Inovasi Daur Ulang Air Dan Ekonomi Sirkular Di Invirotech 2026

Jun 23, 2026 02:48 PM - 1 jam yang lalu 61

Dunia tengah berada dalam ancaman krisis air global, mengungat saat ini terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan kesiapan air bersih. Diperkirakan sekitar 2,2 miliar orang tidak mempunyai akses ke jasa air minum yang dikelola secara aman. Hal ini dipicu oleh perubahan iklim, ledakan populasi, dan pencemaran lingkungan, yang berakibat pada krisis pangan dan kesehatan.

Sehubungan dengan rumor lingkungan, dan memperingati Hari Lingkungan Hidup, diadakan Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berjalan pada 11–13 Juni 2026 tersebut, berbagai penemuan di bagian lingkiungan terutama tentang sustainability ditampilkan. PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menampilkan beragam inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju daya yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya kesiapan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan akomodasi daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di beragam unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang sukses didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya akibat kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai langkah untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan suasana yang semakin dinamis.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan sukses mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 alias sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui beragam pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk berbobot tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kerjasama dengan masyarakat alias golongan masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan faedah lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor daya dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber daya yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara berjenjang menghentikan penggunaan batu bara di seluruh akomodasi operasionalnya dan beranjak ke sumber daya yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, daya biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan daya perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapabilitas terpasang 1,8 MWp di beragam unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik upaya berkepanjangan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan keahlian finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

Selengkapnya