Dua alias tiga dasawarsa lalu, susah membayangkan bahasa Korea bakal terdengar begitu familiar di ruang budaya global. Hari ini, BTS dan BLACKPINK mengisi stadion internasional, serial Korea rutin masuk daftar tontonan terpopuler Netflix, movie seperti “Parasite” memenangkan penghargaan tertinggi Hollywood, webtoon Korea diadaptasi ke beragam negara, sementara makanan, kosmetik, fashion, dan bahasa Korea ikut menikmati pengaruh dari ketenaran budaya tersebut.
Fenomena itu biasa disebut Hallyu alias Korean Wave. Namun jika hanya memandang hasil akhirnya, keberhasilan Korea Selatan mudah disederhanakan menjadi kisah tentang pemerintah yang menemukan formula lampau “mengekspor budaya” ke dunia. Kenyataannya jauh lebih kompleks.
Negara memang berkedudukan besar dalam membangun infrastruktur, pembiayaan, pendidikan, kebijakan ekspor, perlindungan kewenangan cipta, dan promosi internasional. Tetapi pemerintah tidak menulis “Squid Game”, tidak menciptakan BTS, dan tidak menyutradarai “Parasite”. Produk-produk yang akhirnya menembus pasar dunia lahir dari perusahaan, filmmaker, musisi, produser, game developer, seniman, serta pekerja imajinatif yang beraksi dalam ekosistem industri sangat kompetitif.
Yang sukses dilakukan Korea Selatan adalah membangun kondisi agar produktivitas tersebut dapat berkembang menjadi produk budaya yang mempunyai jalur menuju pasar global.
Hasil ekonominya sekarang sangat konkret. Data terbaru Ministry of Culture, Sports and Tourism menunjukkan nilai ekspor industri konten Korea mencapai sekitar US$14,08 miliar pada 2024, naik dari US$11,92 miliar pada 2020. Game tetap menjadi komponen terbesar dengan nilai sekitar US$8,50 miliar, tetapi musik sudah mencapai US$1,80 miliar dan broadcasting sekitar US$1,25 miliar.
Budaya, dalam kasus Korea Selatan, bukan lagi sekadar soft power. Ia sudah menjadi industri ekspor.

Photo: REUTERS/Mario Anzuoni
Hallyu Tidak Dimulai dari BTS
Gelombang Korea sebenarnya jauh lebih tua daripada kekuasaan K-pop generasi sekarang.
OECD mencatat istilah Hallyu mulai digunakan pada akhir 1990-an dan pada awalnya terutama merujuk pada meningkatnya ketenaran drama televisi dan movie Korea di Tiongkok serta kemudian Jepang. Bahkan Hallyu merambah Timur Tengah. Pada 2000-an, musik Korea memperluas kejadian tersebut ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara sebelum kemudian berkembang menjadi kejadian global.
Drama seperti “Winter Sonata” menjadi kejadian di Jepang pada awal 2000-an. Serial lain menyebar ke beragam negara Asia melalui televisi. Pada periode yang sama, industri movie Korea sedang mengalami transformasi besar dan mulai menghasilkan karya yang mendapat perhatian pagelaran internasional.
Generasi kedua K-pop kemudian memperluas skalanya melalui YouTube dan media sosial. Setelah itu BTS dan BLACKPINK mendorong K-pop ke level baru, sementara Netflix membikin drama Korea dapat ditemukan secara serentak oleh audiens dari Jakarta sampai São Paulo.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Hallyu tidak lahir melalui satu momen viral. Ia berkembang melalui beberapa gelombang yang saling memperluas pasar. Drama membuka pintu. K-pop membangun fandom. Film meningkatkan prestige. Streaming menghapus halangan distribusi. Beauty, food, fashion, dan tourism kemudian memanfaatkan perhatian yang sudah terbentuk.
Negara Melihat Budaya sebagai Industri Relatif Dini
Salah satu fondasi yang sering disebut dalam sejarah industri imajinatif Korea adalah perubahan langkah pemerintah memandang budaya pada akhir 1990-an.
Pada 1999, Korea Selatan mengesahkan Framework Act on the Promotion of Cultural Industries. Undang-undang tersebut secara definitif menempatkan pengembangan dan daya saing cultural industries sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional. Regulasi itu mencakup industri seperti film, musik, game, publishing, broadcasting, animation, character, dan corak konten lainnya.
Ini terjadi tidak lama setelah Asian Financial Crisis 1997–1998 mengguncang perekonomian Korea. Namun krusial membedakan antara membangun industri dan menentukan isi budaya.
Kekuatan pendekatan Korea justru terletak pada kebenaran bahwa support negara banyak diarahkan pada ekosistem: pembiayaan, ekspor, pengembangan talenta, fasilitas, teknologi, riset pasar, pengedaran internasional, dan perlindungan intellectual property.
Kementerian Kebudayaan Korea apalagi menggunakan prinsip yang mereka sebut “support but do not interfere” dalam kebijakan budaya: negara menyediakan lingkungan pendukung tetapi produktivitas tetap kudu berasal dari pelaku industri.
Model tersebut berbeda dari pendapat bahwa pemerintah duduk di sebuah ruangan lampau menentukan boyband mana yang kudu menjadi terkenal di Amerika. Pasar tetap menentukan hasil akhirnya. Yang dilakukan negara adalah memperbesar probabilitas keberhasilan.
Dari Produk Budaya Menjadi Infrastruktur Ekspor
Ketika Hallyu berkembang, support pemerintah juga semakin sistematis.
Pada 2023, Ministry of Culture, Sports and Tourism mengalokasikan 844,2 miliar won untuk program pembuatan dan promosi K-content. Programnya mencakup pengembangan movie dan video, musik, game, webtoon, teknologi, pendidikan talenta, riset pasar internasional, hingga support ekspor. Pemerintah secara definitif menyebut K-content sebagai salah satu sektor yang dapat mengubah lanskap ekspor Korea.
Pada 2024 pemerintah mengumumkan strategi internasional yang antara lain menargetkan peningkatan jumlah content business centers di luar negeri dari 25 pada 2024 menjadi 50 pada 2027. Strategi itu mencakup support bagi perusahaan Korea memasuki pasar baru, pembiayaan, perlindungan copyright, pagelaran internasional, hingga integrasi promosi antara budaya dan produk konsumen Korea.
Pada 2025, Korea apalagi memberlakukan Framework Act on the Promotion of Hallyu Industry, yang secara norma mendefinisikan Hallyu tidak hanya sebagai penyebaran budaya Korea, tetapi juga konsumsi cultural products serta peralatan mengenai yang muncul akibat penyebaran tersebut. Undang-undang tersebut secara definitif menghubungkan Hallyu dengan daya saing nasional dan ekonomi.
Dengan kata lain, sesuatu yang pada akhir 1990-an tetap terlihat sebagai kejadian budaya regional sekarang sudah menjadi sektor ekonomi yang mempunyai kerangka izin sendiri.

Park Chan-wook. Photo via The New York Times
Industri Swasta Membawa Sesuatu yang Tidak Bisa Diproduksi Negara: Risiko Kreatif
Namun kebijakan saja tidak cukup menjelaskan kenapa penonton di Indonesia, Prancis, Amerika Serikat, alias Brasil betul-betul mau menonton konten Korea. Kualitas dan diferensiasi produk tetap fundamental.
Studio Korea, production house, entertainment agency, game developer, platform webtoon, dan perusahaan teknologi berkembang dalam kejuaraan domestik yang sangat intens. Dalam K-pop, sistem trainee menciptakan pipeline panjang yang menggabungkan performance, musik, koreografi, visual branding, bahasa, dan fandom management. Dalam drama, kejuaraan televisi kemudian berkembang menjadi pertarungan konten streaming. Dalam film, generasi filmmaker seperti Park Chan-wook, Bong Joon-ho, Lee Chang-dong, dan Kim Jee-woon membangun reputasi internasional melalui pagelaran sekaligus aliran cinema.
Keunggulan Korea bukan lantaran semua produknya dibuat untuk “terlihat Korea”. Justru banyak karya sukses menggabungkan sesuatu yang lokal dengan struktur cerita yang mudah dibaca secara global.
“Parasite” sangat Korea dalam persoalan ruang kota, kelas, pendidikan, dan struktur keluarganya, tetapi kekhawatiran terhadap inequality dapat dimengerti nyaris di mana saja. “Squid Game” menggunakan permainan masa mini Korea, tetapi mengubahnya menjadi alegori tentang utang, kompetisi, dan kapitalisme. K-pop menggunakan bahasa Korea, tetapi produksi musikalnya menyerap hip-hop, EDM, R&B, pop Barat, Japanese idol culture, serta beragam tradisi dunia lainnya.
