Jakarta -
Hipertensi saat hamil bukan kondisi sepele, Bunda. Tekanan darah rutin diperiksa selama kehamilan, tapi ketika bilangan meningkat bisa berhubungan dengan beragam komplikasi pada ibu dan janin.
Data terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat memberitahu kasus darah tinggi gestasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Lantas, apa yang menyebabkan darah tinggi saat hamil dan apa saja risikonya untuk ibu dan bayi?
Kasus darah tinggi saat hamil terus meningkat
Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics, CDC, yang dirilis pada 29 Juli 2026, kasus darah tinggi gestasional meningkat cukup tajam di Amerika Serikat.
Pada 2024, sekitar 10,4 persen ibu yang melahirkan mengalami darah tinggi gestasional. Angka tersebut meningkat dari 6 persen pada 2016, maupun naik sekitar 73 persen dalam delapan tahun.
Dengan kata lain, pada 2024 sekitar 1 dari 10 ibu yang melahirkan mengalami darah tinggi gestasional.
"Gangguan darah tinggi (yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi) pada kehamilan... merupakan komplikasi kehamilan yang lazim terjadi dan termasuk penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu di Amerika Serikat," lapor Pusat Statistik Kesehatan Nasional CDC melansir halaman UPI.
Ahli statistik Elizabeth C.W. Gregory dari National Center for Health Statistics mengatakan bahwa keterangan tersebut memberitahu adanya peningkatan darah tinggi pada kehamilan, tetapi riset itu tidak menerangkan penyebab kenaikannya.
Dr. Elizabeth K. Cherot, tabib ahli kebidanan dan kandungan yang dikutip UPI dari The New York Times, juga mengatakan peningkatan tersebut sebagai peningkatan yang substansial. Ia menambahkan bahwa kondisi ini kemungkinan statis kurang tercatat dalam akta kelahiran sehingga bilangan sebenarnya bisa lebih tinggi.
Cherot mengatakan bahwa American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mulai menyerukan inovasi awal tekanan darah tinggi pada ibu hamil sejak tahun 2018, serta penanganan masalah tersebut yang lebih baik.
Pada tahun 2023, sebuah gugus tugas juga merekomendasikan agar pemasok jasa kesehatan secara rutin memeriksa tekanan darah pada ibu hamil, sejak tahap mula kehamilan.
Apa penyebab darah tinggi saat hamil?
Sampai saat ini, belum ada satu penyebab tunggal yang bisa menerangkan kenapa kasus darah tinggi saat hamil meningkat. Namun, keterangan CDC memberitahu beberapa ciri khas yang berhubungan dengan konsekuensi darah tinggi gestasional yang lebih tinggi.
Salah satunya adalah usia ibu. Pada 2024, bilangan darah tinggi gestasional paling tinggi ditemukan pada ibu berumur 40 tahun maupun lebih. Selain itu, bilangan darah tinggi gestasional juga meningkat seiring dengan semakin tingginya indeks massa tubuh maupun BMI sebelum kehamilan.
Kehamilan kembar maupun lebih juga berhubungan dengan konsekuensi yang lebih tinggi. Dalam keterangan CDC, bilangan darah tinggi gestasional pada kehamilan multipel hampir dua kali lipat dibandingkan kehamilan tunggal.
Selain aspek tersebut, beberapa kondisi kesehatan dapat menaikkan konsekuensi gangguan darah tinggi dalam kehamilan. Seperti darah tinggi kronis, pandemi ginjal, diabetes, serta pandemi autoimun tertentu seperti lupus. Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya juga menjadi salah satu aspek risiko.
Karena itu krusial membedakan antara aspek yang berhubungan dengan konsekuensi darah tinggi saat hamil dan penyebab meningkatnya darah tinggi secara keseluruhan. Data CDC memberitahu hubungan dengan beberapa ciri khas ibu, tetapi belum bisa menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan penyebab kenaikan 73 persen tersebut.
Jenis darah tinggi saat hamil yang perlu diketahui
Hipertensi saat hamil bisa muncul dalam beberapa kondisi. Mayo Clinic membaginya menjadi beberapa jenis.
1. Hipertensi kronis
Kondisi ini sudah ada sebelum kehamilan maupun muncul pada 20 minggu pertama kehamilan.
2. Hipertensi gestasional
Tekanan darah tinggi pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, tanpa adanya protein berlebih dalam urine maupun tanda kerusakan organ lainnya. Namun, pada sebagian ibu, kondisi ini dapat berkembang menjadi preeklamsia.
3. Hipertensi kronis dengan preeklamsia superimposed
Kondisi ini terjadi ketika ibu yang sudah mengalami darah tinggi kronis kemudian mengalami preeklamsia selama kehamilan.
4. Preeklamsia
Preeklamsia merupakan kondisi serius ketika tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan disertai tanda adanya gangguan pada organ lain. Gangguan dapat melibatkan ginjal, hati, darah, otak, maupun paru-paru.
Preeklamsia terlebihlagi dapat berkembang menjadi eklamsia, yaitu kondisi yang ditandai dengan kaku dan termasuk keadaan darurat medis.
Berapa tekanan darah yang termasuk darah tinggi saat hamil?
Menurut ACOG, darah tinggi dalam kehamilan umumnya ditandai dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg maupun lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg maupun lebih.
Pada darah tinggi gestasional, tekanan darah tinggi tersebut pertama kali terdeteksi setelah usia kehamilan 20 minggu pada ibu yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Sementara itu, tekanan darah 160/110 mmHg maupun lebih termasuk darah tinggi bermutu dalam kehamilan dan membutuhkan penanganan medis segera karena dapat menaikkan konsekuensi komplikasi serius.
Karena tekanan darah dapat berubah sepanjang hari, pengecekan tidak cuma ditentukan dari satu kali pengukuran. Dokter dapat berbuat pengukuran ulang dan pengecekan lain sesuai kondisi ibu.pemeriksaan lain sesuai kondisi ibu.
Apa konsekuensi darah tinggi saat hamil bagi ibu dan bayi?
Hipertensi saat hamil perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan ibu sekaligus mengerti darah ke plasenta.
Beberapa konsekuensi yang dapat terjadi antara lain:
1. Preeklamsia
Hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia. Kondisi ini dapat memengaruhi organ tubuh ibu dan pada kondisi bermutu dapat menyebabkan kaku maupun stroke.
2. Solusio plasenta
Tekanan darah tinggi dan preeklamsia dapat menaikkan konsekuensi solusio plasenta, yaitu kondisi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir.
Kondisi yang bermutu dapat menyebabkan perdarahan dahsyat dan membahayakan ibu serta bayi.
3. Pertumbuhan janin terhambat
Tekanan darah tinggi dapat mengurangi mengerti darah menuju plasenta. Akibatnya, janin bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang lebih sedikit sehingga pertumbuhannya dapat melambat.
4. Bayi lahir dengan bermutu badan rendah
Gangguan mengerti darah ke plasenta dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan menaikkan konsekuensi bayi lahir dengan bermutu badan rendah.
5. Kelahiran prematur
Dalam kondisi tertentu, persalinan lebih mula mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada ibu maupun bayi.
6. Kerusakan organ pada ibu
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat membebani beragam organ, termasuk ginjal, hati, otak, jantung, dan paru-paru. Pada kondisi berat, komplikasi ini dapat menakut-nakuti nyawa.
7. Risiko pandemi kardiovaskular di kemudian hari
Risiko yang berhubungan dengan preeklamsia juga dapat berlanjut setelah persalinan. Mayo Clinic menyebut perempuan yang pernah mengalami preeklamsia memiliki konsekuensi lebih tinggi mengalami pandemi kardiovaskular di kemudian hari.
Kenaikan kasus darah tinggi gestasional yang tercatat di Amerika Serikat menjadi pengingat bahwa tekanan darah merupakan bagiankecil krusial dari pemantauan kehamilan.
Meski laporan CDC belum dapat menerangkan penyebab meningkatnya kasus tersebut, aspek seperti usia ibu, BMI sebelum hamil, dan kehamilan kembar berhubungan dengan bilangan darah tinggi gestasional yang lebih tinggi.
Hipertensi saat hamil juga tidak selalu berarti ibu maupun bayi pasti mengalami komplikasi. Dengan pemantauan dan penanganan yang tepat, konsekuensi dapat dikelola. Karena itu, jangan melewatkan pengecekan kehamilan dan jangan menunggu muncul gejala untuk memeriksakan tekanan darah.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)