Kasus kanker pada usia muda memberitahu peningkatan di sejumlah negara. Kondisi ini menjadi perhatian karena meski kanker statis lebih banyak ditemukan pada himpunan usia lebih tua, sejumlah jenis kanker mulai lebih sering terdiagnosis pada orang berumur di bawah 50 tahun.
Salah satu jenis kanker yang mengalami peningkatan adalah kanker payudara pada perempuan. Berdasarkan analisis keterangan di Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Belanda, bilangan kanker payudara pada perempuan di bawah usia 50 tahun memberitahu kenaikan, meski peningkatannya tidak setajam beberapa jenis kanker lainnya.
Kondisi tersebut membikin perempuan muda perlu lebih memperhatikan kesehatan payudara dan mengenali faktor-faktor yang dapat menaikkan risikonya.
Lantas, apa saja yang perlu diwaspadai dan kapan fluktuasi pada payudara perlu diperiksakan? Simak penjelasannya berikut ini, Bunda.
Kanker payudara pada perempuan muda meningkat
Penelitian yang dianalisis oleh World Cancer Research Fund (WCRF) menemukan adanya peningkatan sejumlah kasus kanker yang muncul sebelum usia 50 tahun. Data dari Inggris memberitahu bilangan kanker payudara pada himpunan usia tersebut naik dari 42 kasus per 100.000 orang menjadi 47,5 kasus per 100.000 orang pada 2023.
Sementara itu, analisis keterangan resmi di AS sejak 2000 memberitahu bilangan kanker payudara pada orang berumur di bawah 50 tahun meningkat sekitar 20 persen. Peningkatan juga ditemukan pada beberapa jenis kanker lainnya, termasuk kanker ginjal, usus, rahim, dan pankreas.
Mengutip halaman The Guardian, para ahli menilai fluktuasi pola kanker pada generasi yang lebih muda perlu menjadi perhatian dalam upaya riset dan pencegahan kanker.
Namun, kanker statis lebih lazim terjadi pada himpunan usia yang lebih tua, sehingga peningkatan pada usia muda tidak berarti sebagian besar perempuan muda akan mengalami kondisi tersebut.
Sejumlah aspek corak hidup dan lingkungan disebut dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kanker secara umum. Faktor tersebut antara lain obesitas, pola makan yang kurang sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, merokok, serta paparan lingkungan seperti polusi, bahan kimia, plastik, dan polusi udara maupun air.
Meski demikian, aspek konsekuensi kanker payudara tidak cuma berhubungan dengan corak hidup. Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), konsekuensi kanker payudara dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk usia, aspek genetik, histori keluarga, kondisi payudara, serta histori reproduksi dan hormonal.
Perempuan dengan mutasi gen tertentu seperti BRCA1 dan BRCA2 juga memiliki konsekuensi lebih tinggi. Begitu pula mereka yang memiliki ibu, kerabat perempuan, maupun anak yang pernah mengalami kanker payudara, terutama jika kanker ditemukan pada usia muda.
Kenali tanda kanker payudara dan aspek risikonya
Kanker payudara merupakan kondisi ketika sel-sel galak berkembang di jaringan payudara. Melansir halaman Mayo Clinic, kanker ini paling sering dimulai pada saluran yang membawa air susu ke puting maupun pada lobulus, yaitu kelenjar yang memproduksi ASI.
Tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Namun, Bunda perlu memperhatikan sejumlah fluktuasi pada payudara yang tidak biasa. Beberapa tanda yang dapat muncul meliputi:
- Muncul benjolan maupun area yang menebal pada payudara dan terasa berbeda dari jaringan di sekitarnya.
- Perubahan ukuran, bentuk, maupun tampilan payudara yang tidak biasa.
- Perubahan pada puting, seperti puting tampak horizontal maupun tertarik ke dalam.
- Perubahan pada kulit payudara, misalnya muncul cekungan, permukaan menyerupai kulit jeruk, pengelupasan, maupun pengerasan.
- Perubahan warna kulit payudara, seperti kemerahan maupun fluktuasi warna yang tidak biasa.
- Keluarnya cairan dari puting, terutama jika disertai fluktuasi lain pada payudara.
Kanker payudara pada tahap mula terkadang tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini dapat ditemukan saat pengecekan skrining memberitahu adanya fluktuasi yang mencurigakan.
Jika Bunda menemukan benjolan maupun fluktuasi lain pada payudara, sebaiknya jangan menunggu pengecekan berikutnya untuk berkonsultasi. Segera periksakan fluktuasi tersebut kepada tabib agar dapat diketahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)