Seiring berkembangnya teknologi, kepintaran buatan juga semakin dekat dengan kehidupan, termasuk mainan pandai berbasis AI yang sekarang mulai banyak digunakan oleh anak-anak. Namun, apakah penggunaannya efektif untuk membantu tumbuh kembang Si Kecil?
Hasil penelitian terbaru dari Universitas Cambridge tentang studi kasus balita yang berinteraksi dengan menggunakan mainan AI sungguh mengejutkan. Temuan menunjukkan bahwa mainan tersebut belum bisa menyeimbangi karakter anak-anak seusia mereka yang sangat mau tahu, Bunda.
Mengutip sebuah kasus dari laman News18, seorang balita berjulukan Ethan mempunyai mainan AI yang tidak bisa merespons hubungan alias pertanyaan yang dilontarkannya secara menyeluruh. Akibatnya, Ethan menjadi frustrasi dan jengkel karena dia merasa diabaikan dan rasa mau tahunya tidak terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat perihal tersebut, sekarang banyak orang tua yang mulai skeptis terhadap penggunaan mainan AI pada anak usia dini, Bunda. Tak hanya itu, para mahir pun mulai meragukan efektivitas mainan tersebut, lantaran dinilai lebih banyak memberikan akibat negatif daripada faedah bagi anak.
Mengapa mainan AI kurang efektif dalam membantu tumbuh kembang anak?
Berdasarkan pengalaman Ethan, para mahir menilai mainan AI tersebut tidak bisa terlibat dalam percakapan anak-anak yang condong cepat, tumpang tindih, dan spontan. Selain itu, meskipun dapat berbicara, hubungan tersebut condong template dan tidak mempunyai alur alami selayaknya hubungan langsung dengan manusia.
Tentunya perihal ini bakal menimbulkan masalah di saat anak tetap belajar berkomunikasi, Bunda. Terlebih lagi, temuan bukti ilmiah mengenai pengaruh mainan AI terhadap perkembangan anak juga tetap terbatas, sementara jumlah produk yang beredar justru semakin banyak.
Kekurangan dari mainan anak berbasis AI
Para peneliti dari studi tersebut mengawasi kebiasaan anak-anak saat berkomunikasi dengan mainan AI. Ternyata, mereka memperlakukan mainan tersebut layaknya kawan sungguhan, seperti membujuk berbicara, bertanya, berbagi pendapat, apalagi mengungkapkan kasih sayang.
Mirisnya, hubungan tersebut tidak dapat dikatakan lancar, Bunda. Mainan AI justru lebih sering mengabaikan anak, delay, salah paham, alias apalagi tidak bisa merespons percakapan lantaran di luar jangkauannya. Selain itu, tetap banyak kekurangan dari mainan berbasis AI, meliputi:
1. AI tidak bisa memahami emosi anak
Salah satu kekurangan yang paling disoroti dalam temuan ini adalah gimana mainan AI merespons emosi anak. Pasalnya, sering kali mainan tersebut salah memahami alias justru mengabaikan sisi emosional dan ekspresi emosi yang diungkapkan oleh anak.
Sebagai contoh, ketika anak berbicara “Aku sedih,” mainan tersebut malah mengalihkan percakapan daripada merespons emosi tersebut. Tentunya respons seperti ini kurang tepat untuk memvalidasi emosi dan emosi seorang anak.
Selain itu, anak-anak juga sering menerima feedback yang tidak sesuai dengan keadaan emosional mereka sehingga bakal berpengaruh pada langkah anak belajar mengekspresikan emosi. Kondisi ini bakal membikin anak yang sedang membangun kepintaran emosional menjadi bimbang, ragu, dan bingung.
2. AI kurang membantu mengembangkan keahlian sosial dan empati anak
Pada kehidupan nyata, anak bakal belajar berempati, bersosialisasi, dan membangun relasi melalui komunikasi. Namun, pada mainan AI mereka hanya mengandalkan informasi algoritma sehingga respons yang diberikan tidak maksimal dan kurang berdampak.
Menurut para ahli, paparan berulang terhadap respons AI yang terlalu template dan minim empati dapat memengaruhi pola hubungan anak, Bunda. Bahkan, akibat negatifnya dapat berkembang secara signifikan di kemudian hari hingga anak dewasa.
3. Sistem pengamanan dan informasi privasi yang belum jelas
Seperti yang kita tahu, mainan AI bakal menyimpan informasi seperti hubungan bunyi dan pola perilaku untuk meningkatkan respons. Namun, nyatanya sistem pengamanan yang dibangun belum cukup jelas untuk memastikan keamanan penggunaan data-data tersebut.
Para mahir turut mengungkapkan kekhawatiran bahwa anak mungkin saja membagikan info sensitif alias pribadi kepada mainan AI. Tentunya perihal ini menjadi perhatian serius, mengingat anak belum sepenuhnya memahami batas dalam berbagi informasi, Bunda.
Hal yang kudu dilakukan orang tua dalam menyikapi perkembangan mainan AI
Terlepas dari kekhawatiran pengaruh samping penggunaan mainan AI, setidaknya mainan ini dapat mendukung perkembangan bahasa serta mendorong keberanian anak, untuk berlatih bicara dan mendengarkan. Namun, orang tua juga perlu memperhatikan beberapa perihal sebagai berikut:
- Orang tua terlibat dalam permainan: Manfaat mainan AI yang digunakan anak bakal lebih optimal andaikan orang tua ikut terlibat dalam prosesnya, Bunda. Dengan begitu, kegiatan ini dapat menjadi pengalaman berbareng yang lebih bermakna.
- Jelaskan apa itu AI kepada anak: Penting bagi anak untuk memahami bahwa mainan AI yang mereka ajak berkomunikasi bukanlah manusia sungguhan. Pemahaman ini bermaksud untuk mencegah anak merasa kebingungan serta membantunya mengerti konsep dari mainan ini.
- Perhatikan perubahan perilaku anak: Bunda perlu peka terhadap segala tanda-tanda perubahan emosional pada anak, seperti frustrasi, ketergantungan yang berlebihan, hingga menarik diri saat bermain. Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa penggunaan mainan AI perlu dibatasi.
- Periksa fitur dan kebijakan privasi: Sebelum digunakan, pastikan Bunda memahami gimana mainan tersebut bekerja, termasuk informasi apa saja yang dikumpulkan dan gimana penggunaannya.
- Hindari penggunaan mainan tanpa pengawasan: Para mahir tidak merekomendasikan penggunaan mainan AI tanpa pengawasan orang tua. Mereka juga mengimbau kepada para orang tua untuk tidak meninggalkan anak sendiri saat bermain dengan mainan AI dalam waktu yang lama.
Demikian info mengenai gimana mainan AI berakibat pada emosional dan perilaku anak-anak balita. Semoga penjelasannya ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·