Gentle Parenting Disebut Bisa Bikin Anak Manja, Benarkah?

May 14, 2026 04:30 PM - 1 bulan yang lalu 24369

Jakarta -

Gentle parenting alias pendekatan yang lembut untuk mengasuh anak sekarang sudah jadi istilah yang cukup terkenal di media sosial. Banyak orang tua mulai melirik pendekatan ini lantaran dinilai lebih tenang dalam menghadapi anak.

Di beragam platform seperti TikTok dan Instagram, muncul banyak pandangan tentang pola asuh ini. Tak sedikit pula yang menilai gentle parenting terlihat memberi ruang pada anak, sehingga dianggap kurang tegas.

Padahal, gentle parenting sebenarnya dikenal sebagai pendekatan yang mengutamakan empati, batas yang jelas, dan kerja sama antara orang tua dan anak. Pendekatan ini tidak berfaedah membiarkan anak melakukan semua perihal sesuka hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski begitu, tetap ada dugaan bahwa metode yang satu ini terlalu mengikuti kemauan anak hingga disebut bikin anak manja. Lalu, gimana sebenarnya penjelasan para mahir soal gentle parenting ini?

Mari kita cari tahu jawaban selengkapnya berikut ini, Bunda.

Benarkah gentle parenting bisa bikin anak manja?

Dilansir dari laman Parents, kekhawatiran bahwa gentle parenting bisa membikin anak menjadi manja kerap muncul dalam beragam percakapan di media sosial. Sebagian orang beranggapan jadi kurang tegas jika anak terlalu sering diberi penjelasan secara lembut.

Para mahir berpendapat, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini lebih jarang mendapat penolakan alias larangan dari orang tua. Hal ini dikhawatirkan membikin anak tumbuh menjadi lebih manja dalam kesehariannya.

Namun, dugaan tersebut belum didukung oleh bukti yang kuat ya, Bunda. Terutama jika gentle parenting diterapkan sesuai tujuan awalnya, ialah dengan memberi batas yang jelas pada anak.

Seorang ahli perkembangan anak dan kesehatan perilaku serta psikolog berlisensi di Amerika Serikat, Kate Norwalk, PhD, mengatakan gentle parenting sebenarnya banyak mengambil konsep dari pola asuh lain yang sudah lebih dulu diteliti.

"Gentle parenting banyak meminjam buahpikiran dari pendekatan pengasuhan lainnya, seperti pengasuhan otoritatif, yang telah banyak diteliti lantaran pengaruh positifnya pada perkembangan sosial, emosional, dan perilaku anak," jelas Norwalk.

Ia menjelaskan bahwa banyak prinsip dalam gentle parenting sebenarnya sudah lama diteliti. Hasilnya pun justru menunjukkan akibat yang positif bagi perkembangan anak.

"Jadi dalam perihal itu, banyak strategi yang digunakan dalam gentle parenting sangat efektif untuk membantu anak mengelola emosi dan perilakunya, serta membangun ketahanan dan kepintaran emosional," katanya.

Pendapat lain juga disampaikan oleh Asisten Profesor Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Universitas Duke, Leigh Spivey-Rita, PhD. Ia menilai pendekatan ini dapat membantu anak lebih siap menghadapi kehidupannya.

Hal ini memberi mereka perangkat yang mereka butuhkan untuk dapat menavigasi bumi secara efektif. Ini juga membantu mereka belajar tentang diri mereka sendiri serta membantu mereka belajar tentang orang lain dan mendapatkan pemahaman tentang gimana bumi bekerja," katanya.

Jadi, apakah gentle parenting betul bisa membikin anak menjadi manja? Berdasarkan penjelasan dari para ahli, belum ada bukti yang memastikan perihal tersebut terjadi, Bunda.

Meski begitu, psikolog Norwalk mengatakan bahwa yang paling krusial adalah gimana langkah orang tua menerapkan pendekatan ini dalam keseharian di rumah.

Para mahir ungkap kunci keberhasilan gentle parenting

Menurut psikolog Norwalk, kunci keberhasilan gentle parenting adalah dengan memvalidasi emosi anak sembari tetap menetapkan batas dan akibat atas perilaku mereka.

"Batasan membantu anak-anak merasa kondusif dengan membikin segala sesuatunya lebih konsisten dan dapat diprediksi," katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa orang tua perlu membedakan antara emosi dan perilaku anak. Semua emosi mereka boleh saja dirasakan, tetapi tidak semua perilaku bisa dibenarkan.

"Saya mendorong orang tua untuk mengomunikasikan kepada anak-anak mereka bahwa semua emosi, tetapi tidak semua perilaku, diperbolehkan. Misalnya, 'Tidak apa-apa untuk marah, tetapi tidak boleh memukul alias melempar mainan saat marah,'" ujar Norwalk.

Sementara itu, Spivey-Rita menjelaskan bahwa anak mini belum sepenuhnya bisa mengatur emosinya sendiri, Bunda. Karena itu, mereka tetap memerlukan pengarahan dari orang tua.

"Tidak realistis bagi orang tua untuk mengharapkan seorang anak mini bisa menyadari emosi mereka dan kemudian mengaturnya secara efektif lantaran mereka belum mempelajarinya. Oleh lantaran itu, gentle parenting datang dengan memberikan support berjenjang untuk mengembangkan keahlian tersebut," tuturnya.

Sebagai contoh, dia mengatakan bahwa jika seorang anak tampak frustrasi, Bunda bisa mengatakan, "Bunda bisa memandang bahwa tubuhmu tidak tenang sekarang, Anda terlihat seperti sedang frustrasi".

Pada akhirnya, anak pun mulai bisa mengatur emosinya sendiri secara bertahap. Perlu diketahui, proses ini tentunya memerlukan ruang bagi mereka untuk bisa belajar mandiri.

Lebih lanjut, Norwalk menjelaskan salah satu perihal yang sering ditemui dalam praktiknya, ialah orang tua yang berupaya menenangkan alias berinteraksi dengan anak saat sedang tantrum.

Ia mengatakan kondisi tersebut justru bisa bikin perilaku anak semakin meningkat dan mengurangi kesempatan mereka untuk belajar mengatur emosinya sendiri.

"Salah satu contoh paling umum yang saya lihat dalam praktik saya adalah ketika orang tua mencoba berinteraksi alias menenangkan anak mereka saat mereka sedang tantrum alias mengamuk," kata Norwalk.

"Hal ini tidak hanya sering menyebabkan peningkatan perilaku, tetapi juga menghilangkan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengatur emosinya sendiri," pungkasnya.

Itulah penjelasan mengenai betul alias tidaknya dugaan bahwa gentle parenting bisa membikin anak menjadi manja. Semoga informasinya dapat membantu ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya