Kenapa Suami Istri Sering Bertengkar? Ternyata Ini Penyebab Yang Jarang Dibahas

Jun 18, 2026 12:50 PM - 2 hari yang lalu 2514

Penyebab pertengkaran suami istri tidak melulu lantaran urusan rumah tangga alias ekonomi. Mari telaah mengenai penyebab pertengkaran yang jarang diketahui.

Pertengkaran dalam rumah tangga merupakan perihal wajar. Bahkan dalam hubungan yang sehat sekalipun, perbedaan pendapat dan bentrok tidak bisa sepenuhnya dihindari.

Pasalnya, suami dan istri merupakan dua orang dengan karakter, pengalaman hidup, serta kebutuhan yang berbeda. Meski demikian, tidak sedikit pasangan yang bertanya-tanya kenapa pertengkaran terus terjadi meskipun mereka saling mencintai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Selain persoalan sehari-hari yang sering menjadi pemicu konflik, rupanya ada sejumlah kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dan jarang disadari sebagai penyebab utama pertengkaran dalam hubungan. 

Penyebab pertengkaran yang jarang dibahas

Yuk kenali penyebab pertengkaran suami dan istri yang jarang dibahas dikutip dari Psychology Today. 

1. Kurangnya rasa kondusif dalam hubungan

Setiap orang mempunyai kebutuhan dasar untuk merasa kondusif dan terhubung dengan orang yang dicintainya. Dalam hubungan pernikahan, kebutuhan ini tercermin dari perhatian, dukungan, dan kehadiran emosional pasangan.

Ketika seseorang merasa diabaikan, tidak didengar, alias tak mendapatkan kedekatan yang diharapkan, rasa kecewa dapat muncul. Jika berjalan lama, kondisi ini sering berubah menjadi bentrok yang berulang meskipun akar masalahnya bukan perihal yang sedang diperdebatkan.

2. Merasa tidak diterima apa adanya

Suami maupun istri mau diterima dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penerimaan bukan berfaedah selalu setuju dengan semua tindakan pasangan, melainkan tetap menghargai dirinya sebagai pribadi.

Sebaliknya, kritik yang terus-menerus alias tuntutan agar pasangan berubah sesuai kemauan dapat menimbulkan emosi tidak dihargai. Akibatnya, pertengkaran menjadi lebih mudah terjadi lantaran salah satu pihak merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

3. Kurangnya apresiasi dan kehangatan

Selain mau diterima, setiap orang juga mau merasa disukai dan dihargai oleh pasangannya. Ungkapan sederhana seperti pujian, terima kasih, alias perhatian mini rupanya mempunyai akibat besar terhadap keselarasan hubungan.

Ketika kehangatan dan apresiasi mulai berkurang, pasangan bisa merasa keberadaannya tidak lagi penting. Perasaan tersebut lambat laun memicu kekecewaan yang kemudian muncul dalam corak pertengkaran.

4. Terlalu banyak dikontrol

Setiap orang memerlukan ruang untuk mengambil keputusan dan menjalani hidupnya dengan langkah yang dianggap tepat. Oleh lantaran itu, rasa otonomi alias kebebasan menjadi salah satu kebutuhan krusial dalam hubungan.

Masalah muncul ketika salah satu pasangan terlalu mengatur alias mengendalikan pasangannya. Perasaan kehilangan kebebasan sering kali memunculkan frustrasi yang akhirnya meledak menjadi konflik.

Tidak sedikit orang diam-diam merasa kandas menjadi pasangan yang baik. Mereka mungkin merasa kurang bisa memenuhi kebutuhan family alias tidak cukup baik dalam menjalankan perannya sebagai suami maupun istri.

Perasaan tersebut dapat memengaruhi langkah seseorang menghadapi masalah. Bukannya berdiskusi, mereka condong mengelak alias menutup diri saat bentrok terjadi, yang justru membikin komunikasi semakin buruk.

Alasan yang sering bikin pasangan bertengkar

Berikut argumen yang sering bikin pasangan bentrok dikutip dari The Guardian.

1. Masalah seks

Perbedaan kebutuhan seksual menjadi salah satu penyebab bentrok yang paling umum dalam rumah tangga. Ada pasangan yang menginginkan hubungan intim lebih sering, sementara pasangannya mempunyai kemauan berbeda.

Karena dianggap sensitif, topik ini sering tidak dibicarakan secara terbuka. Akibatnya, rasa tidak puas terus menumpuk dan akhirnya memicu pertengkaran.

2. Soal kebersihan dan kerapian rumah

Setiap orang mempunyai standar kebersihan yang berbeda. Apa yang dianggap rapi oleh satu pihak belum tentu dianggap rapi oleh pasangannya.

Perbedaan kebiasaan ini sering memunculkan gesekan sehari-hari. Jika tidak disikapi dengan kompromi dan pengertian, persoalan mini ini bisa berkembang menjadi pertengkaran besar.

3. Perbedaan ingatan

Tidak sedikit bentrok terjadi lantaran suami dan istri mengingat suatu peristiwa dengan langkah berbeda dan punya jenis yang paling benar. Ketika keduanya berupaya mempertahankan ingatan masing-masing, perdebatan bisa semakin panjang. Padahal masalah utamanya bukan pada fakta, melainkan pada langkah setiap orang memaknainya.

4. Saling mengoreksi

Aktivitas sederhana seperti memasak rupanya juga bisa menjadi sumber konflik. Salah satu pasangan mungkin merasa caranya paling betul sehingga terus mengoreksi pasangannya. Kebiasaan ini sering menimbulkan rasa jengkel lantaran pasangan merasa usahanya tidak dihargai. Akibatnya, suasana yang awalnya santuy berubah menjadi pertengkaran.

5. Kebiasaan saling menyalahkan

Saat terjadi masalah, banyak orang condong mencari siapa yang kudu bertanggung jawab. Kebiasaan mencari kambing hitam ini sering memicu bentrok dalam hubungan.

Bukan konsentrasi mencari solusi, pasangan justru sibuk membuktikan siapa yang salah. Situasi tersebut membikin masalah semakin susah diselesaikan.

6. Perbedaan pola asuh anak

Bagi pasangan yang sudah mempunyai anak, perbedaan pandangan tentang langkah mendidik anak menjadi sumber bentrok yang cukup sering terjadi. Masing-masing biasanya merasa mempunyai argumen terbaik demi masa depan anak. Jika tidak dibicarakan dengan kepala dingin, perbedaan ini dapat menimbulkan pertengkaran yang berkepanjangan.

7. Selera hiasan rumah

Pilihan warna cat, model furnitur, hingga konsep penataan rumah bisa menjadi bahan perdebatan antara suami dan istri. Meski terdengar sepele, perbedaan selera sering memunculkan bentrok lantaran masing-masing mau rumah mencerminkan kepribadiannya.

8. Masalah keuangan

Uang menjadi salah satu penyebab pertengkaran paling umum dalam rumah tangga. Perbedaan langkah mengelola pengeluaran maupun menentukan prioritas finansial sering memicu perdebatan.

Tekanan ekonomi juga dapat memperburuk situasi. Semakin besar tekanan finansial yang dihadapi, semakin tinggi pula potensi bentrok dalam hubungan.

9. Campur tangan family besar

Hubungan dengan orangtua, saudara, alias kerabat sering kali memengaruhi keselarasan rumah tangga. Perbedaan pandangan terhadap personil family pasangan dapat memicu ketegangan. Selain itu, pola hubungan yang dibawa dari family masing-masing juga kerap memengaruhi langkah pasangan menghadapi bentrok dalam pernikahan.

10. Liburan yang tidak sesuai harapan

Liburan sering dianggap sebagai waktu untuk mempererat hubungan. Namun ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa berujung pada kekecewaan. Ketika rencana tidak melangkah sesuai harapan, pasangan condong mencari pihak yang kudu disalahkan. Dari sinilah pertengkaran sering bermula.

Cara mengatasi pertengkaran dengan pasangan

Berikut langkah mengatasi pertengkaran dengan pasangan Bunda.

1. Tanyakan kebutuhan pasangan

Cobalah bertanya secara langsung apa yang sebenarnya dibutuhkan pasangan dalam hubungan. Pertanyaan sederhana ini dapat membuka ruang komunikasi yang selama ini tertutup. Selain menunjukkan kepedulian, langkah ini juga membantu mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi dan menjadi sumber konflik.

2. Akui dan hargai keberadaan pasangan

Setiap orang mau merasa dilihat dan dihargai oleh orang yang dicintainya. Oleh karena itu, jangan ragu menunjukkan perhatian pada pasangan dalam keseharian.

Pengakuan sederhana bahwa pasangan mempunyai peran krusial dalam hidup dapat membuatnya merasa lebih dihargai dan dicintai.

3. Belajar menerima kekurangan pasangan

Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk pasangan sendiri. Menerima kekurangan pasangan merupakan langkah krusial untuk membangun hubungan yang sehat. Penerimaan juga berfaedah menghargai kebutuhan dan emosi pasangan tanpa menganggapnya berlebihan alias tidak penting.

4. Respon keluhan dengan empati

Ketika pasangan menyampaikan keluhan, cobalah mendengarkan tanpa langsung memihak diri. Sikap ini membantu pasangan merasa dipahami. Rasa kondusif untuk berbincang secara terbuka dapat memperkuat kepercayaan dan mengurangi kemungkinan bentrok berulang.

5. Tunjukkan apresiasi

Ungkapkan rasa terima kasih, pujian, alias penghargaan atas hal-hal mini yang dilakukan pasangan. Jangan menganggap pasangan otomatis mengetahui emosi tersebut. Apresiasi yang konsisten dapat meningkatkan kehangatan dalam hubungan dan membikin pasangan merasa lebih dihargai.

6. Beri ruang pasangan untuk berkembang

Hubungan yang sehat tetap memberi kesempatan bagi masing-masing untuk mempunyai kebebasan dan mengambil keputusan sendiri. Mengurangi kebiasaan mengontrol pasangan dapat membantu memenuhi kebutuhan otonomi sekaligus menciptakan hubungan yang lebih nyaman.

7. Saling mendukung dan bekerja sama

Diskusikan berbareng hal-hal yang membikin masing-masing merasa kurang percaya diri dalam hubungan. Cari solusi yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Ketika suami dan istri saling mendukung untuk menjadi pasangan yang lebih baik, hubungan bakal terasa lebih selaras dan bentrok pun lebih mudah diselesaikan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya