Rasa suka terhadap musuh jenis merupakan bagian yang wajar terjadi dalam proses tumbuh kembang anak. Sebagian anak mungkin mulai menunjukkan kesukaan dengan musuh jenis sejak usia sekolah dasar.
Tak sedikit orang tua merasa bingung menghadapi perubahan pada anak-anaknya. Banyak di antaranya apalagi enggan membicarakan perubahan ini ke pasangan alias si anak.
Lantas, sebenarnya di usia berapa anak mulai bisa naksir dengan musuh jenis? Bagaimana orang tua sebaiknya menyikapi perihal tersebut?
Usia anak mulai naksir musuh jenis
Para mahir mengatakan bahwa anak biasanya mulai mengalami emosi suka saat berumur sekitar di usia 5 alias 6 tahun. Sebelum menginjak usia tersebut, anak belajar tentang rasa sayang ke personil keluarga.
"Anak-anak yang lebih muda memfokuskan kasih sayang mereka pada keluarga," kata asisten guru besar di The Chicago School of Professional Psychology, Cynthia Langtiw, PsyD, dilansir Parents.
"Tetapi ketika anak-anak memasuki taman kanak-kanak alias kelas 1 Sekolah Dasar (SD), mereka juga merasakan kasih sayang kepada kawan sekelas mereka. Hal ini lantaran mereka menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah," sambungnya.
Psikolog Anneline van der Westhuizen lebih lanjut menjelaskan tentang usia anak biasanya mulai 'berpasangan'. Menurutnya, anak-anak usia sekitar 10 tahun alias lebih muda mungkin sudah mulai mengenal makna berpacaran, Bunda. Apa penyebabnya?
"Anak-anak sekarang lebih dipengaruhi oleh gambaran media daripada sebelumnya, dan sekarang lebih canggih daripada era dulu. Jangan heran jika anak yang berumur 8 tahun sudah mulai menyukai musuh jenis," ungkapnya.
Westhuizen menekankan bahwa 'perasaan suka' terhadap musuh jenis yang dirasakan anak tidak boleh diremehkan oleh orang tua. Pasalnya, apa yang dialami anak mungkin bakal berangkaian dengan kehidupan di masa dewasa.
"Mungkin agak berlebihan untuk sepenuhnya memvalidasi pemikiran ini. Tetapi, kesukaan dan cinta pertama di masa kanak-kanak bisa menjadi pengalaman yang manis dan lembut, dan kita tidak boleh meremehkan pentingnya peran tersebut dalam kehidupan anak," ujar Westhuizen.
Pentingnya pendidikan seksual saat anak sudah mengenal musuh jenis
Ketika anak sudah mengerti makna 'naksir' alias 'pacaran', orang tua sebaiknya tidak menjauh. Sebaliknya, Bunda dan Ayah perlu memberikan pendidikan seksual, terutama jika anak sudah masuk usia 7 hingga 9 tahun.
Pada usia tersebut, perkembangan anak mencakup rasa mau tahu tentang bumi mereka. Anak banyak bertanya dan mencoba mencari tahu gimana sesuatu bekerja.
Mereka tertarik pada apa yang dilakukan anak-anak lain dan mungkin mau berteman. Hal yang umum terjadi pada anak usia ini adalah mereka menjadi lebih mau tahu tentang tubuh, hubungan, dan konsep seksual.
Seperti semua perilaku, perilaku seksual juga dibentuk oleh hubungan sosial, latar belakang budaya, dan pengalaman pribadi anak-anak.
Dilansir dari Raising Children Network, berikut beberapa perihal yang bisa dilakukan orang tua saat anak mulai naksir, termasuk mengajarkan pentingnya pendidikan seksual:
1. Bicaralah sejak dini, bicaralah sesering mungkin
Salah satu langkah terbaik untuk mendukung perilaku seksual yang sehat adalah dengan berbincang dan mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan anak mempunyai banyak manfaat.
Misalnya, Bunda dapat mendengar apa yang dipikirkan dan diketahui anak tentang seks, tubuh, dan hubungan. Bila Si Kecil dapat mengusulkan pertanyaan, jawab dengan jujur dengan menggunakan komunikasi yang sesuai usia anak.
Percakapan terbuka dan jujur juga membantu meletakkan dasar bagi anak untuk mempunyai pengalaman seksual yang sehat, penuh hormat, aman, dan menyenangkan ketika mereka siap.
Percakapan ini dapat mengirimkan pesan bahwa anak selalu dapat datang kepada orang tuanya untuk mendapatkan info yang dapat diandalkan dan tanpa penghakiman tentang topik-topik sensitif seperti perilaku seksual.
2. Menangani perilaku yang tidak layak dengan tenang
Anak-anak terkadang berperilaku dengan langkah yang tidak pantas. Jika perihal itu terjadi pada Si Kecil, sebaiknya tetap tenang dan sarankan kegiatan lain.
Setelah itu, Bunda dapat berbincang dengan anak tentang perilaku apa yang boleh dilakukan di rumah dan perilaku apa yang boleh dilakukan di depan anak-anak lain, orang tua, alias guru. Misalnya, Bunda bisa menjelaskan bahwa meskipun boleh bagi anak untuk bermain tanpa busana di rumah, perihal itu tidak boleh dilakukan di tempat umum alias ruang publik.
Itulah penjelasan master tentang perilaku naksir pada anak. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)