Sebagian orang tua mungkin tetap memilih untuk memukul anak dalam mendisiplinkannya. Namun, pola asuh tersebut sangatlah berisiko untuk tumbuh kembang Si Kecil, terutama dalam pembentukan kepintaran emosionalnya, Bunda.
Seperti yang kita tahu bahwa pola asuh dengan menghukum anak sudah terjadi sejak lama, apalagi mungkin dialami sejak era kita dulu. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran bakal kesehatan mental, perihal ini tentu menjadi perdebatan.
Tak sedikit orang menilai bahwa langkah ini sudah ketinggalan era dan tidak relevan. Bukan tanpa alasan, karena beragam penelitian terbaru telah membuktikan bahwa memukul anak justru lebih banyak memberi akibat negatif dibandingkan manfaat, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertentangan terhadap tindakan orang tua yang memukul anak
Hal ini juga didukung oleh laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut bahwa balasan bentuk yang diberikan orang tua kepada anak tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, langkah ini justru dapat meningkatkan akibat jangka panjang.
Seorang mahir perkembangan anak, Kim Kopko, menegaskan bahwa memberikan pukulan kepada anak bukanlah sebuah solusi. Menurutnya, alih-alih mengajarkan anak untuk bersikap, langkah ini justru dapat merugikan mereka, baik dari segi bentuk maupun mental.
Tak hanya itu, Komite Hak Anak PBB apalagi menganggap balasan bentuk sebagai pelanggaran kewenangan anak. Berdasarkan perihal tersebut, sekarang puluhan negara telah melarang tindakan orang tua memukul anak mereka di rumah alias sekolah.
Dampak orang tua memukul anak bagi perkembangan Si Kecil
Melansir dari Psychology Today, anak yang sering menerima balasan bentuk berisiko mengalami beragam akibat yang bakal terbawa hingga mereka dewasa. Tentunya akibat ini dapat memberatkan anak dalam berinteraksi dan bersosialisasi di kemudian hari, Bunda.
Berikut beberapa akibat dari orang tua yang sering memukul anak:
- Anak mempunyai perkembangan yang tidak sesuai usianya
- Risiko kekhawatiran dan depresi pada anak meningkat
- Anak mempunyai rasa percaya diri yang rendah
- Anak tumbuh dengan ketidakstabilan emosi
Tak hanya itu, anak yang terbiasa dipukul bakal mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah. Bahkan dalam jangka panjang, akibat tersebut bakal berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks, seperti gangguan mental, penyalahgunaan unsur terlarang, hingga perilaku agresif.
Kenapa memukul anak juga berakibat jelek bagi orang tua?
Tak hanya berakibat jelek bagi anak, balasan bentuk juga dapat memberikan pengaruh negatif bagi orang tua, terutama dalam corak respons kembali dari anak atas perlakuan yang diterimanya. Berikut dampaknya bagi orang tua:
- Hubungan orang tua dan anak menjadi rusak dan tidak harmonis
- Orang tua bakal kehilangan alias setidaknya semakin susah mendapatkan kembali kepercayaan dari anak
- Anak merasa takut dan tidak mau berinteraksi dengan orang tua
Cara mendisiplinkan anak tanpa kekerasan
Berbagai studi memang menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat dan suportif bisa membantu mengurangi akibat negatif dari balasan fisik. Namun, sayangnya perihal ini tidak menghilangkan pengaruh jelek sepenuhnya, Bunda.
Sebaiknya, Bunda dapat mendidik anak dengan menerapkan pola asuh yang seimbang antara kedisiplinan, ketegasan, dan kehangatan. Berikut beberapa pengganti dalam mendisiplinkan anak agar kesehatan mentalnya tetap terjaga:
- Bunda dapat mengajarkan disiplin waktu, seperti memberikannya jarak rehat (time-out)
- Bunda dapat mengurangi akses anak bermain gadget
- Bunda dapat memberikan anak pujian saat mereka berperilaku baik
- Bunda wajib menjadi contoh yang baik bagi anak
- Bunda perlu membujuk anak berbincang dan memberikan pemahaman mengenai akibat dari segala tindakan mereka
Cara mengatasi agar orang tua tidak memukul anak
Mengutip dari laman Parents, mengendalikan emosi diri sendiri merupakan salah satu kunci utama bagi orang tua agar tidak sampai memukul anak saat sedang emosi alias mendisiplinkan. Selain itu, terdapat beberapa perihal yang dapat dilakukan, sebagai berikut:
1. Pahami apa yang membikin marah
Saat sedang marah, otak biasanya berada dalam kondisi yang sangat aktif dan impulsif selama 1-3 menit. Oleh lantaran itu, berilah jarak sebelum bereaksi dan biarkan emosi tersebut mereda. Dengan melatih kesabaran dan memahami apa yang memicu kemarahan, maka bakal membantu Bunda untuk mengendalikan respons emosional.
2. Kenali trauma yang menjadi pemicu
Reaksi marah dapat dipengaruhi oleh beragam hal, termasuk pengalaman masa kecil, pola asuh, hingga trauma yang belum selesai. Dengan menyadari perihal ini, orang tua dapat lebih bijak dalam merespons perilaku anak.
3. Tetaplah bersikap tenang
Menjaga diri tetap tenang adalah salah satu langkah yang paling membantu, Bunda. Dalam praktiknya, Bunda bisa melakukan meditasi alias latihan mindfulness. Selain membantu orang tua mengelola stres, praktik ini juga bisa memperkuat ikatan kekeluargaan dan membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosinya.
4. Kelola stres secara mandiri
Jika pemicu emosi berasal dari tingkat stres yang tinggi, krusial untuk mencari langkah yang lebih ahli untuk mengatasinya, Bunda. Misalnya, konsultasi dengan psikolog sekaligus berbincang dengan pasangan mengenai pembagian peran di rumah sehingga Bunda tidak terlalu capek dan tidak mudah terpancing emosi.
Demikian penjelasan mengenai akibat yang terjadi andaikan orang tua memukul anak. Semoga dapat menjadi perhatian dan info yang disampaikan berfaedah bagi Bunda serta orang tua lainnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·