Memberi uang, dan bayar hutang (ilustrasi).
JAKARTA— Allah SWT membolehkan utang-piutang dan menetapkan sejumlah syarat serta adab yang mesti dipatuhi.
Ketentuan tersebut bermaksud melindungi pihak yang memberi utang maupun pihak yang berutang dari beragam konsekuensi dan akibat buruk, baik dalam urusan kepercayaan maupun hayat dunia.
Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى...
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila Anda berbuat utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah Anda menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara Anda menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan.
Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya, lemah (keadaannya), maupun tidak bisa mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar.
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi lelaki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang Anda sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya...” (QS Al-Baqarah [2]: 282)
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, penduduknya biasa berbuat transaksi salaf (jual beli dengan pembayaran di muka) kurma untuk jangka waktu dua hingga tiga tahun. Beliau kemudian bersabda:
"من أَسلف في شيء ففي كيل معلوم، ووزن معلوم، إلى أجل معلوم".
“Barang siapa berbuat transaksi salaf untuk suatu barang, hendaklah dengan takaran yang diketahui, timbangan yang diketahui, dan jangka waktu yang diketahui.” (HR Muttafaq ‘alaih).
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memperhatikan syarat dan adab dalam berutang serta menghindari beragam bentuk transaksi yang diharamkan.