Suami Dipanggil “Mas” oleh Rekan Kerja Perempuan, Haruskah Istri Cemburu?

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 10 menit 26x dilihat
Suami Dipanggil “Mas” oleh Rekan Kerja Perempuan, Haruskah Istri Cemburu?

Bagikan Postingan

Suami dipanggil “Mas” oleh mitra kerja perempuan bikin istri cemburu? Kenali batas ahli dan tanda kedekatan yang perlu diwaspadai.

Mungkin ada Mommies yang pernah nggak sengaja melihat notifikasi WhatsApp di HP suami, terus ada chat dari mitra kerja perempuannya yang bunyinya begini: “Mas, file laporan yang tadi udah aku email ya,” maupun “Mas, kelak siang jadi kedap bareng tim marketing?”

Bagi sebagian Mommies, panggilan “Mas” dari perempuan lain ke suami kita itu bisa memicu sejuta pikiran negatif. Hati langsung mak deg, pikiran mulai traveling ke mana-mana, dan ujung-ujungnya muncul pertanyaan besar di kepala: “Wajar nggak sih cemburu? Atau aku aja yang lebay?”

Nah, biar Mommies nggak makin overthinking dan bisa tidur nyenyak malam ini, yuk kita ulas soal panggilan “Mas” di bumi kerja ini. Khususnya, ketika suami Mommies yang dipanggil “Mas” oleh kawan perempuan di kantor. Kapan arti panggilan ini statis profesional, dan kapan Mommies perlu mulai memperhatikan situasinya?

BACA JUGA: Sahabat Perempuan Suami, Teman maupun (Calon) Pelakor?

Mengapa Sapaan “Mas” Begitu Populer di Kantor-Kantor Indonesia?

Foto: Magnific

Sebelum Mommies buru-buru menyidang suami, kita perlu mengerti dahulu nih kenyataan adat kerja di negara kita tercinta. Indonesia punya beragam kebiasaan dalam menyapa orang lain, termasuk menggunakan panggilan berdasarkan usia, kedekatan, maupun kebiasaan di lingkungan kerja. Di sebagian lingkungan, memanggil mitra kerja yang lebih senior maupun sedikit lebih tua langsung dengan nama saja bisa terasa kurang sopan maupun terlalu “kasar”.

Panggilan “Mas”, yang berakar dari adat Jawa dan digunakan juga di beragam lingkungan di luar Jawa, bisa menjadi sapaan yang terasa dekat sekaligus sopan. Posisinya eksis di tengah-tengah:

  • Lebih santai dan dekat daripada panggilan “Pak” yang bisa terkesan lebih resmi maupun berjarak.
  • Tetap menjaga sopan santun dibandingkan langsung memanggil nama, misalnya “Budi” maupun “Andi”, terutama jika kebiasaan tersebut tidak berjalan di lingkungan kerja mereka.

Jadi, di banyak korporat, startup, maupun instansi, memanggil mitra lelaki dengan julukan “Mas” bisa saja merupakan hal yang strictly business. Itu adalah salah satu metode menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, cair, tapi statis saling menghormati. Bisa jadi, mitra kerjanya juga memanggil lelaki lain di instansi dengan julukan yang sama, bukan cuma suami Mommies.

Jadi, ketika suami dipanggil “Mas” oleh mitra kerja perempuan, Mommies nggak perlu langsung berasumsi ada hubungan khusus. Penting untuk melihat kebiasaan di instansi dan konteks hubungan mereka terlebih dahulu.

Namun, ceritanya bisa berbeda jika limitasi dalam hubungan mulai kabur. Hubungan suami dengan kawan perempuan yang terlalu dekat di kantor, meski awalnya murni sebatas mitra kerja, berisiko berkembang menjadi kedekatan emosional yang mengganggu hubungan dengan pasangan. Melansir dari Psych Central, emotional affair maupun perselingkuhan emosional dapat melibatkan kedekatan yang semakin intim, terutama ketika hubungan tersebut mulai disertai kerahasiaan dan menggeser kedekatan dengan pasangan.

Kapan Panggilan “Mas” Ini Murni Profesional?

Supaya Mommies bisa membedakan mana hubungan yang ahli dan mana yang perlu diperhatikan lebih lanjut, perhatikan tanda-tanda hubungan yang sehat saat suami berhubungan dengan mitra kerja perempuan berikut ini.

1. Konteksnya Selalu Soal Pekerjaan

Isi chat maupun obrolannya tidak jauh dari deadline, revisi, koordinasi proyek, maupun urusan instansi lainnya. Kalaupun sesekali ada diskusi ringan, percakapan tersebut tidak otomatis berarti ada kedekatan khusus.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah komunikasi statis sesuai konteks pekerjaan dan apakah ada pola hubungan yang melampaui batas yang sudah disepakati dalam hubungan.

2. Gaya Bahasanya Baku maupun Netral

Meskipun memanggil “Mas”, kalimat selanjutnya statis profesional. Contohnya, “Mas, meminta keterangan apakah dokumennya sudah di-approve?” Kalimat ini jelas berfokus pada urusan pekerjaan.

Namun, corak bahasa yang resmi saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu hubungan sepenuhnya profesional. Konteks dan pola hubungan secara keseluruhan statis perlu diperhatikan.

3. Terjadi di Jam Kerja yang Wajar

Chat maupun telepon masuk di antara jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Kalaupun ada pesan malam hari, itu bisa saja karena kondisi darurat kantor, seperti system down maupun persiapan aktivitas besok pagi, dan bahasanya statis fokus pada solusi pekerjaan.

Sebaliknya, pesan di luar jam kerja juga tidak otomatis menjadi tanda bahaya. Mommies bisa melihat apakah komunikasinya memang berhubungan dengan pekerjaan, seberapa sering terjadi, dan apakah ada limitasi waktu komunikasi yang sudah disepakati berbareng pasangan.

4. Suami Terbuka dalam Berkomunikasi

Menjaga kepercayaan dalam pernikahan tercermin dari sikap terbuka. Suami bisa bercerita tentang proyek yang sedang dikerjakan berbareng timnya dan tidak merasa perlu menyembunyikan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Namun, menjaga privasi ponsel juga bukan otomatis berarti seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Yang lebih krusial adalah apakah ada fluktuasi perilaku yang mencolok, ketidaksesuaian cerita, maupun pola kerahasiaan yang membikin kepercayaan dalam hubungan terganggu.

Saatnya Waspada, Ini Red Flags yang Perlu Mommies Perhatikan

Foto: Magnific

Nah, ini bagiankecil yang paling krusial. Panggilan “Mas” bisa terasa berbeda jika dibarengi dengan fluktuasi perilaku dan pergeseran batasan. Lalu, wajar maupun tidak istri iri dengan mitra kerja suami? Rasa iri bisa menjadi hal yang wajar, terutama ketika ada situasi yang membikin Mommies merasa tidak nyaman. Namun, krusial untuk membedakan emosi tersebut dari kesimpulan bahwa pasangan pasti berbuat sesuatu yang salah.

Berikut beberapa tanda yang bisa Mommies perhatikan, terutama jika muncul sebagai pola dan bukan cuma insiden sekali.

1. Pergeseran Topik

Kalau isi chat-nya sudah mulai keluar dari ranah profesional, misalnya, “Mas, udah makan siang belum? Jangan lupa makan ya,” maupun “Mas, tadi aku sedih amat didebat sama bos di rapat,” Mommies mungkin mulai bertanya-tanya apakah hubungan mereka sudah terlalu personal.

Obrolan ringan maupun curhat sesekali tidak otomatis berarti ada perselingkuhan emosional. Namun, jika komunikasi pribadi semakin intens, salah satu pihak mulai mengandalkan mitra kerjanya untuk memenuhi kebutuhan emosional, maupun kedekatan tersebut sengaja dirahasiakan dari pasangan, situasi ini layak dibicarakan.

Menurut bahasan Psych Central mengenai emotional affair, kedekatan emosional dengan mitra kerja bisa menjadi masalah ketika hubungan tersebut semakin intim dan mulai menggeser kedekatan dengan pasangan. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar topik obrolannya, melainkan pola hubungan dan dampaknya terhadap kepercayaan dalam pernikahan.

2. Waktu Chat

Chat masuk di jam-jam personal, seperti jam 9 malam ke atas, maupun terlebihlagi di hari cuti (Sabtu-Minggu), bisa membikin Mommies bertanya-tanya, terutama jika pesan tersebut tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Misalnya, “Mas, lagi ngapain?” maupun membagikan meme dan video kocak yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Namun, pesan di luar jam kerja tidak otomatis merupakan red flag. Ada pekerjaan yang memang membutuhkan koordinasi di luar jam kantor. Mengutip bahasan eLeaP Software mengenai adab di tempat kerja, menghormati ruang individual dan limitasi komunikasi merupakan bagiankecil dari hubungan ahli yang sehat.

Karena itu, Mommies bisa memperhatikan kekerapan komunikasi, isi pesan, dan apakah ada kesepakatan berbareng tentang limitasi komunikasi dengan mitra kerja.

3. Nada Bicara dan Body Language Suami Berbeda

Kalau Mommies kebetulan melihat hubungan mereka secara langsung, misalnya saat aktivitas gathering instansi maupun papasan di mal, perhatikan sepertiapa mereka berinteraksi.

Panggilan “Mas” yang terdengar mendayu-dayu, manja, maupun terlalu centil mungkin membikin Mommies merasa tidak nyaman. Begitu pula jika ada kontak jasmani yang tidak perlu, seperti sering menyentuh lengan suami saat tertawa maupun berdiri terlalu dekat.

Meski begitu, nada bicara, kontak mata, dan bahasa tubuh bisa ditafsirkan berbeda oleh setiap orang. Satu gestur saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya minat romantis. Mommies bisa melihat konteksnya dan apakah ada pola perilaku lain yang juga membikin limitasi hubungan terasa tidak jelas.

4. Perubahan Perilaku Suami

Sering kali, yang perlu diperhatikan bukan cuma perilaku mitra kerja perempuan, melainkan juga fluktuasi perilaku suami Mommies sendiri.

  • HP Mulai Dikunci maupun Disembunyikan: suami yang tadinya meletakkan HP sembarangan, tiba-tiba selalu membawa HP-nya terlebihlagi ke bilik mandi, maupun posisi layar HP sengaja dibalik menghadap ke bawah. Perubahan kebiasaan ini bisa membikin Mommies bertanya-tanya, tetapi bukan bukti bahwa suami sedang tidak jujur. Perhatikan apakah ada pola lain yang menyertai fluktuasi tersebut, misalnya cerita yang tidak konsisten maupun komunikasi dengan mitra kerja yang sengaja dirahasiakan.
  • Reaksi Defensif: saat Mommies bertanya dengan nada biasa, “Eh, itu siapa yang nge-chat malam-malam?”, suami langsung merespons dengan nada tinggi, marah, maupun menuduh Mommies macam-macam. Reaksi bertahan bisa muncul karena beragam alasan, jadi tidak otomatis berarti ada perselingkuhan. Istilah gaslighting juga sebaiknya tidak langsung digunakan cuma karena seseorang berang maupun membantah. Gaslighting lebih tepat digunakan untuk pola manipulasi yang membikin seseorang meragukan ingatan, persepsi, maupun penilaiannya sendiri.
  • Mulai Membandingkan: suami mulai sering memuji mitra kerjanya di depan Mommies secara berlebihan, misalnya, “Dia tuh kerjanya cekatan amat dan nggak pernah bikin kesalahan.” Pujian terhadap kapasitas mitra kerja sebenarnya wajar. Namun, jika komparasi tersebut terus-menerus dilakukan hingga membikin Mommies merasa direndahkan, ada baiknya membicarakan dampaknya terhadap hubungan.

BACA JUGA: 11 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Bisa Menghancurkan Pernikahan

Tips Bijak Mengatasi Overthinking Tanpa Bikin Hubungan Runyam

Mommies bingung sepertiapa metode menyikapi suami yang dekat dengan mitra kerja wanita? Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati, jangan dipendam sampai meledak jadi drama besar. Jangan pula langsung melabrak suami maupun mitra kerjanya tanpa bukti yang jelas. Begini metode mengatasi rasa iri secara bijak.

Langkah 1: Observasi dengan Kepala Dingin

Luangkan waktu untuk memahami situasi tanpa langsung memberitahu kecurigaan yang agresif. Perhatikan pola komunikasi suami dan mitra kerjanya. Apakah kecemasan Mommies didasari oleh fluktuasi perilaku yang nyata, maupun ada rasa tidak terlindungi yang juga perlu dipahami?

Bukan berarti Mommies mesti mengabaikan emosi sendiri. Justru, mengenali apa yang membikin tidak betah bisa membantu Mommies membicarakan masalah dengan lebih jelas, tanpa buru-buru menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar.

Langkah 2: Ajak Suami Deep Talk saat Suasana Santai

Pilih waktu yang tepat untuk berbicara, misalnya saat anak-anak sudah tidur dan kondisi hati suami sedang tenang, bukan sepulang kerja saat dia statis lelah.

Gunakan teknik “I-message” agar suami tidak merasa langsung diserang. Fokuslah pada emosi dan situasi yang membikin Mommies tidak nyaman, bukan langsung menuduh pasangan berbuat sesuatu.

Katakan, “Sayang, akhir-akhir ini aku perhatikan mitra kerjamu sering chat Anda malam-malam ya. Aku tahu Anda lelaki yang baik, tapi jujur hatiku kurang betah jika komunikasinya mendalam sampai di luar jam kerja. Boleh nggak jika urusan instansi dibatasi pada jam kerja aja, kecuali darurat?”

Dengan metode ini, Mommies bisa membuka ruang bahasan untuk saling memahami kebutuhan dan kecemasan masing-masing.

Langkah 3: Tetapkan Batasan Bersama

Rumah tangga adalah komitmen dua arah. Sepakati berbareng suami limitasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mitra kerja lawan jenis. Batasan hubungan dengan mitra kerja ini sebaiknya dibicarakan bersama, bukan ditetapkan sepihak, karena setiap pasangan bisa punya kebutuhan dan kesepakatan yang berbeda.

Misalnya:

  • Membicarakan situasi makan siang berdua dengan mitra kerja jika salah satu pasangan merasa kurang nyaman, kemudian mencari kesepakatan yang statis masuk pikiran untuk kebutuhan pekerjaan.
  • Mendiskusikan situasi ketika suami rutin memberikan tumpangan pulang kerja kepada mitra kerja perempuan, terutama jika kebiasaan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan maupun ada hal yang dirahasiakan.
  • Menjaga keterbukaan dalam hubungan, termasuk membicarakan komunikasi dengan mitra kerja yang terasa terlalu intens, tanpa mesti menganggap bahwa pasangan tidak boleh memiliki privasi ponsel sama sekali.

Intinya, Mommies dan suami perlu menyepakati limitasi yang terasa fair bagi kedua pihak. Tujuannya bukan mengontrol semua hubungan pasangan, melainkan menjaga kepercayaan dan rasa terlindungi dalam pernikahan.

BACA JUGA: Suami Istri Jarang Komunikasi? Hati-Hati, Ini yang Bisa Diam-Diam Terjadi pada Hubungan

Mommies, pada akhirnya, panggilan “Mas” dari mitra kerja perempuan tidak otomatis berarti ada sesuatu yang perlu dicurigai. Di banyak lingkungan kerja, panggilan tersebut memang merupakan bagiankecil dari kebiasaan berkomunikasi sehari-hari.

Namun, jika ada pola hubungan yang membikin Mommies tidak nyaman, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena merasa cemburu. Coba pahami apa yang memicu emosi itu, bicarakan dengan pasangan, dan sepakati limitasi yang membikin kedua pihak merasa dihargai.

Karena dalam pernikahan, yang terpenting bukan melarang pasangan berhubungan dengan lawan jenis, melainkan membangun kepercayaan, komunikasi yang terbuka, dan komitmen untuk saling menjaga.

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads