Seniman avant-garde asal Jepang, Yayoi Kusama, yang dikenal dengan julukan “Ratu Polkadot”, telah meninggal bumi pada usia 97 tahun. Kusama menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026.
Sepanjang kariernya, dia dikenal sebagai salah satu seniman paling terkenal di bumi dan sukses menjadi ikon budaya global, Beauties. Karya ikonisnya, Infinity Mirror Rooms, memadukan cermin dan lampu untuk menciptakan ilusi ruang tanpa pemisah hingga menarik jutaan pengunjung.
Karya-karya Yayoi Kusama banyak dipengaruhi oleh tradisi seni Jepang yang kemudian dipadukan dengan ketertarikannya pada surealisme dan abstraksi. Selama lebih dari tujuh dasawarsa berkarya, dia sukses mendefinisikan kembali pemisah seni modern melalui karya-karya yang imajinatif, unik, dan penuh makna, Beauties.
Berikut ini beberapa karya Yayoi Kusama yang paling terkenal dan ikonis. Yuk, simak selengkapnya!
1. Infinity Mirror Room - Phalli's Field (1965)

Infinity Mirror Room - Phalli's Field (1965)/Foto: Pexels.com
Infinity Mirror Room merupakan instalasi ruang berkaca yang menciptakan ilusi ruang tanpa pemisah melalui permainan sinar dan pantulan, Beauties. Bayangkan ketika Anda memasuki ruangan yang dipenuhi cahaya, seolah berada di tengah galaksi dengan jutaan bintang yang berkelap-kelip. Pantulan sinar di sekelilingmu membikin ruangan terasa luas dan tak berujung. Melalui karya ini, Yayoi Kusama seolah mengajakmu menikmati pengalaman berada di dalam sebuah disko kosmik yang penuh sinar dan imajinasi.
2. Dots Obsession (1968)

Dots Obsession (1968)/Foto: artsy.net
Dots Obsession adalah karya yang menampilkan kecintaan Yayoi Kusama terhadap pola titik yang menjadi karakter khasnya. Patung-patung berukuran besar dihiasi dengan pola polkadot, sementara seluruh ruangan dipenuhi titik-titik yang menciptakan suasana seperti berada di negeri impian. Bagi Kusama, titik bukan sekadar komponen visual, tetapi juga bagian krusial dari perjalanan hidup dan proses kreatifnya.
3. Pumpkin (1981)

Pumpkin (1981)/Foto: artsy.net
Labu kuning dengan pola polkadot hitam menjadi salah satu simbol yang paling identik dengan Yayoi Kusama. Motif labu telah muncul dalam beragam karyanya sejak 1980-an dan terus berkembang dalam corak patung maupun instalasi. Bagi Kusama, labu mempunyai makna individual lantaran mengingatkannya pada rasa nyaman dan kebahagiaan sejak kecil.
4. Mushrooms (1995)

Mushrooms (1995)/Foto: animato.uk
Seri Mushrooms karya Yayoi Kusama menjadi salah satu corak eksplorasinya terhadap alam melalui style surealis yang khas. Karya ini menampilkan jamur dengan corak dan susunan unik, komplit dengan pola titik yang menjadi karakter khasnya. Melalui warna-warna berani dan pola yang berulang, Kusama mengubah objek alam yang familier menjadi visual yang terasa unik dan penuh imajinasi, Beauties.
5. Infinity Nets (1950-sekarang)

Infinity Nets (1950-sekarang)/Foto: artsy.net
Infinity Nets adalah seri lukisan ikonis Kusama yang mulai dikerjakan pada akhir 1950-an setelah dia pindah ke Amerika Serikat. Lukisan-lukisan ini menampilkan pola lingkaran dan jaring yang saling terhubung sampai menciptakan kesan tak berujung. Pola yang berulang membikin karya ini terasa seperti membawa visitor ke dimensi lain, ketika titik dan garis seolah membentuk alam semesta tanpa batas.
6. Narcissus Garden (1966)

Narcissus Garden (1966)/Foto: Pexels.com
Narcissus Garden terdiri dari ratusan bola stainless steel yang disusun hingga membentuk permukaan reflektif, Beauties. Yayoi Kusama pertama kali menampilkan karya ini di Venice Biennale pada 1966. Pantulan dari bola-bola itu memungkinkan visitor memandang dirinya sendiri sekaligus menjadi bagian dari instalasi, sehingga menciptakan pengalaman yang unik dan interaktif.
7. The Obliteration Room (2002-sekarang)

The Obliteration Room (2002-sekarang)/Foto: artsy.net
Berbeda dari karya Kusama yang hanya bisa dinikmati secara visual, The Obliteration Room melibatkan visitor secara langsung. Karya ini awalnya dikembangkan Kusama berbareng Queensland Art Gallery sebagai proyek untuk anak-anak dalam arena The Asia Pacific Triennial of Contemporary Art.
Ruangan yang awalnya serba putih secara berjenjang ditempeli stiker polkadot warna-warni oleh para pengunjung. Seiring waktu, permukaan ruangan dipenuhi titik-titik hingga nyaris tidak menyisakan warna putih. Konsep ini berangkaian dengan pendapat self-obliteration, ialah hilangnya pemisah antara diri dan lingkungan melalui repetisi.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)