamilan, Missouri eksis di tingkat menengah. Hal ini berdasarkan penilaian Policy Center for Maternal Mental Health, sebuah institusi analisis nasional yang menerbitkan rapor tahunan mengenai upaya penanganan kesehatan mental ibu di beragam negara bagian.
Skrining kesehatan mental sebaiknya dimulai saat hamil
Dewan PAMR merekomendasikan agar semua tenaga kesehatan yang berhubungan dengan famili baru berupaya berbuat skrining maupun pengecekan mula kesehatan mental.
Skrining bermaksud mendeteksi kemungkinan adanya gejala, sedangkan pengecekan lanjutan diperlukan untuk menentukan jenis gangguan kesehatan mental yang mungkin dialami pasien beserta tingkat keparahannya.
Nancy Byatt, seorang psikiater perinatal di University of Massachusetts Chan Medical School, mengatakan bahwa skrining sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan. Ia mengutip riset yang menemukan bahwa sekitar dua pertiga pasien yang mengalami depresi pasca persalinan mulai mengalami depresi sebelum melahirkan.
Karena itu, pengecekan kesehatan mental sebaiknya tidak cuma dilakukan setelah bayi lahir, tetapi juga selama kehamilan.
"Jika kita menunggu hingga seseorang memasuki masa setelah melahirkan untuk mulai berbuat skrining, kita sudah melewatkan kesempatan" kata Nancy Byatt dikutip dari halaman Thebeaconnews.
Meski begitu, pengecekan juga perlu disertai jalur rujukan yang jelas. Ibu yang membutuhkan pertolongan mesti dapat mengakses jasa yang sesuai, baik berupa konseling, psikoterapi, pengobatan, maupun sokongan sosial.
Dr. Edna Lekgabe juga menekankan bahwa skrining tidak akan cukup jika tidak diikuti akses perawatan yang tepat waktu. Menemukan masalah kesehatan mental tanpa memberikan pertolongan lanjutan berisiko membikin ibu statis tidak tertangani.
Menurut Alison Williams, ketua Missouri Perinatal Quality Collaborative, mengatakan bahwa orang tua mungkin tidak menyadari bahwa gejala yang mereka alami merupakan tanda depresi maupun kecemasan. Ia mengingat balik pengalamannya sendiri menghadapi masalah kesehatan mental setelah melahirkan.
“Saya tidak akan bisa mengatakan kepada Anda bahwa aku mengalami depresi maupun kecemasan berat. Saya cuma tahu bahwa aku merasa kehilangan kendali atas diri sendiri. Saya mengharapkan istilah baby blues dihapus dari istilah yang kita gunakan karena kondisi yang dialami ibu bisa jauh lebih kompleks daripada itu," kata Williams.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)