ILUSTRASI Puasa Ramadhan.
Kincai Media , Ramadhan 1447 H tinggal sebulan lagi, namun mungkin ada sebagian umat Islam yang tetap mempunyai tanggungjawab yang belum tertunaikan, ialah membayar utang puasa Ramadhan tahun lalu. Utang puasa biasanya terjadi lantaran uzur syar’i, seperti sakit, haid, nifas, hamil, menyusui, alias kondisi tertentu yang dibenarkan agama.
Islam mengajarkan agar setiap tanggungjawab yang tertinggal segera ditunaikan dan tidak ditunda tanpa argumen yang jelas. Membayar utang puasa Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga corak tanggung jawab seorang hamba kepada Allah SWT.
Terkait tanggungjawab membayar utang puasa sendiri, Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 184:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara Anda sakit alias dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib bayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika Anda mengetahui." (QS Al-Baqarah [2]:184).
Ayat ini menjadi dasar tanggungjawab qadha puasa bagi mereka yang meninggalkan puasa Ramadhan lantaran uzur. Mayoritas ustadz sepakat bahwa utang puasa wajib dibayar sebelum datang Ramadhan berikutnya, selama tetap ada kesempatan dan kemampuan.
Menunda qadha puasa tanpa argumen syar’i apalagi dapat berkonsekuensi tanggungjawab bayar fidyah, menurut sebagian pendapat ulama.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·