Kemampuan tersebut krusial lantaran cultural export yang sukses biasanya bukan berfaedah menghapus identitas lokal. Ia membikin identitas lokal legible secara global.
Internet Mengubah Kekurangan Korea Menjadi Keuntungan
Korea mempunyai keterbatasan struktural yang justru ikut membentuk orientasi ekspornya. Pasar domestiknya relatif mini dibandingkan Amerika Serikat, Tiongkok, alias Jepang. Karena itu, perusahaan entertainment mempunyai insentif besar untuk memikirkan pasar internasional sejak awal. Kemudian datang YouTube.
Generasi awal K-pop tetap berjuntai pada jaringan televisi Asia dan pengedaran fisik. YouTube menghilangkan banyak gatekeeper tersebut. Sebuah video dari Seoul dapat ditonton di Mexico City alias Jakarta pada hari yang sama tanpa kudu menunggu perusahaan pengedaran lokal membeli haknya. Media sosial memperbesar efeknya.
Fans melakukan subtitle, membikin reaction video, fan edit, fancam, meme, streaming party, dan menerjemahkan komunikasi artis secara sukarela. Banyak pekerjaan pengedaran budaya yang dulu kudu dilakukan perusahaan kemudian dilakukan komunitas. Streaming membikin perubahan berikutnya.
Netflix, Spotify, Apple Music, Disney+, dan platform dunia lainnya membikin konsumen tidak lagi kudu secara aktif mencari “produk impor Korea”. Drama Korea dapat muncul di homepage yang sama dengan serial Amerika, Spanyol, Jepang, alias Inggris.
Perbedaannya terlihat pada pola persepsi internasional saat ini. Survei nasional Korea pada 2025 menemukan bahwa video platforms menjadi saluran utama masyarakat luar negeri berinteraksi dengan Korea, digunakan oleh 64,4 persen responden, diikuti media sosial sebesar 56,6 persen. Di antara video platforms, YouTube dan Netflix menjadi dua platform yang paling dominan.
Distribusi digital membikin jarak geografis semakin tidak relevan.

Penari mancanegara mengenakan topi gat dan menari di panggung K-Pop Demon Hunters. Cr. Ko Un-ho/The Chosun Daily
K-pop Menunjukkan Betapa Jauhnya Ekspor Budaya Bisa Berkembang
Tidak ada sektor yang memperlihatkan perubahan ini sejelas K-pop. Nilai ekspor album K-pop pada 2019 tetap sekitar US$74,6 juta. Pada 2024 angkanya sudah mencapai US$291,8 juta. Pada 2025 untuk pertama kalinya ekspor album melewati US$300 juta, mencapai rekor US$301,7 juta. Dan pertumbuhannya belum berhenti.
Pada semester pertama 2026 saja, ekspor album K-pop mencapai US$257,48 juta, naik 125 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan US$74,12 juta, disusul Tiongkok dan Jepang.
Pada kuartal pertama 2026, album K-pop dikirim ke 131 negara dan wilayah. Sebanyak 94 di antaranya mencatat nilai impor kuartalan tertinggi sepanjang sejarah. Angka tersebut krusial lantaran memperlihatkan Hallyu tidak lagi hanya kejadian Asia Timur. Basis konsumennya semakin tersebar.
Game Justru Mesin Ekspor Terbesar
Ironisnya, ketika publik berbincang mengenai Korean Wave, perhatian biasanya tertuju pada BTS, BLACKPINK, drama Korea, alias “Parasite”. Namun dari sisi ekspor industri konten, game merupakan raksasa sebenarnya.
Data Ministry of Culture, Sports and Tourism menunjukkan ekspor industri game Korea pada 2024 mencapai sekitar US$8,50 miliar, jauh di atas musik sebesar US$1,80 miliar dan broadcasting sebesar US$1,25 miliar. Dari total ekspor konten sekitar US$14,08 miliar, game menyumbang lebih dari setengahnya. Ini memperlihatkan kenapa istilah K-content sebenarnya jauh lebih luas daripada entertainment celebrity culture.
Korea mempunyai industri game global, webtoon, publishing, character IP, animation, broadcasting, dan beragam corak digital content. Dan banyak sektor tersebut kemudian saling bertemu. Webtoon menjadi drama. Game menjadi movie alias animation. K-pop idol menjadi brand ambassador. Drama mendorong fashion. Film mendorong tourism. Sebuah intellectual property dapat hidup dalam banyak corak sekaligus.
Hallyu Berhasil Karena Tidak Berhenti pada Konten
Inilah bagian paling krusial dalam strategi ekonomi Korea. Tujuan akhirnya bukan hanya menjual satu bagian drama alias satu album. Perhatian terhadap budaya diubah menjadi permintaan terhadap ekosistem yang lebih luas.
Seseorang menonton drama Korea lampau tertarik mencoba ramyeon. Penggemar idol membeli skincare Korea. Penonton “Squid Game” mengenal dalgona. Penggemar drama mengunjungi letak syuting. Orang yang mengikuti K-pop mulai belajar bahasa Korea.
Efek tersebut apalagi sudah masuk ke dalam arti resmi Hallyu dalam undang-undang Korea: penyebaran budaya yang menghasilkan konsumsi bukan hanya cultural products, tetapi juga related goods.
Data terbaru memperlihatkan pengaruh tersebut semakin nyata.
KOFICE dalam “2025 Hallyu White Paper” melaporkan bahwa ekspor K-Food Plus mencapai US$13,62 miliar pada 2025, sementara ekspor ramyeon meningkat 21,9 persen. Di bagian beauty, Korea apalagi telah menjadi pemasok kosmetik terbesar kedua ke pasar Amerika Serikat setelah melampaui Prancis.
Tentu tidak setiap dolar ekspor kosmetik alias makanan dapat diklaim sebagai akibat langsung K-pop alias drama Korea. Produk tetap kudu kompetitif dalam harga, kualitas, distribusi, dan marketing. Tetapi Hallyu menurunkan satu halangan penting: familiarity. Konsumen sudah mengenal Korea sebelum berjumpa produknya.

Photo via Wonderplan
Budaya Juga Menjual Sebuah Negara
Efek lain yang lebih susah dihitung adalah perubahan gambaran Korea Selatan. Dalam survei National Image 2025 terhadap 13.000 responden dari 26 negara, 82,3 persen menyatakan pandangan positif terhadap Korea Selatan, nomor tertinggi sejak survei tersebut dimulai pada 2018.
Yang lebih signifikan, cultural content menjadi aspek terbesar yang memengaruhi pandangan positif terhadap Korea, disebut oleh 45,2 persen responden. Di Indonesia, pengaruh cultural content apalagi mencapai 59,5 persen.
Artinya bagi banyak orang, titik kontak pertama dengan Korea bukan Samsung, Hyundai, diplomasi, alias sejarah geopolitik. Melainkan lagu, drama, film, makanan. Budaya pop berfaedah sebagai sesuatu yang tidak mudah dilakukan iklan negara: membikin negara lain terasa familiar secara emosional.
Tetapi Hallyu Bukan Propaganda Pemerintah
Di sinilah krusial untuk menghindari salah satu mitos paling umum mengenai keberhasilan Korea. Dukungan pemerintah memang nyata dan besar. Tetapi menyimpulkan bahwa Hallyu adalah proyek propaganda yang dirancang secara terpusat juga salah.
Banyak breakthrough terbesar justru susah direncanakan. Tidak ada kementerian yang dapat menjamin “Gangnam Style” menjadi video global. Tidak ada kebijakan publik yang dapat memastikan BTS memperoleh fandom internasional sebesar ARMY. Tidak ada strategi pemerintah yang bisa memaksa “Parasite” memenangkan Palme d’Or dan Best Picture. Tidak ada birokrat yang dapat memastikan “Squid Game” menjadi kejadian Netflix.
Pemerintah dapat mendanai industri, membuka instansi ekspor, mendukung festival, memperkuat copyright, memberikan financing, alias membantu perusahaan berjumpa distributor. Tetapi masyarakat dunia tetap kudu menyukai produknya.
Hallyu sukses lantaran ada hubungan produktif antara policy infrastructure dan creative risk. Tanpa industri kreatif, kebijakan hanya menghasilkan promosi. Tanpa infrastruktur, produktivitas sering kesulitan mencapai pasar global. Korea sukses menghubungkan keduanya.

Ada Sisi Rapuh di Balik Mesin K-content
Keberhasilan ini juga tidak berfaedah sistem Korea tanpa masalah. Industri K-pop menghadapi kritik mengenai beban trainee, kontrak, mental health, pemanfaatan fandom, serta konsumsi album berlebihan. Industri drama mengalami tekanan biaya produksi dan meningkatnya ketergantungan terhadap dunia streaming platforms. Film Korea sendiri menghadapi masalah box office domestik setelah pandemi.
Laporan KOFICE terbaru apalagi menggambarkan 2025 sebagai tahun ketika keberhasilan dunia broadcasting Korea berjalan berbarengan dengan persoalan serius dalam ekosistem produksi domestik. Ketergantungan terhadap beberapa superstar dan franchise juga menciptakan risiko.
Data album K-pop menunjukkan pasar dunia terus bertumbuh, tetapi penjualan album keseluruhan turun dari sekitar 120 juta kopi pada 2023 menjadi sekitar 93,5 juta pada 2025. Artinya ekspansi internasional tidak otomatis berfaedah semua bagian industri tumbuh sehat pada tingkat yang sama.
Hallyu sudah menjadi sistem ekonomi besar. Dan seperti industri besar lainnya, dia mempunyai persoalan sustainability.
Pelajaran Korea Bukan “Pemerintah Harus Membuat K-pop”
Apa yang dapat dipelajari negara lain dari Korea bukan resep sederhana untuk membikin boyband, drama romantis, alias movie genre. Budaya tidak bisa diproduksi melalui template ekspor. Pelajaran yang lebih relevan justru berada pada infrastrukturnya.
Korea mengembangkan talenta, membangun industri produksi, memperlakukan IP sebagai aset, memperkuat distribusi, memanfaatkan teknologi global, menyediakan pembiayaan, mengumpulkan informasi pasar, melindungi kewenangan cipta, serta aktif membantu perusahaan imajinatif mengakses pasar internasional.
Namun produknya tetap boleh menjadi aneh, lokal, gelap, romantis, brutal, eksperimental, alias apalagi mengkritik masyarakat Korea sendiri. “Parasite” bukan pamflet pariwisata Korea. “Squid Game” bukan iklan mengenai kemakmuran negara.
Banyak movie dan drama Korea terbaik justru sangat kritis terhadap inequality, pendidikan, kapitalisme, patriarki, corruption, alias tekanan sosial. Paradoksnya, kebebasan untuk menunjukkan sisi tidak sempurna tersebut justru membikin budaya Korea terasa lebih kredibel.
Dari Negara Pengimpor Budaya Menjadi Salah Satu Produsen Budaya Global
Pada akhirnya, keberhasilan Korea Selatan bukan sekadar cerita mengenai K-pop. Ia adalah cerita mengenai gimana sebuah negara yang dulu sangat banyak mengonsumsi budaya Amerika dan Jepang kemudian membangun industri yang bisa mengirim budaya kembali ke dunia.
Pada 2024, nilai ekspor industri konten Korea sudah melampaui US$14 miliar. Pada 2025, pemerintah apalagi mempunyai undang-undang unik untuk membangun keberlanjutan industri Hallyu. Dan pada 2026, album K-pop terus mencetak rekor ekspor sementara produk, pariwisata, bahasa, makanan, dan gambaran Korea ikut bergerak bersamanya.
Namun nomor tersebut hanya merupakan hasil akhir. Fondasi sebenarnya terletak pada sesuatu yang lebih sederhana: Korea memahami bahwa budaya mempunyai dua sifat sekaligus. Budaya adalah ekspresi. Dan budaya bisa menjadi industri.
Jika hanya melihatnya sebagai industri, hasilnya mudah berubah menjadi produk steril yang dirancang mengikuti pasar. Jika hanya melihatnya sebagai ekspresi, karya dahsyat belum tentu mempunyai prasarana untuk mencapai dunia.
Korea Selatan membangun jembatan di antara keduanya. Itulah sebabnya Hallyu bukan hanya sebuah tren. Tapi contoh gimana cerita, musik, karakter, bahasa, dan khayalan sebuah negara dapat menjadi bagian dari perdagangan global—tanpa kudu berakhir menjadi budaya.
Sumber: Ministry of Culture, Sports and Tourism Republic of Korea; Korea Creative Content Agency (KOCCA); Korean Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE); Korea Customs Service; OECD; Korean National Law Information Center; Yonhap News Agency.