Orang sering bilang hidup senang itu ketika punya banyak uang, pekerjaan sesuai yang diinginkan, family harmonis, alias kehidupannya melangkah sesuai rencana.
Padahal menurut psikologi, kebahagiaan itu jauh lebih kompleks. Menariknya, sesuatu yang dapat mendukung kebahagiaan justru bisa ditemukan dalam kebiasaan sehari-hari yang sering kita anggap sederhana alias sepele.
Bahagia tidak hanya soal seberapa sering Bunda merasa senang. Kebahagiaan juga berangkaian dengan kepuasan terhadap kehidupan, hubungan dengan orang lain, kondisi emosional, serta emosi bahwa hidup yang dijalani punya makna dan tujuan.
Karena itu, orang yang hidup senang bukan berfaedah selalu terlihat ceria. Mereka tetap bisa merasa sedih, kecewa, marah, alias menghadapi beragam masalah dalam kehidupan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa kesejahteraan psikologis juga dapat didukung oleh kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, ini bukan berfaedah satu kebiasaan tertentu otomatis membikin seseorang bahagia.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Nature Human Behaviour menelaah bukti ilmiah di kembali beragam langkah yang sering disebut dapat meningkatkan kebahagiaan, seperti bersyukur, bersosialisasi, berolahraga, melakukan mindfulness alias meditasi, dan menghabiskan waktu di alam. Peneliti menemukan bahwa kekuatan bukti untuk masing-masing langkah tersebut rupanya berbeda-beda.
Penelitian yang lebih baru juga terus memandang beragam kegiatan yang dapat membantu meningkatkan well-being. Lantas, kebiasaan sederhana apa saja yang berangkaian dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik?
Sepertinya nyaris semua orang mau menjalani hidup yang bahagia, dan masing-masing mempunyai langkah berbeda untuk mencapainya. Sebenarnya, sejumlah kebiasaan sederhana yang dilakukan sehari-hari dapat mendukung kesejahteraan tersebut.
Bahkan, beberapa di antaranya mungkin terlihat sepele dan jarang disadari sebagai bagian dari hidup yang lebih bahagia.
Psikoterapis dan penulis Barton Goldsmith, Ph.D., dalam artikelnya di Psychology Today, menyebut sejumlah kebiasaan dapat membantu seseorang meningkatkan kebahagiaan.
Di antaranya menghabiskan waktu berbareng orang yang membikin tersenyum, berpegang pada nilai hidup, menikmati hal-hal baik, melakukan kegiatan yang disukai, menemukan tujuan hidup, serta terbuka terhadap perubahan.
Berikut beberapa kebiasaan sederhana untuk hidup senang menurut psikologi:
1. Menjaga hubungan dengan orang yang membikin nyaman
Orang yang hidup senang bukan berfaedah kudu selalu ramai dan punya banyak teman. Yang lebih krusial adalah mempunyai hubungan yang terasa dekat, aman, dan bermakna.
Goldsmith menyarankan untuk menghabiskan waktu berbareng orang-orang yang membikin kita tersenyum dan merasa nyaman.
Hal ini sejalan dengan penelitian Nicholas Epley, Ph.D., guru besar pengetahuan perilaku di University of Chicago Booth School of Business. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang sering kali meremehkan seberapa menyenangkan hubungan sosial yang sebenarnya dapat mereka nikmati.
Jadi, kebiasaan sederhana seperti menelepon teman, ngobrol dengan pasangan, makan berbareng keluarga, alias sekadar menyapa orang lain bisa mempunyai makna lebih besar daripada yang kita kira.
Ada orang yang susah menikmati sesuatu lantaran merasa hidupnya belum cukup baik. Misalnya saja, baru merasa boleh senang setelah punya rumah sendiri, pekerjaan lebih mapan, berat badan ideal, alias sasaran tertentu tercapai.
Padahal, Goldsmith menyarankan untuk belajar menerima dan menikmati hal-hal baik yang sudah terjadi, termasuk perihal kecil.
Penelitian mengenai rasa syukur juga mendukung pentingnya kebiasaan ini. Sebuah meta-analisis terbaru yang mencakup 145 tulisan penelitian, 163 sampel, dan lebih dari 24 ribu partisipan dari 28 negara menemukan bahwa latihan rasa syukur dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan, meski efeknya tergolong kecil.
Ini artinya, menghargai secangkir kopi yang enak, waktu berbareng anak, udara pagi yang nyaman, alias berita baik yang datang hari ini bukan sekadar "bersyukur saja".
3. Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih baik
Kesalahan mini bisa membikin seseorang langsung melabeli dirinya bodoh, gagal, alias tidak becus. Padahal, langkah seseorang memperlakukan dirinya sendiri berangkaian dengan self-compassion atau welas asih kepada diri sendiri.
Daripada terus menyalahkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan, seseorang dapat belajar mengatakan, "Aku memang salah, tapi saya bisa memperbaikinya."
Meta-analisis terhadap 79 sampel dengan total 16.416 partisipan menemukan hubungan positif yang cukup kuat antara self-compassion dan well-being. Hubungan tersebut juga terlihat pada beragam aspek kesejahteraan, termasuk kesejahteraan psikologis dan kognitif.
Penelitian lain yang lebih baru juga menunjukkan bahwa komponen positif dari self-compassion, seperti memperlakukan diri dengan baik dan menyadari bahwa manusia bisa mengalami kesulitan, berangkaian dengan mental well-being.
Cobalah untuk berbincang kepada diri sendiri dengan lebih lembut. Ini bukan berfaedah Bunda sedang memanjakan diri alias selalu membenarkan kesalahan. Justru dengan langkah tersebut, seseorang tetap bisa mengakui kesalahan tanpa kudu merendahkan dirinya sendiri.
4. Punya kegiatan yang betul-betul disukai
Kebahagiaan tidak kudu datang dari sesuatu yang besar. Memasak, membaca, berkebun, membikin kue, melukis, berjalan-jalan, bermain musik, olahraga, alias melakukan kegemaran lain bisa menjadi bagian dari keseharian yang memberi rasa senang.
Dalam tulisan terbarunya, Alexandra Potora menyarankan untuk meluangkan waktu melakukan hal-hal yang disukai dan membikin diri merasa nyaman. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini bisa membantu menghadirkan lebih banyak keceriaan dalam keseharian.
Penelitian tentang mencoba kegiatan baru juga menarik. Dalam sebuah eksperimen, orang yang melakukan kebaikan alias mencoba sesuatu yang baru selama 10 hari mengalami peningkatan kepuasan hidup dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.
Artinya, rutinitas memang bisa terasa nyaman, tetapi sesekali mencoba sesuatu yang berbeda juga enggak ada salahnya. Siapa tahu justru menemukan perihal baru yang rupanya menyenangkan.
5. Tetap belajar dan mencoba perihal baru
Orang senang tidak kudu terus-menerus mencari pengalaman besar. Mencoba resep baru, mempelajari keahlian baru, membaca topik yang belum pernah dipelajari, alias melakukan kegiatan yang berbeda dari biasanya juga dapat memberikan rasa pencapaian.
Penelitian mengenai kebaruan (novelty) menunjukkan bahwa pengalaman baru dapat berasosiasi dengan kepuasan hidup. Dalam studi eksperimental, melakukan tindakan baru maupun tindakan kebaikan selama beberapa hari meningkatkan life satisfaction.
Oleh lantaran itu, belajar sesuatu yang baru bukan hanya soal menambah kemampuan. Ada kemungkinan rasa penasaran, tantangan, dan pengalaman menguasai sesuatu yang sebelumnya belum dikuasai ikut memberikan kepuasan psikologis.
6. Memiliki tujuan yang terasa bermakna
Bahagia bukan hanya soal merasa senang sepanjang waktu. Seseorang juga bisa merasa hidupnya lebih berfaedah ketika mengetahui untuk apa dia menjalani sesuatu.
Tujuan tersebut tidak kudu spektakuler. Ini bisa berupa membesarkan anak, membantu keluarga, menjalani pekerjaan yang dianggap bermakna, berkarya, membantu orang lain, alias berkontribusi pada lingkungan sekitar.
Goldsmith juga memasukkan menemukan tujuan hidup sebagai salah satu kebiasaan orang yang bahagia.
Penelitian menunjukkan hubungan yang konsisten antara purpose in life dan kesehatan mental. Meta-analisis terhadap lebih dari 531 ribu orang dari 72 sampel menemukan bahwa tujuan hidup yang lebih kuat berangkaian dengan lebih rendahnya indikasi depresi.
Penelitian lain terhadap 108.391 partisipan juga menemukan bahwa orang dengan tujuan hidup yang lebih kuat condong melaporkan tingkat stres subjektif yang lebih rendah.
Bahkan, meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 terhadap 25 sampel dengan total 488.765 partisipan menemukan bahwa purpose in life mempunyai hubungan dengan akibat kematian awal yang lebih rendah.
Namun, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan berfaedah mempunyai tujuan hidup secara langsung mencegah kematian.
7. Lebih sering mengutamakan pengalaman daripada sekadar mempunyai barang
Membeli peralatan baru memang bisa menyenangkan, Bunda. Namun, kebahagiaan setelah mempunyai barang tidak selalu memperkuat lama.
Sejumlah penelitian ilmu jiwa konsumen menemukan bahwa pengalaman, seperti bepergian, makan berbareng orang lain, mengikuti kegiatan, alias melakukan kegiatan yang berkesan, sering kali memberikan kepuasan yang lebih memperkuat dibandingkan pembelian peralatan material.
Penelitian lain menunjukkan pengalaman juga lebih mudah menjadi bahan cerita dan dibagikan kepada orang lain, sehingga memberikan faedah sosial tambahan.
Namun, bukan berfaedah membeli peralatan pasti membikin seseorang tidak bahagia. Penelitian menunjukkan efeknya juga dapat dipengaruhi kondisi sosial dan ekonomi seseorang.
Untuk orang dengan sumber daya terbatas, pembelian peralatan yang memang dibutuhkan dapat memberikan faedah yang berbeda. Jadi, bukan soal "jangan beli barang", melainkan memberi ruang untuk pengalaman dan hubungan sosial. Bukan hanya mengejar kepemilikan.
8. Melakukan kegiatan bentuk secara rutin
Olahraga sering dikaitkan dengan kesehatan fisik, tetapi manfaatnya tidak berakhir di sana.
Meta-analisis yang meneliti hubungan kegiatan bentuk dengan subjective well-being pada perseorangan sehat menemukan hubungan positif dengan ukuran pengaruh mini hingga sedang. Hubungan tersebut juga terlihat pada beragam golongan usia dan jenis kegiatan fisik.
Bukan berfaedah seseorang kudu berolahraga berat setiap hari. Berjalan kaki, bersepeda, menari, berenang, alias kegiatan bentuk lain yang sesuai keahlian juga bisa menjadi pilihan.
Yang lebih krusial adalah menemukan corak kegiatan yang realistis sehingga dapat dilakukan secara konsisten.
9. Menikmati hal-hal mini tanpa merasa kudu selalu produktif
Ada dugaan bahwa waktu yang tidak digunakan untuk bekerja alias mencapai sesuatu adalah waktu yang terbuang. Padahal, menikmati perihal sederhana juga punya tempat dalam kehidupan yang sehat secara psikologis.
Goldsmith memasukkan menikmati kenangan indah, lelucon, orang-orang yang disayangi, hari yang menyenangkan, dan beragam kesenangan sederhana sebagai salah satu kebiasaan orang bahagia.
Hal serupa juga terlihat dalam pendekatan ilmu jiwa positif yang memandang well-being bukan hanya dari ada alias tidaknya gangguan mental, tetapi juga dari emosi positif, hubungan sosial, makna hidup, kesehatan, karakter, dan beragam aspek kehidupan lainnya.
Dengan kata lain, hidup yang baik tidak kudu selalu terasa produktif.
Terkadang, cukup dengan duduk menikmati teh hangat, berbual berbareng anak, mendengarkan lagu kesukaan, alias menikmati sore tanpa melakukan sesuatu yang "penting" justru menjadi bagian dari hidup yang mau kita ingat.
10. Tidak memaksakan diri untuk selalu bahagia
Ini mungkin justru kebiasaan yang paling jarang disadari. Keinginan untuk senang bisa berubah menjadi tekanan ketika seseorang merasa dirinya kudu selalu positif.
Padahal, hidup senang bukan berfaedah tidak pernah sedih, kecewa, marah, takut, alias lelah. Psikologi memandang well-being secara lebih luas daripada sekadar sering merasa senang.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menggunakan konsep flourishing yang mencakup kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan bentuk dan mental, makna dan tujuan, karakter, serta hubungan sosial yang dekat.
Bahkan, penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa mengejar kebahagiaan secara langsung tidak selalu otomatis meningkatkan kesejahteraan. Cara seseorang mendefinisikan kebahagiaan dan apakah kebahagiaan itu berangkaian dengan hubungan sosial juga berperan.
Jadi, tidak apa-apa jika hari ini Bunda sedang tidak bahagia. Yang krusial bukan memaksa diri untuk selalu tersenyum, melainkan mempunyai kebiasaan dan hubungan yang membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)