Ilmuwan Temukan Hal Mengkhawatirkan Pada Bayi Baru Lahir, Bisa Berdampak Jangka Panjang

May 11, 2026 08:10 AM - 1 bulan yang lalu 44071

Jakarta -

Bayi baru lahir memang rentan terhadap beragam gangguan kesehatan. Terbaru, intelektual temukan perihal mengkhawatirkan pada bayi baru lahir, bisa berakibat jangka panjang, Bun.

Menjaga kesehatan bayi dengan maksimal sangatlah penting, terutama sejak mereka lahir. Sebab, bayi tetap sangat sensitif terutama pencernaan mereka sehingga bisa membikin gangguan kesehatan tertentu pada mereka.

Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa adanya karakter yang mengkhawatirkan pada bayi yang dapat memengaruhi kesehatan mereka di kemudian hari. Meskipun beberapa mikrobioma usus dapat diturunkan dalam kandungan, mikrobioma usus bayi baru lahir sebelumnya yang dianggap nyaris steril, sebagian besar diantaranya memperoleh kuman selama kelahiran alias melalui ASI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Temuan terbaru pada bayi baru lahir

Namun, temuan baru membuktikan sebaliknya, seperti penelitian yang dipresentasikan di The European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases Global 2026.

Mengutip dari laman Nypost, penelitian baru menemukan sifat yang mengkhawatirkan pada bayi yang dapat memengaruhi kesehatan mereka, dan semuanya berkah mikrobioma usus mereka.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis sampel tinja dari 105 bayi yang dirawat di neonatal intensive care unit dalam 72 jam pertama kehidupan mereka untuk menangkap tahap awal paparan mikroba dan genetik.

Antibiotic resistance genes alias ARG merupakan segmen DNA yang membantu kuman memperkuat hidup dari pengaruh antibiotik ditemukan pada bayi baru lahir. Ini merupakan kontributor potensial yang dapat memungkinkan untuk menghindari pengobatan antibiotik.

Temuan ini menunjukkan bahwa mikrobioma usus bayi baru lahir rupanya juga dipengaruhi aspek ibu dan lingkungan, salah satunya paparan kuman selama kehamilan.

Para peneliti juga menemukan beragam gen yang mengenai dengan resistensi terhadap antibiotik yang umum digunakan, termasuk gen yang memecah obat-obatan yang banyak digunakan.

ARG dalam perihal ini ditemukan di mikrobioma usus beberapa bayi baru lahir yang artinya mereka dapat menolak pengobatan di masa mendatang. "Temuan ini menunjukkan bahwa pola ARG sudah terbentuk pada tahap ini," kata peneliti utama Dr Argyro Ftergioti.

“Usus neonatal menyimpan resistom yang beragam, dan keberadaan ARG yang krusial secara klinis sejak awal sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Studi ini juga mengidentifikasi hubungan antara gen resistensi dan beberapa aspek ibu dan neonatal. Para peneliti Denmark apalagi mengendus popok kotor bayi untuk lebih memahami susunan mikrobioma usus bayi. Para intelektual mengidentifikasi adanya temuan 10 ribu virus baru dalam popok kotor bayi.

Ini termasuk rawat inap ibu selama kehamilan alias pemasangan kateter vena sentral (tabung untuk memberikan obat alias nutrisi) dalam 24 jam pertama kehidupan.

Kumpulan gen resistensi antibiotik sebelum lahir sebagian besar dibentuk oleh penularan ibu (perpindahan kuman alias mikroba dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, alias menyusui), persalinan, dan paparan rumah sakit yang sangat dini.

“Meskipun beberapa ARG diharapkan, prevalensinya yang tinggi di sebagian besar sampel sangat mencolok,” tambah Ftergioti.

Di sisi lain, kuman usus pada bayi baru lahir memang menjadi bagian krusial yang menunjang perkembangan sistem kekebalan, pencernaan, dan saraf. Sehingga, mikrobioma yang sehat diperlukan untuk perlindungan terhadap infeksi, alergi, dan penyakit kronis di masa depan, seperti asma, hiperaktivitas, dan diabetes.

Studi sebelumnya menemukan bahwa bayi baru lahir mempunyai kuman usus jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya, mengandung sekitar 10.000 jenis virus alias 10 kali lebih banyak daripada jumlah jenis kuman pada anak secara rata-rata.

“Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami gimana pembawaan gen resistensi sejak awal memengaruhi perkembangan mikrobioma dan akibat infeksi, temuan ini menyoroti pentingnya pengawasan, pencegahan, dan pengendalian jangkitan dalam perawatan neonatal,” kata Ftergioti.

Ya, perawatan bayi baru lahir memang cukup menantang, Bun. Menjaga higienitas saja nyatanya tidaklah cukup. Apalagi, paparan kuman dan virus terindikasi sejak kehamilan. Sehingga, menjaga asupan sehat dan menjaga pola hidup bersih sehat perlu dilakukan dengan maksimal. 

Selain itu, pentingnya melakukan kontrol kehamilan dengan teratur untuk memantau kesehatan bayi secara menyeluruh. Sehingga, gangguan kesehatan bisa terdeteksi lebih awal dan tindakan preventif bisa dilakukan lebih awal sehingga akibat berkepanjangan pada bayi bisa dicegah lebih cepat.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya