Viral di Korea, Anak-anak Justru Lebih Nurut saat Ditakut-takuti Hantu

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 56x dilihat
Viral di Korea, Anak-anak Justru Lebih Nurut saat Ditakut-takuti Hantu

Bagikan Postingan

Jakarta -

Sebagai orang tua, kita dituntut untuk bisa mengajarkan anak kedisiplinan dan membikin Si Kecil memahami aturan. Setiap orang tua biasanya memiliki metode untuk mengajarkan hal tersebut, Bunda.

Ada orang tua yang memilih memberikan klarifikasi secara perlahan, ada pula yang menerapkan akibat agar sang anak belajar berkewajiban atas perilakunya. Namun, dalam situasi tertentu, ada orang tua yang justru memilih untuk menakut-nakuti anaknya dengan cerita tentang makhluk menyeramkan agar mereka selesai berbuat sesuatu yang salah.

Fenomena ini belakangan menjadi dialog di Korea Selatan. Cara orang tua Korea menakut-nakuti anaknya dengan sosok iblis dianggap lebih ampuh daripada memberikan penjelasan.


Cara ini juga mungkin dianggap praktis untuk menghadapi tingkah anak yang sulit dikendalikan, terlebih ketika orang tua sedang kehabisan metode untuk membujuk Si Kecil.

Di media sosial, sebuah video yang memperlihatkan hantu-hantu di Korean Folk Village menakut-nakuti anak-anak baru-baru ini menjadi dialog publik. Para iblis jadi-jadian ini menakuti anak dan meminta mereka berikrar untuk 'bertingkah baik'.

Dilansir halaman The Asia Business Daily, video-video anak-anak yang berjumpa dengan figur iblis di Korean Folk Village bermunculan satu demi satu di media sosial, termasuk Instagram. Video-video tersebut memiliki judul seperti 'Akhir dari Kisah Anak Pemberani Berusia 5 Tahun', 'Hantu Gumiho Memberi Pelajaran kepada Anak Berusia 4 Tahun di Korean Folk Village', dan 'Anak yang Makan Sambil Menonton TV: Kunjungan ke Korean Folk Village'.

Video-video tersebut cenderung mengikuti pola yang serupa. Seorang orang tua memberi tahu iblis bahwa anaknya pilih-pilih makanan, sering mengamuk, maupun tidak mau mendengarkan, dan iblis itu kemudian mendekati anak tersebut.

Hantu itu kemudian menakut-nakuti anak dengan mengatakan, 'Jika Anda tidak berperilaku baik, aku akan membawamu pergi'. Para iblis juga mungkin bertanya apakah anak itu akan mendengarkan orang tuanya mulai sekarang.

Anak-anak yang tadinya tenang tiba-tiba menangis di depan hantu, mengangguk ketakutan, dan berulang kali menjawab, 'Ya'.

Hantu-hantu dalam video tersebut adalah pemeran karakter di bazar musim gugur Korean Folk Village, yang berjudul 'Ghostsaba Ghost Play', yang terjadi dari 12 September hingga 15 November.

Kenapa 'hantu' dianggap bisa mendisplinkan anak di Korea?

Di kalangan orang tua, Korean Folk Village telah mendapatkan reputasi seperti 'Sekolah Tata Krama'. Keluarga yang mengharapkan berjumpa 'hantu' terkadang membentuk antrean panjang di tengah alun-alun.

Beberapa orang tua yang mendatangi karena anaknya sangat pilih-pilih makanan mengatakan bahwa metode menakut-nakuti anak dengan iblis ini sangat membantunya. Anaknya langsung menurut saat ditakut-takuti.

"Ini berhasil. Anak aku tidak mendengarkan ketika ibunya memarahinya di rumah, tetapi mereka benar-benar takut pada hantu," kata seorang Bunda.

"Pihak taman kanak-kanak baru-baru ini menelepon untuk mengatakan bahwa anak aku juga makan dengan baik di sana," ungkap yang lain.

Alasan anak gampang takut dengan hantu

Secara perkembangan, seorang anak kecil bisa merasa takut karena semua yang mereka lihat dan dengar. Jadi, kuncinya bagi orang tua adalah bekerja sama dengan pikiran anak mereka daripada melawannya.

"Anak-anak memiliki pemicu rasa takut yang sama seperti orang dewasa, tetapi pemicunya jauh lebih kuat," kata sosiolog dan penulis buku Scream: Chilling Adventures in the Science of Fear, Margee Kerr, Ph.D., dilansir halaman Fatherly.

"Imajinasi mereka bisa sangat kuat dan menguasai diri mereka. Mereka juga belum bisa membikin alasan rasional, sehingga kurangnya kapasitas untuk memahami sesuatu dapat menyebabkan cerita monster menjadi sangat menakutkan, karena mereka tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak."

Lantas, apa dampaknya jika menggunakan rasa takut anak untuk mendisiplinkannya?

Menurut Psych Central, pola pengasuhan yang menggunakan intimidasi maupun disiplin berbasis rasa takut sebaiknya tidak dilakukan. Pasalnya, hal tersebut dapat memengaruhi evolusi anak, kesehatan mental, dan hubungan orang tua dengan anak-anaknya, Bunda.

Pola asuh berbasis rasa takut juga dapat berakibat negatif pada kepercayaan diri anak. Si Kecil jadi gampang cemas dan kesulitan dalam membangun ketahanan.

Tapi sejujurnya, ketika anak-anak kita statis kecil, mereka mungkin bereaksi terhadap strategi menakut-nakuti kita dengan mengubah perilaku dalam jangka singkat karena mereka takut dan tidak berdaya. Namun, seiring bertambahnya usia dan kebijaksanaan anak-anak, teknik ini mungkin akan kehilangan efeknya.

Demikian berita viral orang tua di Korea yang menggunakan iblis untuk mendisplinkan anak-anaknya. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads