Kenali Perimenopause, Penyebab, Gejala, dan Perbedaaannya dengan Premenopause dan Menopause

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Aug 23, 2026 04:05 AM 22

Jelang menopause, wanita bakal mengalami fase perimenopause terlebih dahulu. Kenali perimenopause, penyebab, gejala, dan perbedaannya dengan premenopause & menopause.

Sebagian wanita merasakan menstruasi mereka mungkin semakin tidak teratur dan mood yang naik turun seperti yoyo ketika usianya semakin matang alias menginjak kepala empat. Nah, apakah ini tanda mereka sedang memasuki tahapan perimenopause ya, Bunda?

Mengenal apa itu perimenopause

Seiring dengan perjalanan usia, kesuburan wanita memang anak menurun. Fase menstruasi pun menjadi tidak teratur dan kerap mengalami hot flashes. Kondisi ini pun sangat tidak nyaman lantaran serangan mood yang bergolak sering kali tidak stabil sehingga menyebabkan keseharian jadi nano-nano.


Ya, fase ini memang tidak nyaman dilalui tetapi menjadi tahapan pasti dalam tahapan kehidupan perempuan. Kondisi tersebut merupakan salah satu tanda bahwa mereka sedang berada di fase perimenopause. 

Perimenopause sendiri merupakan saat di mana tubuh mulai bertransisi ke menopause, Bunda. Selama transisi ini, ovarium mulai memproduksi hormon yang lebih sedikit dan akhirnya menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Pada perimenopause, tubuh Bunda sedianya bergerak menuju akhir masa reproduksi. Ini merupakan perkembangan yang alami dan normal, tetapi datang dengan indikasi bentuk dan emosional. Beberapa indikasi ini dapat mengganggu hidup Bunda alias membikin ketidaknyamanan.

Perimenopause tidak selalu dimulai usia jelita (jelang lima puluh tahun) tetapi bisa dimulai sejak usia pertengahan 30-an alias apalagi pertengahan 50-an. Beberapa orang hanya mengalami perimenopause dalam waktu singkat, sementara yang lain mengalaminya selama beberapa tahun. Meskipun siklus menstruasi yang Bunda alami tidak dapat diprediksi dan kadar hormon menurun, fase ini tetap perlu diwaspadai lantaran Bunda tetap memilii kesempatan untuk mengandung dalam fase perimenopause.

Perimenopause sendiri merupakan masa transisi yang berhujung dengan menopause. Menopause berfaedah menstruasi Bunda telah berakhir. Dan, ketika Bunda tidak mengalami siklus menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, Bunda secara resmi telah mencapai menopause seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Penyebab perimenopause

Perimenopause adalah proses alami yang terjadi ketika ovarium Bunda secara berjenjang berakhir bekerja. Ovulasi sendiri bisa menjadi tidak menentu lampau berhenti. Siklus menstruasi menjadi lebih panjang, dan aliran menstruasi bisa menjadi tidak teratur sebelum menstruasi terakhir Bunda.

Gejala dari perimenopause biasanya disebabkan oleh perubahan kadar hormon dalam tubuh. Ketika estrogen lebih tinggi, Bunda mungkin mengalami indikasi seperti yang Bunda alami pada PMS. Ketika estrogen rendah, Bunda juga mungkin mengalami hot flashes alias keringat malam. Perubahan hormon ini mungkin bercampur dengan siklus normal seperti dikutip dari laman Hopkins Medicine.

Ciri-ciri perimenopause

Berbicara mengenai perimenopause, biasanya terdapat ciri-ciri yang bakal Bunda alami, di antaranya sebagai berikut ya, Bunda:

1. Perubahan suasana hati
2. Perubahan gairah seksual
3. Kesulitan berkonsentrasi
4. Sakit kepala
5. Keringat malam
6. Hot flashes
7. Kekeringan vagina
8. Kesulitan tidur
9. Nyeri sendi dan otot
10. Berkeringat deras
11. Sering buang air kecil
12. Gejala mirip PMS

Usia rata-rata menopause pada wanita biasanya saat mereka berumur 51 tahun. Dan, indikasi perimenopause bakal dimulai sekira empat tahun sebelum menstruasi terakhir. Kebanyakan wanita merasakan indikasi perimenopause di usia 40-an, tetapi beberapa di antaranya mulai merasakan perubahan sejak usia pertengahan 30-an.

Bunda mungkin merasakan adanya perubahan lembut seperti pada panjang, durasi, dan aliran siklus haid, apalagi sebelum perimenopause. Sebenarnya, itulah saatnya kesuburan mulai menurun dan pola hormon mulai berfluktuasi.

Pada beberapa perempuan, indikasi perimenopause mungkin mulai lebih awal, terutama jika mereka telah menjalani pengobatan kanker (kemoterapi alias radiasi panggul) alias merokok. Perokok umumnya mencapai menopause dua alias tiga tahun lebih awal dibandingkan yang tidak merokok.

Tanda pertama dari perimenopause adalah adanya gangguan pada siklus menstruasi. "Gejala pertama yang biasanya dialami wanita adalah perubahan pada menstruasi bulanan mereka," kata Jean Miller, NP dari Fransciscan Physician Network Winfield Health Center seperti dikutip dari laman Fransiscan Health.

"Jadi, periode mereka menjadi lebih tidak teratur, artinya jumlah hari antara periode mereka menjadi lebih pendek alias lebih lama tujuh hari alias lebih. Perdarahan saat menstruasi bisa menjadi lebih berat alias ringan, berjalan lebih lama, alias berakhir lebih awal dari yang diperkirakan. Dan ini bisa berbeda dari bulan ke bulan."

Namun, begitu perihal tersebut mulai berubah, Bunda mungkin bakal mulai mengalami beberapa indikasi perimenopause lain yang lebih umum. Namun, Bunda tidak perlu cemas lantaran indikasi perimenopause merupakan bagian alami dari proses penuaan. 

Guna mengatasi kondisi tersebut, beberapa obat, pengobatan kanker, dan operasi ovarium dapat mempercepat proses alias menyebabkan menopause lebih cepat. Kourtney Morris, MD, seorang Dokter Obstetri & Ginekologi dari Jaringan Dokter Fransiskan di Lafayette, Indiana, mengatakan, "Bagi beberapa perempuan, perimenopause nyaris tidak terlihat, tetapi bagi yang lain, gejalanya membikin mereka sengsara."

Oh iya, Bunda, berbincang mengenai perimenopause, fase ini sebenarnya dapat berjalan selama beberapa tahun dan dapat memengaruhi kesejahteraan fisik, emosional, mental, dan sosial.

Bagi kebanyakan perempuan, transisi menuju menopause ialah perimenopause bakal berbeda untuk setiap orang. Rata-rata, perihal ini dimulai saat wanita memasuki usia 40-an meskipun bisa juga dimulai di usia 30-an. 

Mengutip dari laman WHO, wanita biasanya mengalami menopause sendiri saat berumur 45 hingga 55 tahun untuk seluruh wanita di dunia. Meski sebenarnya keteraturan dan lama siklus menstruasi bervariasi selama masa reproduksi mereka tetapi usia menopause rata-rata nyaris sama ya, Bunda.

Sehingga, wajar saja sebelum masa menopause tersebut, banyak juga para wanita yang mengalami perimenopause sebelum usia mereka 40 tahun alias saat memasuki usia 30-an. Secara umum, lama perimenopause berjalan sekira empat tahun. Tetapi, masa tersebut dapat berjalan lebih lama hingga delapan tahun.  Beberapa orang mungkin hanya berada di tahap ini selama beberapa bulan, sementara yang lain bakal berada di fase transisi ini selama beberapa tahun.

Apakah wanita yang alami perimenopause bisa hamil?

Perubahan hormonal yang dialami selama perimenopause sebagian besar disebabkan oleh penurunan kadar estrogen. Ovarium bakal memproduksi estrogen yang berkedudukan krusial dalam menjaga sistem reproduksi. 

Saat estrogen menurun, keseimbangan dengan progesteron, hormon lain yang dihasilkan ovarium menjadi tidak stabil. Sehingga, sering terjadi perubahan hormon selama perimenopause yang bakal naik turun seperti rollercoaster.

Selama masa perimenopause, bagi Bunda yang tetap mengalami haid, apalagi yang tidak teratur sekalipun, Bunda bakal tetap berovulasi. Sampai Bunda tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, barulah Bunda kudu menganggap tubuh tetap berovulasi.

Pada fase perimenopause, kemungkinan untuk mengandung tetap ada ya, Bunda. Meskipun kemungkinannya bakal lebih mini selama fase tersebut, tetapi kesempatan mengandung tetap ada. Selama Bunda tetap haid, Bunda tetap bisa hamil.

Ketika menstruasi tidak teratur, Bunda lebih mungkin mengandung secara tiba-tiba. Jika mau mengurangi akibat tersebut, gunakan kontrasepsi sampai tim medis memberi tahu bahwa kondusif untuk berakhir menggunakannya.

Cara mengatasi perimenopause

Sebenarnya, tidak ada pengobatan untuk menghentikan perimenopause. Sebab, fase tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan. Ketika menstruasi berakhir sepenuhnya, Bunda bakal mencapai masa menopause. Namun, tim medis mungkin bakal merekomendasikan langkah untuk membantu meredakan indikasi yang tidak nyaman. 

Banyak orang tidak memerlukan obat lantaran indikasi yang mereka rasakan cukup ringan sehingga perubahan style hidup saa sudah bisa membantu. Namun, sebagian lainnya menemukan bahwa mengonsumsi obat dapat meredakan indikasi dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Berikut ini beberapa obat-obatan yang bisa membantu dan direkomendasikan ya, Bunda:

1. Antidepresan

Obat-obatan ini membantu mengatasi hot flashes, perubahan suasana hati, kecemasan, alias depresi.

2. Pil KB

Pil KB diketahui dapat membantu menstabilkan kadar hormon wanita dan biasanya meredakan gejala.

3. Terapi penggantian hormon

Terapi ini menggunakan estrogen alias estrogen dan progesteron untuk meningkatkan kadar hormon jika Bunda menopause sebelum usia 40 tahun.

4. Terapi hormon

Mirip dengan terapi penggantian hormon alias HRT, terapi ini menggunakan  estrogen alias estrogen dan progesteron untuk meningkatkan hormon Bunda. Tim medis bakal merujuk terapi ini pada orang yang mengalami menopause pada usia yang lebih alami (kapan saja setelah usia 45 tahun).

5. Gabapentin (Neurontin)

Obat ini adalah obat tegang yang juga meredakan hot flashes pada kebanyakan orang.

6. Oxybutynin

Obat untuk kandung kemih yang terlalu aktif yang juga dapat meredakan hot flashes.

7. Mirena

Alat intrauterin (IUD) ini dapat mengelola perdarahan abnormal alias tidak teratur akibat perimenopause. Terkadang, IUD Mirena juga digunakan sebagai komponen progestin HRT, tapi hanya jika Bunda tetap mempunyai rahim.

8. Krim vagina

Tim medis biasanya bakal memberi tahu tentang pilihan resep yang dijual bebas.  Pengobatan dengan krim dan pelumas memek dapat mengurangi rasa sakit saat berasosiasi seks dan meredakan kekeringan vagina.

Cara mencegah perimenopause

Mengelola indikasi perimenopause bisa dilakukan dari rumah tanpa perlu obat dari rumah sakit ya, Bunda. Berikut ini langkah mencegah perimenopause yang bisa dilakukan:

1. Makan banyak buah, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan lemak sehat.
2. Lakukan latihan penopang beban seperti berjalan, mendaki, alias latihan kekuatan.
3. Berpakaianlah dengan lapisan busana agar bisa melepas busana tersebut jika mulai berkeringat alias mengalami hot flashes.
4. Gunakan kipas angin alias jaga rumah pada suhu yang lebih sejuk.
5. Tingkatkan kebersihan tidur dengan menghindari layar TV dan komputer serta melakukan kegiatan yang menenangkan sebelum tidur.
6. Batasi alkohol dan kafein.
7. Latih meditasi alias teknik manajemen stres lainnya.
8. Berhenti menggunakan produk tembakau seperti rokok.
9. Pertahankan berat badan yang sehat 

Perbedaan perimenopause, premenopause & menopause

Penggunaan istilah premenopause dan perimenopause kadang-kadang digunakan secara bergantian, tetapi secara teknis keduanya mempunyai makna yang berbeda.

Perlu Bunda ketahui bahwa premenopause adalah ketika Bunda tidak mempunyai indikasi perimenopause alias menopause. Dalam perihal ini, Bunda yang tetap mengalami menstruasi, baik yang teratur ataupun tidak teratur, dan dianggap tetap berada di masa reproduksi. Hanya saja, beberapa perubahan hormonal bakal dialami, tetapi tidak ada perubahan yang mungkin terlihat di tubuh Bunda.

Di sisi lain, selama masa perimenopause, Bunda kemungkinan bakal mulai mengalami indikasi menopause. Beberapa gejalanya seperti adanya perubahan siklus menstruasi, sensasi panas, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan lainnya.

Perimenopause sendiri terjadi jauh sebelum Bunda memasuki masa menopause. Faktanya, perubahan hormon terlihat antara 8 hingga 10 tahun sebelum menopause. Artinya, perihal tersebut bisa dialami wanita saat usia mereka 30-an alias 40-an sebelum perimenopause dimulai seperti dikutip dari laman Healthline.

Perimenopause ditandai dengan penurunan estrogen, hormon utama wanita yang diproduksi oleh ovarium. Kadar estrogen juga bisa naik turun lebih sporadis dibandingkan siklus 28 hari pada umumnya. Hal ini dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur dan indikasi lainnya.

Pada tahap akhir perimenopause, tubuh Bunda bakal memproduksi estrogen semakin sedikit. Meskipun estrogen menurun tajam, tetap mungkin untuk hamil. Perimenopause sendiri bisa berjalan sesingkat beberapa bulan dan bisa berjalan hingga 4 tahun.

Sementara, menopause secara resmi mulai terjadi ketika  ovarium memproduksi sangat sedikit estrogen sehingga sel telur tidak lagi dilepaskan. Pada tahapan ini  juga nantinya menyebabkan menstruasi Bunda berhenti.

Dokter bakal mendiagnosis menopause setelah Bunda tidak mengalami menstruasi selama satu tahun penuh. Sebagian wanita ada juga yang mengalami masa menopause lebih awal ya, Bunda. Ini biasanya dikarenakan ada riwayat family mengalami menopause dini, perokok, pernah mengalami histerektomi, alias telah menjalani pengobatan kanker.

Untuk lebih memahaminya, kenali indikasi perimenopause yang dapat meliputi beberapa indikasi sebagai berikut:

1. Periode tidak teratur
2. Periode yang lebih berat alias lebih ringan dari biasanya
3. Sindrom pramenstruasi (PMS) yang lebih jelek sebelum menstruasi
4. Nyeri payudara
5. Kenaikan berat badan
6. Perubahan rambut
7. Palpitasi jantung
8 Sakit kepala
9. Kehilangan antusiasme seks
10. Kesulitan konsentrasi
11. Kelupaan
12. Nyeri otot
13. Infeksi saluran kemih (ISK)
14. Masalah kesuburan pada wanita yang sedang berupaya hamil

Sementara indikasi menopause meliputi beberapa hal. Beberapa di antaranya  bisa terjadi saat Bunda tetap berada di tahap periimenopause. Berikut ini beberapa gejalanya, Bunda:

1. Keringat malam
2. Sensasi panas
3. Depresi
4. Kecemasan alias mudah marah
5. Perubahan suasana hati
6. Insomnia
7. Kelelahan
8. Kulit kering
9. Kekeringan vagina
10. Sering buang air kecil
11. Kolesterol

Secara singkat, premenopause didefinisikan sebagai tahun reproduksi ketika seseorang mengalami sebagai tahun reproduksi ketika seseorang mengalami menstruasi tanpa mengalami indikasi perimenopause alias menopause.

Sementara perimenopause adalah fase transisi sebelum menopause, yang ditandai dengan penurunan estrogen dan indikasi seperti menstruasi tidak teratur, hot flashes, dan perubahan suasana hati. Fase ini bisa berjalan dari beberapa bulan hingga 4 tahun.

Dan, masa menopause didiagnosis setelah 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi, menandai berakhirnya reproduksi wanita lantaran ovarium memproduksi sangat sedikit estrogen.

Kapan Bunda kudu ke dokter?

Ketika mengalami fase perimenopause, Bunda tidak langsung kudu mengunjungi master untuk mendapatkan pemeriksaan perimenopause alias menopause, tetapi ada saat-saat di mana Bunda sebaiknya menemui master obgyn. Adapun waktu tersebut ialah ketika Bunda mengalami beberapa indikasi berikut:

1. Bercak setelah menstruasi
2. Gumpalan darah selama menstruasi
3. Berdarah setelah berasosiasi seks
4. Menstruasi yang jauh lebih lama alias jauh lebih pendek dari biasanya

Terkait indikasi di atas, beberapa kemungkinan penjelasannya adalah adanya ketidakseimbangan hormon alias fibroid. Namun, kedua masalah tersebut bisa diobati, Bun. Tetapi ada juga kemungkinan kesempatan kanker yang mungkin terjadi.

Nah, selain kondisi di atas yang dialami, Bunda juga kudu segera menghubungi master jika indikasi perimenopause alias menopause menjadi cukup parah sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari Bunda.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya
Kenali Perimenopause, Penyebab, Gejala, dan Perbedaaannya dengan Premenopause dan Menopause
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting