Gorpcore dan Kaburnya Batas antara Outdoor dan Streetwear

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 9 menit 513x dilihat
Gorpcore dan Kaburnya Batas antara Outdoor dan Streetwear

Bagikan Postingan

Beberapa tahun lalu, mengenakan shell jacket, trail shoes, cargo pants, fleece, dan sling bag teknikal di tengah kota mungkin terlihat seperti seseorang yang salah kostum untuk hiking. Sekarang, kombinasi tersebut sudah menjadi bagian dari bahasa fashion sehari-hari.

Fenomena itu dikenal sebagai gorpcore—istilah yang merujuk pada mengambil busana outdoor dan performance gear ke dalam style urban. Nama “gorp” sendiri berasal dari slang Amerika untuk campuran makanan ringan seperti “good ol’ raisins and peanuts”, bekal klasik para pendaki.

Namun gorpcore sekarang sudah berkembang jauh melampaui hiking culture. Ia menjadi titik jumpa antara outdoor apparel, streetwear, luxury fashion, dan consumer lifestyle.

GQ pada 2025 menggambarkan gorpcore sebagai salah satu estetika paling berpengaruh dalam fashion modern, ketika technical shells, fleece, trail shoes, dan busana utilitarian beranjak dari jalur pendakian ke fashion week dan jalanan kota.

Dari Peralatan Gunung Menjadi Fashion Kota

Pakaian outdoor pada dasarnya dirancang untuk fungsi. Shell jacket dibuat untuk menahan hujan dan angin. Fleece memberikan insulasi dengan berat ringan. Trail shoes menawarkan grip untuk medan tidak rata. Cargo pants memberikan ruang penyimpanan tambahan.

Dalam konteks gorpcore, kegunaan tersebut justru menjadi estetika. Zipper besar, drawcord, membrane waterproof, pocket modular, reflective detail, hingga siluet oversized yang sebelumnya datang lantaran kebutuhan teknis berubah menjadi bagian dari visual fashion.

Hal yang menarik adalah konsumen tidak selalu memerlukan keahlian teknis tersebut. Seseorang dapat memakai sepatu Salomon XT-6 tanpa pernah melakukan trail running alias mengenakan Arc’teryx shell hanya untuk menghadapi hujan ringan dalam perjalanan ke kantor.

Vogue apalagi menyebut kejadian ini dengan sedikit ironi: hiking sneakers yang mungkin tidak pernah menghadapi medan lebih ekstrem daripada trotoar kota. Namun justru di situlah gorpcore bekerja—performance gear memperoleh kehidupan kedua sebagai lifestyle product.

 How to be Outdoor Fashionable

Photo Cr. Adidas

Data Menunjukkan Outdoor Tidak Lagi Hanya untuk “Outdoor People”

Perubahan tersebut juga terlihat dalam informasi industri. Outdoor Industry Association mencatat penjualan retail pasar outdoor Amerika Serikat mencapai sekitar US$28 miliar pada 2024, naik 1 persen dibanding tahun sebelumnya. Yang menarik, pertumbuhan terbesar justru datang dari footwear dan accessories, sementara apparel relatif datar dan equipment sedikit menurun.

Lebih krusial lagi, OIA menyebut casual consumers, bukan hardcore outdoor enthusiasts, sebagai pendorong utama pertumbuhan pasar. Laporan konsumen mereka pada 2025 apalagi mencatat bahwa kategori casual dan active lifestyle participants menyumbang lebih dari 90 persen pengeluaran pasar outdoor.

Artinya, pasar outdoor semakin berjuntai pada orang yang mungkin tidak mendaki gunung setiap minggu, tetapi menyukai kenyamanan, fungsi, desain, dan identitas yang dibawa produk outdoor.

Gorpcore kemudian bukan sekadar tren fashion yang “mencuri” busana pendaki. Ia juga mencerminkan perubahan struktur konsumsi industri outdoor itu sendiri.

Arc’teryx dan Salomon Menjadi Simbol Pergeseran

Tidak banyak brand yang menggambarkan perubahan ini sejelas Arc’teryx dan Salomon. Keduanya berasal dari bumi performance outdoor. Arc’teryx membangun reputasi melalui technical apparel untuk climbing dan alpine environment, sementara Salomon berakar kuat pada skiing, trail running, dan footwear performance. Sekarang keduanya mempunyai posisi yang sangat kuat dalam streetwear dan fashion.

Amer Sports, perusahaan induk Arc’teryx dan Salomon, mencatat pendapatan grup sebesar US$6,6 miliar sepanjang 2025, tumbuh 27 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada kuartal keempat 2025, segmen Technical Apparel tumbuh 34 persen, sementara Outdoor Performance tumbuh 29 persen. Salomon sendiri telah menembus lebih dari US$2 miliar dalam penjualan tahunan.

Momentum tersebut bersambung hingga 2026. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan Technical Apparel Amer Sports meningkat 32 persen, sementara Outdoor Performance—yang antara lain ditopang Salomon—melonjak 37 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Tentu pertumbuhan itu tidak bisa seluruhnya diklaim sebagai hasil gorpcore. Arc’teryx dan Salomon tetap mempunyai pasar atlet dan outdoor yang nyata. Namun perkembangan tersebut menunjukkan bahwa performance brands sukses memperluas audiens jauh melampaui konsumen teknis tradisional.

Mengapa Streetwear Begitu Mudah Menerima Outdoor Gear?

Streetwear sejak awal mempunyai sejarah mengambil barang utilitarian lampau memberi makna baru. Sneakers awalnya merupakan perlengkapan olahraga. Workwear berasal dari busana pekerja. Military jackets lahir dari kebutuhan militer. Denim berkembang dari busana kerja sebelum menjadi fashion global.

Gorpcore mengikuti logika yang sama. Outdoor gear menawarkan sesuatu yang sangat cocok dengan DNA streetwear: fungsi yang terlihat.

Pocket bukan sekadar dekorasi. Zipper mempunyai tujuan. Material mempunyai spesifikasi. Sepatu mempunyai outsole yang dirancang untuk performa. Detail teknis membikin sebuah produk terasa mempunyai legitimasi lebih daripada sekadar fashion object.

Dalam budaya konsumen yang semakin skeptis terhadap logo besar, kegunaan apalagi dapat menjadi corak baru status. Seseorang tidak kudu menunjukkan monogram luxury ketika brand, material, alias bangunan teknis sebuah jaket sudah dapat dikenali oleh organisasi tertentu.

the north face x gucci

The North Face x Gucci

Ketika Luxury Ikut Mendaki Gunung

Gorpcore semakin susah disebut sebagai subkultur ketika luxury fashion mulai mengambil bahasa visual yang sama. Vogue mencatat bahwa koleksi Autumn/Winter 2025 memperlihatkan pengaruh outdoor yang kuat—mulai dari technical outerwear, plaid, earthy colors, hingga komponen utilitarian pada koleksi beragam luxury houses.

Kolaborasi juga mempercepat pertukaran tersebut. The North Face pernah bekerja dengan Gucci dan Supreme. Salomon bekerja-sama dengan MM6 Maison Margiela dan Sandy Liang. Arc’teryx mempunyai Veilance serta kerjasama yang menempatkannya semakin dekat dengan bumi fashion. Hasilnya adalah hubungan dua arah.

Streetwear mengangkat teknologi outdoor, sementara luxury fashion mengangkat simbol ketangguhan, utilitas, dan adventure. Jaket yang secara teknis dapat menghadapi angin besar kemudian dipakai untuk menghadiri fashion show. Kontradiksi tersebut bukan kelemahan gorpcore. Justru itulah inti estetikanya.

Pandemi Mempercepat Perubahan, tetapi Bukan Memulainya

Gorpcore sudah berkembang sebelum pandemi, tetapi periode 2020–2022 memberikan lingkungan yang ideal untuk mempercepatnya. Remote working, athleisure, meningkatnya minat pada kegiatan luar ruang, dan kebutuhan terhadap busana yang lebih nyaman membikin pemisah antara busana kerja, olahraga, outdoor, dan leisure semakin kabur.

GQ memandang fase tersebut sebagai titik ketika beragam tren—streetwear, vintage outdoor, performance clothing, dan perubahan style hidup pascapandemi—bertabrakan dan membikin gorpcore semakin mainstream. Pada saat yang sama, kegiatan outdoor memang semakin populer.

Outdoor Industry Association mencatat partisipasi outdoor di Amerika mencapai 175,8 juta orang pada 2023, alias 57,3 persen populasi berumur enam tahun ke atas. Data berikutnya menunjukkan jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 181,1 juta peserta pada 2024, sementara laporan 2026 mencatat rekor baru 183,2 juta orang.

Artinya, fashion outdoor berkembang berbarengan dengan meningkatnya minat terhadap kehidupan outdoor itu sendiri. Namun keduanya tidak selalu identik. Seseorang bisa membeli technical jacket lantaran hiking. Orang lain membelinya lantaran desain. Dan banyak konsumen berada di antara keduanya.

Dari Gunung ke Commuter Lifestyle

Salah satu argumen gorpcore memperkuat lebih lama dibanding microtrend biasa adalah lantaran produknya memang praktis untuk kehidupan perkotaan. Jaket waterproof berfaedah bagi commuter. Trail shoes nyaman untuk melangkah jauh. Cargo pants menawarkan storage. Lightweight layering cocok untuk mobilitas tinggi.

Di kota dengan cuaca tidak menentu, transportasi publik, perjalanan kaki, dan kegiatan yang berpindah-pindah, busana teknis apalagi dapat terasa lebih masuk logika dibanding busana fashion yang murni dekoratif.

Karena itu, gorpcore perlahan berubah dari estetika yang terlihat ekstrem menjadi bagian dari wardrobe normal.

Vogue Business apalagi memperkirakan performance wear terus mempunyai ruang besar dalam fashion lantaran munculnya running clubs, padel, hiking, serta beragam kegiatan olahraga yang semakin menjadi bagian dari style hidup generasi muda.

Outdoor kemudian tidak lagi selalu berfaedah “pergi ke alam”. Tapi juga menjadi bahasa tentang mobilitas.

Gore-Tex

Ketika Fungsi Menjadi Status

Ada paradoks menarik dalam perkembangan gorpcore. Pakaian outdoor pada awalnya dibuat agar manusia dapat memperkuat menghadapi kondisi yang sulit. Namun ketika produk tersebut masuk fashion, keahlian teknisnya juga menjadi bagian dari prestige.

Gore-Tex menjadi contoh paling jelas. Material waterproof tersebut selama puluhan tahun diasosiasikan dengan perlengkapan outdoor, tetapi sekarang ditemukan pada produk The North Face, Patagonia dan Arc’teryx hingga Nike, Adidas, Carhartt, dan Moncler.

Spesifikasi seperti waterproof rating, breathable membrane, seam sealing, alias technical insulation kemudian menjadi bahasa produk yang nyaris mirip dengan horsepower pada mobil alias megapixel pada kamera.

Konsumen mungkin tidak pernah menggunakan seluruh keahlian produk tersebut, tetapi potensi performanya mempunyai nilai simbolik. Ada kepuasan tertentu mengetahui jaket yang dipakai untuk membeli kopi sebenarnya dirancang untuk menghadapi kondisi alpine.

Ada Harga Lingkungan di Balik Performance

Namun romantisasi technical apparel juga perlu disertai perspektif yang lebih kritis. Kemampuan busana outdoor menahan air, noda, alias kondisi ekstrem sering berjuntai pada material dan chemical treatment yang kompleks.

Salah satu rumor terbesar adalah penggunaan PFAS—kelompok bahan kimia sintetis yang lama digunakan dalam beragam waterproof dan stain-resistant treatments lantaran sifatnya yang sangat tahan terhadap air dan minyak.

Vogue pada 2025 menyoroti gimana semakin populernya gorpcore juga membawa persoalan lingkungan performance apparel ke audiens yang jauh lebih luas.

Industri outdoor telah mulai bergerak menuju pengganti bebas PFAS pada sejumlah kategori, tetapi rumor tersebut mengingatkan bahwa “technical” tidak otomatis berfaedah sustainable.

Jika seseorang membeli beberapa waterproof jackets hanya lantaran tren, kegunaan yang semestinya memperpanjang kegunaan sebuah produk justru berpotensi berubah menjadi konsumsi fashion biasa dengan material yang lebih kompleks.

Apakah Gorpcore Masih Sebuah Tren?

GQ apalagi sempat mendeklarasikan “RIP Gorpcore” pada 2024, dengan argumen bahwa estetika tersebut sudah begitu mainstream sehingga istilahnya mulai kehilangan fungsi. Ironisnya, itu mungkin justru bukti keberhasilannya.

Ketika trail shoes tidak lagi terlihat asing di pusat kota, fleece tidak lagi dibaca sebagai busana hiking, dan technical shell dapat dipasangkan dengan tailored trousers, gorpcore tidak perlu lagi menjadi subkultur yang diberi nama. Bahasanya telah diserap fashion mainstream.

Dan informasi pasar terbaru menunjukkan bahwa hubungan tersebut belum menghilang. Brand performance terus tumbuh, casual consumers mendominasi shopping outdoor, sementara luxury fashion terus mengambil inspirasi dari utilitas dan kreasi teknis.

Pada akhirnya, gorpcore mungkin tidak lagi krusial sebagai label. Yang lebih krusial adalah perubahan yang ditinggalkannya: batas antara busana untuk melakukan sesuatu dan busana untuk terlihat dengan langkah tertentu semakin susah dibedakan.

Jaket gunung bisa menjadi streetwear. Trail shoes bisa menjadi fashion statement. Fleece bisa tampil di runway. Dan ketika kegunaan sendiri sudah menjadi bagian dari estetika, pertanyaan lama—“ini busana outdoor alias fashion?”—mungkin memang sudah tidak terlalu relevan.

Sumber: Outdoor Industry Association, Outdoor Retail Sales Trends Report 2025, Outdoor Consumer Trends Report 2025 dan Outdoor Participation Trends; Amer Sports, laporan finansial FY2025 dan Q2 2026; VF Corporation; GQ; Vogue; Vogue Business.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads