Jakarta -
Setiap negara memiliki pola asuh berbeda yang bermaksud agar anak tumbuh menjadi pribadi mandiri dan percaya diri. Di Norwegia, pola pengasuhan anak kerap dikaitkan dengan pemberian kebebasan yang disertai tanggung jawab, Bunda.
Pola asuh ini memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan, serta kepercayaan terhadap kapasitas dalam berbuat beragam hal sesuai usianya. Orang tua tidak selalu terburu-buru membantu ketika anak menghadapi kesulitan, melainkan memberi ruang bagi mereka untuk mencoba dan belajar dari pengalaman.
Pendekatan dalam pola asuh di Norwegia ini disebut free-range parenting maupun pengasuhan anak tanpa batasan. Dilansir The Guardian, pola pengasuhan bebas memang sesuai dengan persepsi yang sering dimiliki orang luar tentang orang Skandinavia, yang mencakup daerah Norwegia, Swedia, dan Denmark.
Orang Skandinavia memiliki standar hidup yang sangat tinggi, tingkat kejahatan yang rendah, hak cuti hamil dan melahirkan yang patut dipuji, serta estetika yang dahsyat baik. Menurut World Happiness Report tahun 2024, Norwegia terlebihlagi eksis di peringkat ketujuh sebagai negara yang ceria di dunia.
Negara ini juga memiliki Gross Domestic Product (GDP) tertinggi ke-10 di dunia, biaya harta terbesar di dunia, dan salah satu tingkat kejahatan terendah di dunia.
Rapor baik negara Norwegia tak lepas dari mekanisme pengasuhan yang diterapkan setiap orang tua pada anak-anaknya. Mereka mendidik anak-anak berdikari dan percaya diri sejak dini.
Orang tua di Norwegia mendidik anak berdikari sejak dini
Orang tua di Norwegia memperlakukan anak sebagai orang dewasa. Mereka sudah diharapkan untuk ikut membantu pekerjaan apa pun yang perlu dilakukan.
Menurut guru besar emeritus di sektor kesehatan mental anak di University of Tromsø, Willy-Tore Mørch, pendekatan ini menjadi populer setelah Perang Dunia Kedua. Setelah sebagian besar infrastruktur negara hancur akibat pendudukan Nazi selama bertahun-tahun, pemerintah Partai Buruh yang baru percaya bahwa semua penduduk Norwegia mesti berkontribusi pada pembangunan kembali, termasuk anak-anak.
"Anak-anak mesti kuat dan tangguh, serta dilatih untuk berdikari dan setia," kata Mørch.
"Mungkin sebagian besar orang tua saat ini tidak menyadari sejarah ini, tetapi membangun kepercayaan antara orang tua dan anak statis menjadi kualitas hubungan mendasar dalam pengasuhan anak modern di Norwegia."
Mørch mengatakan bahwa corak pengasuhan anak di Norwegia tidak dapat dipahami tanpa menilai efek psikolog Åse Gruda Skard, Bunda. Skard adalah figur populer di Norwegia pasca perang, yang sering tampil di program radio dan surat berita untuk menyebarkan ide-ide inovatifnya tentang 'pengasuhan anak yang bebas' sebagai tanggapan terhadap otoritarianisme yang kelihatan sebelum dan selama perang.
"Dia (Skard) sangat menentang corak pengasuhan yang berorientasi pada hukuman, sebaliknya mengajarkan orang tua untuk melihat segala sesuatu dari perspektif pandang anak, untuk bertanya, 'Apa yang dialami anak dalam situasi ini? Apa yang dipahami anak sekarang? Bagaimana aku dapat membantu anak memahami apa yang sedang terjadi? Bagaimana aku dapat mendukung anak dalam situasi ini?'," katanya.
Ada juga karena praktis lain yang mendasari beberapa corak pengasuhan berdikari di Norwegia. Sebagian besar perempuan di Norwegia bekerja.
Norwegia memiliki angkatan kerja yang termasuk paling sederajat gender, dengan sekitar 73 persen dari semua lelaki usia produktif bekerja, dan sekitar 67 persen perempuan bekerja. Tak cuma itu, jasa penitipan anak juga tersedia secara luas dan sangat terjangkau, yang berarti bahwa bekerja di luar rumah menguntungkan secara finansial.
Seorang kurator dan sejarawan di Museum Stavanger, Mette Tveit, membagikan pengalamannya dalam mengasuh anak berdikari di Norwegia. Menurutnya, anak-anak Norwegia sangat berdikari sehingga mereka mengatur sendiri agenda bermain dengan kawan sebaya.
"Saya menghabiskan waktu di Amerika Serikat dan aku melihat sepertiapa orang tua mengatur hal-hal tersebut. Tetapi di Norwegia, terlebihlagi anak-anak kecil pun akan mengatur aktivitas sosial mereka dan mengatur waktu luang mereka," ungkap Tveit.
"Mereka cuma berbuat apa yang mereka inginkan. Adalah hal yang normal bagi anak-anak Norwegia untuk memberi tahu orang tua mereka apa yang mereka lakukan. Meminta persetujuan bukanlah hal yang normal. Mereka cuma dipercaya untuk membikin keputusan yang baik," sambungnya.
Kepercayaan adalah sesuatu yang sering muncul ketika berbicara dengan orang tua di Norwegia. Misalnya, selama liburan sekolah, orang tua di sana bahagia membiarkan anak-anaknya bermain di luar seharian asalkan mereka tahu kapan waktu pulang, dan anak-anak pun patuh.
Selain kepercayaan, orang tua di Norwegia juga mengenalkan kegagalan pada anak-anaknya sebagai proses belajar. Mereka memegang sebuah pernyataan, 'nikmati kebebasan untuk membikin kesalahan, tetapi belajarlah dari kesalahan tersebut'.
Di Norwegia, kita dapat menemukan banyak taman kanak-kanak dan sekolah kecil yang terletak di setiap lingkungan. Ini berarti, anak-anak pergi dan pulang sekolah dengan rentang yang relatif dekat dengan rumahnya. Hal tersebut juga dapat menurunkan bilangan kejahatan yang berhubungan dengan anak-anak, Bunda.
"Kami mempercayai orang lain, tetapi kami tidak naif. Selain semua pelajaran lainnya, kami juga mengajari anak-anak untuk tidak pergi ke mana pun dengan orang luar dan kami mempraktikkan berjalan kaki dengan terlindungi di tengah kemudian lintas," ungkap imam di sebuah taman kanak-kanak di Stavanger, Hanne Myhre.
Myhre percaya bahwa menanamkan keahlian tersebut tak cuma membantu menumbuhkan kemandirian, tetapi juga menaikkan kepercayaan diri, yang mengarah pada remaja yang tumbuh dengan matang dan orang dewasa yang memiliki kapasitas pengambilan keputusan yang baik.
Demikian pola asuh orang Norwegia yang mendidik anak berdikari sejak dini. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)