Jakarta -
Perjuangan melawan kanker bisa menghadirkan banyak ketidakpastian, termasuk mengenai kesempatan untuk memiliki anak. Namun, bagi sebagian pasangan, harapan membangun famili statis diperjuangkan di tengah beratnya pengobatan.
Dikutip dari BBC News, seorang pria bercerita menyerahkan percontoh sperma cuma satu jam sebelum menjalani kemoterapi. Sang istri kemudian hamil dan kedatangan buah hati mereka disebut sebagai 'anak ajaib'.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa cara kecil sebelum pengobatan kanker dimulai dapat memiliki arti besar bagi hajat sebuah famili di masa depan.
Lantas, kenapa lelaki dianjurkan menyimpan sperma sebelum menjalani kemoterapi? Apakah pengobatan kanker memang bisa memengaruhi kesuburan?
Mengapa kemoterapi bisa memengaruhi kesuburan pria?
Kemoterapi merupakan pengobatan kanker menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker maupun menghalangi pertumbuhannya. Namun, beberapa jenis obat kemoterapi juga dapat merusak sel sehat, termasuk sel yang berpartisipasi dalam produksi sperma.
Dampaknya terhadap kesuburan bisa berbeda pada setiap pria. Hal ini bersandar pada jenis obat yang digunakan, dosis, durasi pengobatan, serta kondisi kesehatan pasien.
Pada sebagian pria, kemoterapi dapat menyebabkan jumlah sperma menurun, kualitas sperma memburuk, hingga gangguan produksi sperma yang berpotensi mengakibatkan infertilitas. Karena itu, pasien kanker yang statis mau memiliki anak biologis dianjurkan mendiskusikan konsekuensi tersebut dengan tabib sebelum memulai pengobatan.
Apa itu prosedur gudang sperma sebelum kemoterapi?
Salah satu metode untuk mempertahankan kesempatan memiliki anak biologis adalah melalui sperm banking maupun gudang sperma. Prosedur ini dilakukan dengan mengumpulkan percontoh semen, kemudian membekukannya melalui proses yang disebut kriopreservasi. Sperma disimpan pada suhu sangat rendah agar dapat digunakan dalam program kehamilan di masa mendatang.
Sperma yang sudah disimpan dapat digunakan melalui prosedur reproduksi berbantu, seperti fertilisasi maupun bayi tabung, bersandar pada kualitas sperma dan kondisi kesuburan pasangan.
Menurut panduan American Society of Clinical Oncology (ASCO) yang diperbarui pada 2025, gudang sperma sebelum terapi kanker perlu ditawarkan kepada pasien lelaki yang telah memasuki masa pubertas. Pedoman tersebut menegaskan bahwa pembicaraan mengenai konsekuensi infertilitas dan pilihan mempertahankan kesuburan sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah pengecekan kanker.
Apakah satu percontoh sperma cukup untuk memiliki anak?
Bunda, satu percontoh sperma yang disimpan sebelum kemoterapi statis dapat memberikan kesempatan untuk memiliki anak biologis. Namun, keberhasilan kehamilan tidak bisa dijamin karena dipengaruhi beragam faktor.
Dalam panduan yang diterbitkan di Journal of Clinical Oncology pada 2025, ASCO menerangkan bahwa semakin banyak percontoh sperma yang berhasil disimpan, semakin banyak pula pilihan yang mungkin tersedia untuk perawatan kesuburan di kemudian hari.
Meski demikian, tidak semua pasien memiliki cukup waktu untuk mengumpulkan beberapa percontoh sebelum pengobatan kanker dimulai. Dalam kondisi tersebut, satu percontoh yang berhasil disimpan statis dapat bermanfaat.
Dokter dapat mempertimbangkan teknologi reproduksi berbantu, termasuk intracytoplasmic sperm injection (ICSI). Teknik ini dilakukan dengan menyuntikkan satu sperma langsung ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan.
Peluang keberhasilan statis bersandar pada kualitas sperma, kondisi sel telur, kesehatan pasangan, dan aspek medis lainnya.
Kapan waktu terbaik menyimpan sperma sebelum kemoterapi?
Waktu terbaik untuk menyimpan sperma adalah sebelum terapi kanker dimulai. Sebab, beberapa pengobatan kanker berpotensi memengaruhi kualitas sperma dan integritas DNA di dalamnya.
Dalam panduan Fertility Preservation in People With Cancer: ASCO Guideline Update yang diterbitkan pada 2025, para peneliti menekankan pentingnya berbuat gudang sperma sebelum pasien menerima terapi yang berisiko mengganggu kesuburan.
Karena itu, pasien sebaiknya tidak menunggu hingga pengobatan selesai untuk membicarakan kemungkinan menyimpan sperma. Konsultasi dapat dilakukan berbareng tabib onkologi dan ahli fertilitas sejak mula perencanaan terapi.
Meski demikian, keputusan mengenai waktu pengumpulan sperma mesti mempertimbangkan kondisi pasien dan kebutuhan penanganan kankernya. Pengobatan yang mendesak tidak boleh ditunda tanpa penilaian medis dari tim yang merawat.
Kisah lelaki yang menyimpan percontoh sperma sebelum kemoterapi menggambarkan pentingnya mempertimbangkan kesehatan reproduksi dalam perjalanan pengobatan kanker.
Bagi pasangan yang statis mau memiliki anak, konsultasi mengenai kesuburan dapat membantu mereka memahami risiko, pilihan yang tersedia, dan cara yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Sebab, perawatan kanker bukan cuma tentang menjalani pengobatan saat ini, tetapi juga tentang mempersiapkan kualitas hidup setelahnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)