Jakarta -
Setiap orang tua tentu punya langkah masing-masing dalam mendidik anak. Namun tak bisa dipungkiri, Bunda mungkin pernah merasa bingung gimana langkah agar anak mau mendengarkan.
Tak jarang, kalimat yang terdengar sepele justru punya pengaruh dalam pola komunikasi dengan Si Kecil. Dalam keseharian, banyak orang tua menggunakan kalimat tegas agar anak bisa menurut.
Sayangnya, tidak semua langkah tersebut efektif jika digunakan terus-menerus. Seorang psikolog sekaligus peneliti asal Amerika Serikat, Reem Raouda, membagikan pandangannya soal perihal ini.
Menurutnya, ada kalimat yang sering diucapkan orang tua tanpa disadari justru ini kurang efektif. Kalimat "Karena Bunda & Ayah bilang begitu" menjadi salah satu contoh yang sering diucapkan dalam mengasuh anak.
Raouda menjelaskan bahwa penggunaan kalimat tersebut bisa berakibat pada langkah anak dalam mengenal aturan. Ia juga menilai bahwa pendekatan seperti ini tidak membikin mereka betul-betul mengerti.
"Kalimat 'Karena Bunda & Ayah bilang begitu,' menghentikan komunikasi dan membikin anak hanya menurut tanpa memahami alasannya," jelas Raoda dikutip dari laman New York Post.
Oleh lantaran itu, dia menyarankan orang tua untuk mulai mengubah langkah berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, ada kalimat lain yang justru dinilai lebih efektif.
Psikolog ungkap kalimat pengganti "Karena Bunda & Ayah bilang begitu" yang lebih efektif
Psikolog Raouda menyarankan orang tua untuk menggunakan kalimat yang lebih tenang dan tetap menghargai emosi anak. Kalimat yang disarankan sebenarnya cukup sederhana, ialah "Bunda dan Ayah tahu Anda tidak menyukai keputusan ini. Kami bakal menjelaskannya, lampau kita bakal melanjutkan".
Dengan langkah ini, anak bakal merasa didengar sekaligus mengenal batas yang diberikan. Bunda pun tetap memegang kendali, tetapi dengan pendekatan yang lebih tenang.
Di sisi lain, ada juga kebiasaan yang sering dilakukan ketika orang tua merasa kesal. Misalnya dengan memberikan ancaman agar anak mau menurut.
Sebagai gantinya, Raouda menyarankan Bunda dan Ayah untuk menggunakan kalimat yang lebih positif. Cara ini tetap memberikan batas kepada anak tanpa membikin mereka merasa dipaksa.
"Kalimat seperti, 'Ketika Anda siap melakukan (perilaku spesifik), kita bisa melakukan (aktivitas yang diinginkan)' adalah langkah lain yang tetap bisa membantu anak mengikuti arahan," ungkapnya.
Artinya, Bunda memberi pilihan yang jelas kepada anak. Jadi, jika anak mau dan siap melakukan perihal yang diminta, dia pun bisa mendapatkan perihal yang diinginkan.
Selain itu, krusial juga untuk tidak meremehkan emosi anak, ya. Kalimat seperti, "Hentikan, Anda bakal baik-baik saja" justru bisa berakibat pada hubungan Bunda dengan Si Kecil.
Mengabaikan emosi anak seperti ini bisa membikin mereka merasa tidak dipahami oleh orang tuanya. Hal ini juga dapat membikin anak menjadi kurang terbuka.
"Mengabaikan emosi anak mengajarkan mereka bahwa emosi mereka salah alias terlalu susah untuk ditangani. Ketika seorang anak merasa didengarkan, mereka bakal lebih sigap tenang dan lebih mempercayai orang tua," jelas Raouda.
Gaya pengasuhan lain yang perlu dihindari orang tua
Selain menjelaskan tentang kalimat yang kurang efektif, ada juga pola pengasuhan lain yang perlu diperhatikan oleh Bunda dan Ayah. Para mahir menyebutnya sebagai "Pengasuhan ego".
Gaya pengasuhan ini terjadi ketika orang tua lebih konsentrasi pada emosi dan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, konsentrasi utama dalam mendidik anak pun bisa bergeser.
"Pengasuhan ego terjadi ketika orang tua mengasuh anak berasas kebutuhan mereka sendiri untuk merasa baik, benar, memegang kendali, alias divalidasi," kata seorang terapis kesehatan mental di Los Angeles, California, Cheryl Groskopf.
"Ini bukan lagi tentang mendukung pertumbuhan anak, melainkan lebih melindungi gambaran alias emosi orang tua," lanjutnya.
Contoh dari pengasuhan ini bisa terlihat dalam keseharian. Misalnya, orang tua susah mengalah saat berdebat, jarang meminta maaf, alias memaksa anak mengikuti kemauan tertentu.
Kebiasaan seperti ini rupanya bisa memengaruhi langkah anak memandang dirinya sendiri. Mereka juga merasa kudu 'selalu' memenuhi angan orang tuanya. Hal ini dijelaskan langsung oleh terapis kesehatan mental di Amerika Serikat, Dr. Caroline Fenkel.
"Mereka [anak-anak] sering kali menanamkan kepercayaan bahwa cinta itu bersyarat, bahwa mereka hanya berbobot ketika mereka berprestasi, berperilaku, alias merasa dengan langkah tertentu," kata Fenkel.
Dampaknya, anak bisa tumbuh dengan emosi resah dan kurang percaya diri, Bunda. Bahkan, mereka juga bisa merasa takut kandas dan condong perfeksionis.
Itulah penjelasan tentang pentingnya menghindari ucapan "Karena Bunda & Ayah bilang begitu" serta pengganti kalimat yang bisa digunakan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·