Suami sering menyalahkan Bunda belakangan ini? Mari pahami aturan suami selalu menyalahkan istri menurut Islam.
Dalam hayat rumah tangga, perbedaan gagasan antara suami dan istri merupakan hal wajar. Namun ketika setiap permasalahan berujung pada suami yang menyalahkan istri, hubungan pernikahan bisa terasa melelahkan.
Terlebih jika istri terus-menerus dianggap sebagai penyebab masalah, mulai dari permasalahan ekonomi, keputusan bekerja, hingga urusan keturunan. Dalam Islam, suami dan istri memiliki hak sekaligus tanggung jawab yang perlu dijalankan secara seimbang.
Suami memang memiliki tanggung jawab sebagai imam keluarga, termasuk memberikan nafkah, namun bukan berarti ia dapat menyalahkan istri tanpa mempertimbangkan keadaan dan tanggung jawabnya sendiri. Persoalan rumah tangga seharusnya diselesaikan melalui komunikasi, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Pembahasan mengenai suami yang menyalahkan istri, terutama mengenai keputusan bekerja dan belum dikaruniai anak, turut disinggung oleh Ustaz Syamsuddin Nur maupun Ustaz Syam dan Habib Nabiel Al-Musawa. Keduanya membahas tanggung jawab suami dalam rumah tangga, termasuk sepertiapa menyikapi permasalahan yang melibatkan hak istri dan tanggung jawab suami.
Berikut klarifikasi mengenai aturan suami selalu menyalahkan istri menurut Islam.
Suami menyalahkan istri karena bekerja
Dalam rumah tangga, keputusan istri untuk bekerja perlu dibicarakan bersama, terutama ketika pasangan telah menyepakati ketentuan tertentu mengenai pekerjaan dan hayat keluarga. Masalah dapat muncul ketika suami memberikan persetujuan kepada istri untuk bekerja, namun kemudian menjadikan pekerjaan tersebut sebagai karena untuk menyalahkannya saat menghadapi permasalahan rumah tangga.
Ustaz Syam menyoroti ketidakkonsistenan tersebut. Menurutnya, permasalahan bukan semata-mata terletak pada istri yang bekerja, melainkan juga pada sikap suami yang sebelumnya telah memberikan persetujuan.
"Yang tidak wajar adalah suami yang mengizinkan, tapi dia yang menyalahkan," ujar Ustaz Syam dalam program Islam Itu Indah di TRANSTV.
Pernyataan itu mengingatkan bahwa keputusan yang diambil berbareng seharusnya disertai tanggung jawab dari kedua belah pihak. Suami tidak seharusnya menjadikan keputusan yang telah disetujuinya sendiri sebagai karena untuk terus menyudutkan istri ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Belum punya keturunan bukan berarti istri mesti disalahkan
Kehadiran anak menjadi harapan bagi banyak pasangan setelah menikah. Namun tidak semua pasangan langsung dikaruniai keturunan biarpun telah berupaya dan menjalani hayat berbareng dalam waktu yang lama.
Ustaz Syam mengingatkan bahwa keturunan merupakan ketetapan Allah SWT. Oleh karena itu, permasalahan belum hadirnya anak tidak sepatutnya langsung dibebankan kepada istri, terutama jika penyebabnya belum diketahui.
"Namanya keturunan adalah keputusan Allah SWT disertai upaya maksimal dari manusia," ucap Ustaz Syam.
Ia juga menekankan bahwa kehamilan dan kedatangan anak tidak bisa dipaksakan cuma dengan keinginan manusia. Pasangan perlu terus berusaha, berdoa, dan saling mendukung tanpa menjadikan satu sama lain sebagai sasaran tuduhan.
Jika belum juga dikaruniai anak, Bunda dan suami dapat mempertimbangkan pengecekan kesehatan berbareng untuk mengetahui kondisi kesuburan masing-masing. Dengan demikian, permasalahan dapat dihadapi secara terbuka dan berdasarkan keterangan medis, bukan melalui praduga maupun saling menyalahkan.
Suami tidak boleh menjadikan kekurangan ekonomi sebagai karena untuk merendahkan istri
Kondisi finansial dapat menjadi salah satu sumber perselisihan dalam pernikahan. Ketika gaji suami belum mencukupi, istri mungkin memilih bekerja untuk membantu kebutuhan famili maupun memenuhi kebutuhan pribadinya.
Ustaz Syam menyinggung keadaan ketika istri bekerja karena suami mengizinkannya, termasuk situasi saat istri ikut mencari gaji tambahan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi suami.
Dalam keadaan seperti ini, suami perlu melihat permasalahan secara menyeluruh. Kalau pekerjaan istri telah disepakati bersama, kontribusi Bunda seharusnya tidak dipakai untuk menyalahkan maupun merendahkan dirinya di kemudian hari.
Sebaliknya, pasangan perlu membicarakan kapasitas keuangan, kebutuhan keluarga, dan pembagian tanggung jawab secara terbuka. Suami juga perlu berupaya memenuhi kebutuhan famili sesuai kemampuannya, sementara istri statis berkuasa menyampaikan kebutuhan dan pendapatnya dengan baik.
Rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling bersalah, melainkan ruang bagi dua orang untuk saling membantu menghadapi kesulitan.
Suami perlu memahami bahwa nafkah merupakan tanggung jawabnya
Salah satu tanggung jawab suami dalam Islam adalah memberikan nafkah kepada keluarga. Jadi, ketika istri meminta haknya dalam nafkah maka suami jangan langsung menyalahkannya. Kewajiban nafkah mencakup pemenuhan kebutuhan hidup sesuai kapasitas dan ketentuan syariat.
Habib Nabiel Al-Musawa menerangkan bahwa jabatan dan tanggung jawab lelaki dalam rumah tangga berhubungan dengan tanggung jawab memberikan nafkah kepada perempuan. Ia mengaitkan klarifikasi tersebut dengan ayat Al-Qur'an yang membahas tanggung jawab lelaki dalam keluarga.
"Laki-laki itu dilebihkan dari kaum perempuan karena kelebihan di antara lelaki dibanding perempuan dan karena dia menafkahi. Artinya di dalam Islam nafkah itu tanggung jawab suami. Sekali lagi tanggung jawab suam. Istri punya tidak punya tanggung jawab menafkahi," ujar Habib Nabiel Al-Musawa.
Istri juga bisa meminta cerai jika suami tidak bisa memberi nafkah. Meski demikian, Habib Nabiel Al-Musawa, mengharapkan istri juga menghargai suami ketika sudah berusaha.
"Hendaknya istri juga menghargai karena yang namanya uang, nafkah itu tidak sepenuhnya misalnya sesuai keinginan kita, sesuai kemampuan. Kalau dia sudah berusaha, hargai itu," ucapnya.
Menyalahkan istri terus-menerus tidak menyelesaikan masalah rumah tangga
Setiap famili dapat menghadapi permasalahan yang berbeda, mulai dari ekonomi, pekerjaan, hubungan dengan famili besar, hingga kedatangan anak. Namun kebiasaan menyalahkan pasangan tanpa mau mengevaluasi diri dapat memperburuk komunikasi dan membikin perselisihan semakin sulit diselesaikan.
Dalam Islam, suami dan istri dianjurkan membangun hayat rumah tangga dengan metode yang baik. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 19 yang berbunyi;
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ١٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaḫillu lakum an taritsun-nisâ'a kar-hâ, wa lâ ta‘dlulûhunna litadz-habû biba‘dli mâ âtaitumûhunna illâ ay ya'tîna bifâḫisyatim mubayyinah, wa ‘âsyirûhunna bil-ma‘rûf, fa ing karihtumûhunna fa ‘asâ an takrahû syai'aw wa yaj‘alallâhu fîhi khairang katsîrâ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, tidak sah bagi Anda mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah Anda menyusahkan mereka karena hendak memungut balik sebagian dari apa yang telah Anda berikan kepadanya, kecuali jika mereka berbuat perbuatan biadab yang nyata. Pergaulilah mereka dengan metode yang patut. Jika Anda tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi Anda tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya."
Ayat tersebut hamil tuntunan agar suami memperlakukan istri dengan baik. Oleh karena itu, perbedaan gagasan maupun ketidakpuasan dalam rumah tangga sebaiknya disampaikan melalui komunikasi yang santun, bukan dengan penghinaan, dakwaan berulang, maupun aksi yang merendahkan pasangan.
Suami juga perlu bersedia mendengarkan klarifikasi istri dan mengakui jika dirinya turut memiliki tanggung jawab dalam suatu persoalan. Begitu pula istri, keduanya dapat berbuat penilaian berbareng agar masalah tidak terus berulang.
Jika kebiasaan menyalahkan pasangan telah berkembang menjadi kekerasan verbal, ancaman, maupun bentuk kekerasan lainnya, istri berkuasa mencari pertolongan dan perlindungan dari pihak terpercaya.
Hukum suami yang selalu menyalahkan istri perlu dilihat berdasarkan permasalahan dan aksi yang terjadi. Menegur pasangan untuk memperbaiki kesalahan tentu berbeda dengan terus-menerus menuduh, merendahkan, maupun membebankan seluruh permasalahan kepadanya.
Pada akhirnya, rumah tangga yang sehat membutuhkan komunikasi, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati. Ketika masalah muncul, suami dan istri perlu mencari jalan keluar bersama, bukan terus-menerus mencari pihak yang dapat disalahkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)