Jika Ulama Berbeda Pendapat, Bagaimana Santri Harus Bersikap?

Intisari Islam Jul 29, 2026 05:48 AM 1010

Kincai Media, Jakarta -- Dalam khazanah keilmuan Islam, tak jarang dihiasi pendapat yang beragam. Adakalanya muncul perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Bagaimana dengan santri yang posisinya adalah seseorang yang sedang mempelajari ilmu-ilmu agama? Mengenai perihal ini, Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebuireng dan juga pendiri Nahdlatul Ulama memberikan nasihatnya. Hal ini beliau tuliskan dalam kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa Mutaalim.

Menurut Kiai Hasyim Asyari, sejak awal seorang santri kudu bisa menahan diri dan tidak terjebak dalam perbedaan pandangan di antara para ustadz dan juga manusia umumnya secara mutlak. Baik pada masalah pemikiran maupun pendengaran lantaran perihal itu bakal membikin hatinya menjadi bimbang, dan membikin pikiran tidak tenang.

Sejak awal, santri kudu bisa meyakinkan diri untuk berpegang pada satu kitab saja dan jika memperoleh izin dari pembimbing alias kiainya, maka dia boleh menggunakan beberapa kitab yang berbeda. Namun, andaikan metode yang dipakai gurunya hanya menukil, memindahkan pendapat dari beberapa ajaran dan ikhtilaf sedangkan dia sendiri tidak mempunyai satu pendapat, maka sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali, hendaknya dia berhati-hati lantaran bahayanya tetap lebih banyak dibanding manfaatnya.

Kiai Hasyim Asyari melanjutkan, begitu juga seorang santri hendaknya dalam mempelajari beragam macam kitab sejak awal berhati-hati lantaran perihal itu bisa menyia-nyiakan waktu dan tidak bisa berkonsentrasi. Bhakan, santri kudu memberikan kitab-kitab dan pelajaran yang dia pelajari kepada gurunya untuk dilihat agar pembimbing bisa memberikan pengarahan kepercayaan santri.

Demikian pula jika menukil dari satu kitab ke kitab yang lain tanpa ada yang mewajibkan, dia juga kudu berhati-hati, lantaran bisa jadi bakal muncul indikasi kebosanan dan tanda tidak ada keberuntungan. 

Namun, andaikan santri sudah mempunya dasar keahlian yang memadai, maka lebih baik dia tidak membikin hal-hal baru dalam pengetahuan norma melainkan hanya mempelajari teorinya saja. Karena yang bisa memberikan kebahagian dan usia yang panjang pada dirinya dan ketenangan hanyalah jika dia bisa membersihkan dirinya dari kegoblokan pengetahuan itu dan dia berpegang pada pengetahuan itu dengan kuat, dia tidak bakal meremehkan kebaikan perbuatan yang dimaksudkan oleh pengetahuan itu.

Selengkapnya
Jika Ulama Berbeda Pendapat, Bagaimana Santri Harus Bersikap?
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting