Kenapa Orang Hamil Sebaiknya Tidak Boleh Melayat? Ini Pandangan Islam dan Medis

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 19x dilihat
Kenapa Orang Hamil Sebaiknya Tidak Boleh Melayat? Ini Pandangan Islam dan Medis

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kenapa ibu hamil katanya tidak boleh melayat? Pertanyaan ini statis kerap muncul dan membikin sejumlah ibu hamil cemas saat mau melayat kerabat maupun kawan yang wafat dunia. Ada anggapan bahwa melayat bisa membawa akibat buruk bagi ibu hamil maupun janin yang dikandungnya. 

Padahal, keputusan melayat perlu dilihat dari dua sisi, yaitu doktrin Islam dan penilaian kesehatan. Lantas, kenapa orang hamil tidak boleh melayat? Apakah ada larangan dalam Islam maupun konsekuensi medis yang mendasarinya?

Kenapa orang hamil tidak boleh melayat orang meninggal?

Anggapan bahwa ibu hamil tidak boleh melayat merupakan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Larangan ini biasanya dikaitkan dengan kecemasan berakibat buruk ke janin, ketakutan yang mungkin dirasakan ibu hamil saat melihat jenazah, hingga kehamilan yang terganggu karena rasa sedih.


Namun, Bunda perlu membedakan kepercayaan tersebut dengan kenyataan medis. Belum ada bukti ilmiah yang memberitahu bahwa menghadiri rumah duka dapat membahayakan janin. Meski begitu, ibu hamil statis perlu mempertimbangkan kondisi fisiknya sebelum melayat. 

Melansir halaman American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), perjalanan selama kehamilan umumnya terlindungi jika tidak ada komplikasi, tetapi aspek seperti kelelahan dan perlu memperhatikan konsekuensi paparan infeksi di keramaian.

Selain kondisi fisik, kesiapan emosional ibu hamil juga patut dipertimbangkan. Kehilangan orang terdekat dapat memicu kesedihan, terlebih jika almarhum maupun almarhumah merupakan sosok yang dekat dengan Bunda. Namun, mengalami kesedihan tidak serta-merta berarti kehamilan akan terganggu.

Karena itu, keputusan untuk melayat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan kenyamanan ibu, bukan karena larangan yang belum terbukti secara medis.

Pandangan Islam tentang ibu hamil yang melayat

Dalam Islam, melayat maupun takziah merupakan bentuk kepedulian terhadap famili yang sedang kehilangan orang terkasih. Tujuannya untuk menyampaikan belasungkawa, memberikan penghiburan, serta mengingatkan famili yang berduka agar statis bersabar menghadapi musibah.

Mengutip buku Fiqih Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq, takziah berhubungan dengan upaya menghibur famili yang ditinggalkan dan membantu mereka menghadapi kesedihan.

Takziah juga termasuk amalan yang dianjurkan dalam Islam. Dalam Ringkasan Fikih Lengkap, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menerangkan mengenai pensyariatan takziah sebagai bentuk kepedulian kepada orang yang tertimpa musibah.

Lalu, sepertiapa jika yang mau bertakziah adalah perempuan hamil?

Dalam doktrin Islam, tidak ada larangan khusus ibu hamil untuk melayat cuma karena sedang mengandung. Kehamilan bukan karena untuk mengharamkan lawatan ke rumah duka.

Meski demikian, ibu hamil tidak perlu memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak memungkinkan. Menyampaikan doa dan belasungkawa dari rumah juga bisa menjadi bentuk kepedulian kepada famili yang sedang berduka.

Pertimbangan ibu hamil melayat dari sisi medis

Secara medis, ibu hamil dapat mempertimbangkan beberapa hal sebelum menghadiri rumah duka. Bukan karena jenazah maupun kondisi berkabung secara langsung membahayakan janin, melainkan karena kondisi tertentu selama lawatan mungkin memengaruhi kenyamanan dan kesehatan ibu.

