Kenapa Harus Pakai Masker saat Ada Abu Vulkanik? Ini Penjelasan Dokter Paru

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 509x dilihat
Kenapa Harus Pakai Masker saat Ada Abu Vulkanik? Ini Penjelasan Dokter Paru

Bagikan Postingan

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Masyarakat di area terdampak pun perlu mewaspadai paparan abu yang dapat membahayakan saluran pernapasan.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar rumah selama paparan abu vulkanik tetap tinggi. Namun, jika kudu beraktivitas keluar, penggunaan masker dan kacamata menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan, Bunda.

“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap dalam rumah. Namun, jika kudu keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” ujar Menkes Budi, dikutip dari laman Kemenkes RI, Senin (7/9/2026).


Efek menghirup abu vulkanik bagi kesehatan

Debu vulkanik adalah partikel sangat lembut dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar saat terjadi erupsi. Ukurannya yang sangat kecil, ialah PM10 dan PM2.5, sangat mudah terhirup hingga masuk ke saluran napas dalam.

Dilansir IG @pdpi.jakarta, Dokter Spesialis Paru, dr. Ibrahim Dharmawan, SpP, menjelaskan bahwa paparan debu vulkanik dapat menyebabkan beberapa keluhan. Berikut di antaranya:

  • Tenggorokan terasa tidak nyaman
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Iritasi mata dan hidung

Meski tidak semua orang bakal mengalami keluhan berat, Ibrahim mengingatkan tetap perlu waspada, terutama golongan dengan akibat lebih tinggi, seperti orang dengan asma, PPOK, penyakit paru lainnya, anak-anak, lansia, dan mereka yang terpapar debu dalam jumlah besar.

Bagaimana debu vulkanik bisa mencapai bagian terdalam paru?

Bunda, partikel debu vulkanik yang sangat mini bisa lolos dari saringan alami saluran napas bagian atas dan mencapai bagian terdalam paru.

Ibrahim menjelaskan bahwa makrofag (sel pertahanan paru) bakal mencoba memfagositosis partikel tersebut.

Namun, partikel mineral yang tidak mudah larut dapat memperkuat lebih lama dan memicu respons peradangan, terutama jika paparannya tinggi alias terjadi secara berulang kali.

Bedanya abu vulkanik dan debu biasa

Abu vulkanik sering dianggap sama dengan debu biasa. Padahal, keduanya mempunyai karakter dan akibat yang berbeda. Berikut perbedaan abu vulkanik dan debu biasa yang perlu Bunda ketahui:

Abu vulkanik:

  • Komposisi sangat bervariasi campuran beragam bahan di lingkungan, seperti serbuk tanaman, serat tekstil, tanah, jelaga (polusi kendaraan), dan kulit mati.
  • Bentuk partikel beragam dan sebagian relatif lebih lunak.
  • Ukurannya sangat bervariasi.

Debu biasa:

  • Komposisi utama dari pecahan sangat mini batuan, mineral, dan material vulkanik yang terlontar saat erupsi.
  • Partikel condong keras, bersudut tajam, dan abrasif.
  • Bisa mengandung mineral seperti silika (kandungan bervariasi tergantung gunungnya).

“Jadi, debu vulkanik bukan ‘abu pembakaran’ melainkan pecahan batuan yang sangat mini akibat kegiatan gunung berapi. Memahami perbedaannya membantu kita lebih siap melindungi kesehatan paru,” tutur Ibrahim.

Cara mencegah debu vulkanik masuk ke saluran pernapasan

Ada beberapa perihal yang dapat Bunda lakukan untuk mencegah debu vulkanik masuk ke saluran pernapasan. Berikut di antaranya:

  • Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
  • Gunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik.
  • Batasi kegiatan luar ruangan, terutama saat kualitas udara buruk.
  • Tutup pintu dan jendela rumah, gunakan penyaring udara (air purifier) jika tersedia.
  • Bersihkan tubuh, wajah, dan hidung setelah di luar ruangan.
  • Cuci busana yang terkena debu secara terpisah dari busana yang lain.

Tips memilih masker yang tepat untuk menghindari abu vulkanik

Dilansir detikcom, abu vulkanik mengandung partikel yang dapat tersebar di udara. Ketika terhirup, partikel tersebut berpotensi mengiritasi saluran pernapasan.

Oleh lantaran itu, penggunaan masker menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan ketika masyarakat kudu berada di luar ruangan.

Tidak sembarangan, Bunda juga perlu memperhatikan pemilihan masker. Profesor paru dari RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan masker yang ideal digunakan untuk meminimalkan paparan abu vulkanik adalah jenis respirator.

Masker tersebut mempunyai keahlian untuk memfiltrasi partikel-partikel lembut alias particulate matter yang terdapat di udara.

“Yang ideal ialah masker yang kita sebut respirator, yang bisa memfiltrasi partikel particulate matter seperti contohnya masker N95 alias KN95,” ujar Prof. Agus.

Namun, Prof. Agus mengatakan masyarakat juga dapat menggunakan masker jenis respirator lain selama mempunyai keahlian untuk menyaring partikel.

“Atau bisa juga respirator lain yang mempunyai keahlian memfiltrasi particulate matter, itu bisa dilihat juga dari bahan yang dipakai apakah ada keahlian memfiltrasi,” ujarnya.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads