Jakarta -
KB IUD laki-laki tengah dikembangkan oleh tim peneliti di Lille, Prancis. Alat kontrasepsi berjulukan STEOM ini digadang-gadang sebagai salah satu penemuan baru dalam kontrasepsi laki-laki lantaran dirancang tanpa hormon, berkarakter reversibel, dan bekerja secara mekanis untuk menghalang perjalanan sperma.
Berbeda dari metode kontrasepsi laki-laki yang sudah ada, KB IUD laki-laki ini menawarkan opsi tanpa hormon, berkarakter reversible (dapat dibalik alias dilepas), serta hanya memerlukan proses pemasangan yang terhitung singkat.
Cara kerja KB IUD laki-laki (STEOM)?
Perangkat STEOM bekerja dengan prinsip mekanis yang mirip seperti IUD (intrauterine device) pada perempuan. Fokus utamanya adalah mencegah sperma melewati saluran reproduksi tanpa memengaruhi kadar hormon tubuh maupun mematikan kesuburan laki-laki secara permanen. Beberapa poin krusial mengenai prosedur dan sistem perangkat ini meliputi:
1. Prosedur pemasangan cepat
Mengutip laman Ma-grande-taille, KB IUD laki-laki ini dipasang melalui prosedur mini yang dilakukan dengan anestesi lokal. Prosedurnya berjalan sekitar 15 menit dan memerlukan sayatan mini pada skrotum. Menurut master yang mengembangkan proyek tersebut, prosedur ini tidak memerlukan jahitan maupun perban yang besar.
2. Masa pakai jangka panjang
STEOM dirancang untuk tetap terpasang selama tiga tahun. Setelah itu, perangkat dapat dilepas alias diganti oleh tenaga ahli yang telah mendapatkan pelatihan.
3. Kesuburan tetap aman
Setelah masa pakai berakhir, perangkat dapat dilepas alias diganti oleh tenaga medis ahli sehingga tingkat kesuburan laki-laki bisa kembali seperti semula.
Alasan penemuan KB IUD pria dikembangkan
Pengembangan proyek KB IUD laki-laki yang diprakarsai oleh androlog Julie Prasivoravong ini berangkat dari terbatasnya opsi kontrasepsi untuk pria. Selama ini, laki-laki umumnya hanya mempunyai tiga pilihan: Kondom, metode alami, alias vasektomi yang condong permanen.
Karena itu, STEOM dirancang sebagai pengganti yang lebih elastis sekaligus menjawab rumor kesetaraan beban kontrasepsi yang selama ini lebih banyak ditanggung oleh perempuan.
Proyek ini dipimpin oleh Lille University Hospital bekerja sama dengan University of Liège serta sejumlah peneliti yang mengkhususkan diri dalam teknologi medis.
Tahapan uji klinis dan peluncuran ke pasaran
Meskipun menarik banyak minat, masyarakat tetap kudu bersabar untuk dapat mengakses perangkat KB IUD laki-laki ini secara luas.
- Uji praklinis : Dimulai pada Mei 2026 di University of Liège.
- Uji klinis: Jika hasil uji awal memuaskan, pengetesan lanjutan bakal melibatkan sekitar 100 sukarelawan di Prancis dan Belgia.
- Regulasi ketat: Sebagai perangkat medis, STEOM kudu melewati pengetesan keamanan yang ketat sehingga diperkirakan baru bakal tersedia secara komersial dalam waktu 7 hingga 10 tahun mendatang.
Tanggung jawab perangkat kontrasepsi antar pasangan
Kemunculan STEOM kembali memicu perdebatan yang sudah lama dikenal, ialah mengenai pembagian tanggung jawab dalam penggunaan kontrasepsi. Hingga saat ini, sebagian besar metode kontrasepsi yang digunakan tetap berjuntai pada tubuh perempuan.
Pil KB, IUD hormonal, implan, maupun koyo kontrasepsi kerap disertai beragam akibat fisik, mental, alias hormonal yang cukup signifikan.
Di sisi lain, semakin banyak laki-laki yang memilih menjalani vasektomi. Di Prancis, jumlah prosedur tersebut meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menjadi tanda bahwa sebagian laki-laki mau mengambil peran lebih besar dalam urusan kontrasepsi. Karena itu, STEOM berpotensi menjadi langkah baru dalam tren tersebut.
Respons publik dan obrolan gender
Di media sosial, ada satu perihal yang berulang kali muncul dalam beragam diskusi. Banyak wanita menyoroti sungguh menariknya memandang kemunculan kontrasepsi laki-laki yang secara unik dirancang "bebas hormon", sementara wanita telah menggunakan kontrasepsi hormonal selama puluhan tahun, terkadang dengan pengaruh samping yang cukup berat.
Kenaikan berat badan, migrain, penurunan libido, kelelahan, hingga perubahan suasana hati menjadi beberapa keluhan yang kerap dibagikan wanita mengenai pengalaman mereka menggunakan metode kontrasepsi hormonal tertentu.
Bagi sebagian pengguna media sosial, perbedaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan historis dalam langkah bumi medis memandang kontrasepsi berasas gender.
Namun, ada pula yang menilai bahwa memperluas pilihan kontrasepsi bagi laki-laki tetap merupakan langkah positif, terutama jika perihal tersebut dapat mendorong pembagian tanggung jawab kontrasepsi yang lebih seimbang dalam hubungan pasangan.
Meski begitu hadirnya KB IUD laki-laki STEOM ini, menandai babak baru. Lebih dari sekadar penemuan medis, proyek ini membuka ruang untuk percakapan yang lebih luas mengenai tanggung jawab berbareng dalam kontrasepsi, mendengarkan kebutuhan tubuh, serta keberagaman pilihan metode kontrasepsi.
Begitulah info tentang KB IUD laki-laki STEOM yang tetap dikembangkan di Prancis ya, Bunda. Semoga informasinya bermanfaat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)