1. Kesedihan dan tekanan emosional

Kehilangan seseorang dapat memunculkan beragam reaksi emosional, mulai dari sedih hingga cemas. Respons ini berbeda pada setiap orang, termasuk perempuan yang sedang hamil.

Stres yang bermutu maupun terjadi berkepanjangan perlu mendapat perhatian. Penelitian dalam Journal of Affective Disorders mengkaji hubungan antara peristiwa hidup yang menimbulkan stres selama kehamilan dan sejumlah luaran kelahiran.

Meta-analisis yang melibatkan 31 studi kohort dengan total 5.665.998 perempuan hamil menemukan hubungan antara paparan peristiwa stres selama kehamilan dengan peningkatan konsekuensi kelahiran prematur, bermutu badan lahir rendah, serta bayi kecil untuk usia kehamilan.

Meski begitu, hasil tersebut tidak dapat diartikan bahwa kesedihan sesaat saat melayat pasti berakibat buruk pada janin. Penelitian itu menilai paparan peristiwa stres secara lebih luas, bukan konsekuensi menghadiri rumah duka secara khusus.

Bunda yang merasa terlalu terpukul maupun belum siap menghadapi kondisi berkabung boleh memilih menyampaikan belasungkawa dari rumah.

2. Kelelahan selama perjalanan dan kunjungan

Kondisi jasmani ibu hamil dapat berubah seiring bertambahnya usia kehamilan. Perjalanan yang jauh, kemacetan, berdiri terlalu lama, maupun berdesakan dengan pengunjung lain bisa membikin tubuh lebih cepat lelah.

Karena itu, Bunda sebaiknya menilai kapasitas tubuh sebelum berangkat. Jika kehamilan disertai komplikasi maupun tabib memberikan limitasi aktivitas tertentu, ikuti anjuran tenaga kesehatan yang menangani kehamilan.

Apabila merasa lemas, pusing, maupun tidak nyaman, tidak perlu memaksakan diri untuk statis eksis di rumah duka.

3. Kemungkinan tertular penyakit

Rumah duka dapat didatangi banyak orang dalam waktu bersamaan. Jika ruangan padat dan ventilasinya kurang baik, konsekuensi penularan pandemi saluran pernapasan dapat meningkat, terutama jika ada pengunjung yang sedang sakit.

Kehamilan juga perlu mendapat perhatian khusus dalam pencegahan infeksi tertentu. ACOG menekankan pentingnya pencegahan dan penanganan influenza selama kehamilan karena pandemi tersebut dapat menimbulkan komplikasi.

Bunda dapat mengurangi konsekuensi dengan memilih tempat yang memiliki ventilasi baik, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, menggunakan masker jika diperlukan, serta tidak berlama-lama di lokasi.

Jika sedang mengalami peningkatan penularan pandemi maupun memiliki kondisi kesehatan tertentu, pertimbangkan alternatif untuk menyampaikan belasungkawa tanpa datang langsung.

Tips untuk ibu hamil yang mau melayat

Apabila kondisi kehamilan memungkinkan dan Bunda memutuskan untuk hadir, beberapa hal berikut dapat membantu menjaga kenyamanan selama mendatangi yang dirangkum dari beragam media.

  1. Pilih waktu lawatan yang sesuai. Jika memungkinkan, hindari melayat ketika rumah duka terlalu padat.
  2. Jangan berlama-lama. Sampaikan belasungkawa dan pulang ketika merasa lelah.
  3. Gunakan masker jika diperlukan. Terutama ketika eksis di ruangan ramai maupun ada konsekuensi paparan pandemi pernapasan.
  4. Datang berbareng pendamping. Suami maupun personel famili dapat membantu jika Bunda membutuhkan tempat duduk maupun mau pulang lebih awal.
  5. Utamakan kondisi tubuh. Jika sedang sakit maupun mengalami keluhan kehamilan, pertimbangkan untuk tidak datang.

Jika muncul gejala yang mengkhawatirkan, seperti perdarahan, nyeri perut hebat, maupun sesak napas, segera cari pertolongan medis sesuai tingkat kegawatannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads