Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Anak yang Terdidik Baik oleh Orang Tuanya

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 80x dilihat
Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Anak yang Terdidik Baik oleh Orang Tuanya

Bagikan Postingan

  1. Home
  2. Life
  3. love & relationship

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia

Minggu, 18 Oct 2026 15:00 WIB

3 Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Anak yang Terdidik Baik oleh Orang Tuanya

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Anak yang Terdidik Baik oleh Orang Tuanya/Foto: Magnific/katemangostar

Pola asuh yang baik dari orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan perilaku seseorang. Cara seseorang berbicara, bersikap, dan menghadapi beragam situasi dalam hidup sering kali mencerminkan sepertiapa ia dibesarkan.

Tanpa disadari, ada beberapa kalimat negatif yang bisa menjadi tanda bahwa seseorang mungkin kurang mendapatkan peran orang tua yang maksimal dalam hal pendidikan yang baik. Artikel yang dilansir dari Your Tango ini akan membahas 3 kalimat negatif yang sering diucapkan dan bisa mencerminkan kurangnya peran orang tua dalam pembelajaran nilai-nilai krusial sejak kecil. 

“Aku Tidak Bisa”

Pernyataan ini sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkembang. Menurut Dr. Laurie Santos, krusial bagi kita untuk melihat kegagalan sebagai bagiankecil dari proses belajar, bukan sebagai sesuatu yang mesti dihindari. Orang yang berhasil tidak akan selesai cuma karena merasa tidak bisa maupun pernah gagal, tetapi akan mencoba lagi dengan pendekatan baru.

Setiap tantangan yang kita hadapi memberikan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Ketika kita berani berbuat sesuatu yang belum pernah kita coba, kita belajar mengatasi rasa takut dan kecemasan, menyesuaikan tujuan, dan terlebihlagi memperluas jaringan sosial kita.

Orang tua telah berbuat pekerjaan yang dahsyat dalam mendidik anak mereka jika sang anak menolak untuk mengatakan “Aku tidak bisa berbuat sesuatu”. Hal ini bukan cuma karena mereka telah belajar untuk berkembang di tengah ketidakpastian dan ketidaknyamanan sejak kecil, tetapi juga karena mereka cenderung lebih siap menghadapi tantangan di masa dewasa, baik dalam pekerjaan, hubungan, maupun membangun rutinitas baru.

“Itu Memalukan”

Ilustrasi/Foto: Freepik

Rasa malu menghalangi banyak orang dalam hayat sehari-hari karena mengenai dengan emosi yang kuat dan melemahkan, seperti rasa bersalah, cemas, dan terlebihlagi emosi rendah diri. Rasa malu sering kali membikin kita memikirkan beragam kemungkinan buruk dan membandingkan diri dengan orang lain.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kita bisa belajar untuk tidak membiarkan rasa malu mengontrol hidup kita. Rasa malu memang alami, tetapi kita punya pilihan apakah akan terus membiarkannya menghalangi kita maupun mencoba mengatasinya.

Seperti halnya seseorang bisa belajar untuk menerima dan terbiasa dengan situasi yang tidak nyaman, anak-anak juga bisa diajarkan untuk menghadapi rasa malu maupun kikuk dalam hubungan sosial.

Orang tua yang baik akan membimbing anak-anak mereka agar tidak gampang merasa malu maupun takut saat salingberhadapan dengan orang lain. Mereka mengajarkan anak-anak untuk lebih berfokus pada hal-hal positif serta keterlibatan dengan orang lain dalam percakapan maupun hubungan daripada membiarkan kecemasan membikin mereka menarik diri.

Menurut Psychology Today, rasa malu muncul ketika seseorang terlalu cemas tentang apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Namun, jika kita mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan lebih fokus pada mendengarkan serta memperhatikan orang lain dalam situasi tertentu, kita dapat menghindari emosi histeris dan cemas akibat rasa tidak aman.

“Aku Tidak Butuh Bantuan”

Ilustrasi/Foto: Freepik/katemangostar

Pernyataan ini sering kali muncul karena adanya kaidah sosial dan stereotip yang menanamkan harga kemandirian secara berlebihan. Banyak orang diajarkan sejak kecil bahwa meminta pertolongan adalah tanda kelemahan.

Padahal, riset seperti yang diterbitkan dalam jurnal Management Science memberitahu bahwa orang yang meminta pertolongan justru dapat membangun deskripsi positif di mata orang lain. Namun, bagi orang yang tumbuh dengan kepercayaan bahwa mereka mesti selalu kelihatan kuat dan berdikari untuk mendapatkan pengakuan, meminta pertolongan bisa terasa seperti kegagalan.

Jika Anda tidak pernah ragu untuk meminta bantuan, itu berarti orang tuamu telah membesarkanmu dengan sangat baik. Mereka tidak cuma mendorongmu untuk menjalin hubungan sosial dan bekerja sama dengan orang lain, tetapi juga membantumu mengembangkan rasa harga diri yang kuat tanpa bersandar pada pengesahan eksternal maupun pujian terus-menerus.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads