Jakarta -
Ketika anak mendapatkan terlalu banyak stimulasi berlebihan, dia bisa mengalami overstimulasi lho, Bunda. Dampaknya kemudian bisa memicu tantrum alias perubahan emosi.
Hal ini lantaran ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan sensorik, mereka rentan merasa capek sampai kemudian mencapai pemisah toleransinya.
Meski perubahan perilaku ini terkadang terlihat muncul secara mendadak, biasanya ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa anak bakal segera mengalami 'ledakan' emosi. Nah, kondisi ini dikenal sebagai overstimulasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu overstimulasi?
"Overstimulasi terjadi ketika bayi alias anak mengalami lebih banyak rangsangan daripada yang dapat mereka tangani alias biasa rasakan," ungkap master anak, Kevin Kathrotia, dikutip dari Healthline.
Menurut Kathrotia, stimulasi berlebihan pada bayi cukup sering terjadi. Tepatnya paling umum pada usia sekitar 2 minggu hingga 3-4 bulan.
Selain itu, anak-anak yang usianya lebih tua juga bisa mengalami overstimulasi. Misalnya, Bunda mungkin pernah memandang Si Kecil mengalami tantrum setelah seharian bermain di luar berbareng kawan dan keluarga.
Setiap perseorangan mempunyai kapabilitas dan pemisah toleransi yang berbeda-beda. Kondisi ini juga bertindak pada anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan usianya, Bunda.
Tanda-tanda overstimulasi pada bayi dan anak
Sering kali overstimulasi tidak disebabkan oleh satu aspek saja, melainkan kombinasi dari beberapa hal.
"Seorang anak mungkin bisa berada di taman yang ramai pada satu kesempatan, tapi di waktu lain merasa overstimulasi. Misalnya saat kurang tidur alias melewatkan jam makan," ujar analis perilaku, Kerri Milyko, PhD, BCBA-D, LBA (NV), dikutip dari Parents.
Overstimulasi dapat terlihat berbeda pada setiap anak. Namun, beberapa tanda umum yang dapat muncul pada bayi misalnya seperti:
- Menangis lebih keras dari biasanya
- Menolak sentuhan alias memalingkan kepala saat disentuh
- Ingin terus digendong
- Ingin menyusu lebih sering
- Sangat rewel
- Mengepalkan tangan alias menggerakkan tangan dan kaki
- Tampak ketakutan
- Mengalami tantrum
- Bergerak dengan sigap alias tersentak-sentak
- Terlihat sangat lelah
- Melakukan upaya menenangkan diri, seperti mengisap alias mengepalkan tangan
Penyebab overstimulasi pada bayi
Berikut beberapa perihal yang bisa menjadi penyebab overstimulasi pada bayi:
1. Faktor lingkungan
Sebagian bayi mudah merasa kewalahan saat berada di tempat yang bising, ramai, mempunyai pencahayaan terang, alias penuh warna mencolok. Semua stimulasi ini bisa membikin mereka lebih sigap capek dan apalagi pusing.
2. Screentime berlebihan
Penggunaan gadget dan screentime berlebihan, termasuk dari televisi, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya dapat menjadi 'terlalu berat' untuk diproses otak bayi. Terutama saat usia mereka tetap di bawah 18 bulan.
Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghindari penggunaan gadget pada bayi.
3. Terlalu banyak aktivitas
Kegiatan memang krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tapi jika terlalu banyak, ini justru rentan membikin mereka overstimulasi dan kewalahan.
4. Melewatkan waktu tidur
Melewatkan waktu tidur, baik tidur siang alias tidur terlalu larut malam juga bisa menjadi penyebab overstimulasi. Rasa capek yang berlebihan dapat dengan sigap membikin bayi mengalami kelelahan.
5. Perubahan rutinitas
Bayi sangat menyukai rutinitas. Dengan memprediksi, mereka jadi punya rasa kondusif tersendiri. Adanya perubahan agenda dapat membikin mereka menjadi lebih rewel.
6. Terlalu banyak orang
Sebagian bayi senang berjumpa banyak orang, tetapi sebagian lainnya bisa sigap merasa kewalahan ketika berjumpa wajah-wajah baru. Ada juga anak yang sangat merasa tidak nyaman alias apalagi kewalahan saat berada di tengah keramaian.
7. Tumbuh gigi
Meski hanya berkarakter sementara, proses tumbuh gigi dapat membikin bayi merasa tidak nyaman sehingga lebih sensitif terhadap beragam rangsangan di sekitarnya.
Cara mengatasi bayi overstimulasi
Ilustrasi langkah mengatasi bayi overstimulasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/monzenmachi
Untuk membantu mengatasi bayi yang mengalami overstimulasi, berikut beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan:
1. Jauhkan bayi dari situasi ramai
Saat menyadari Si Kecil sudah kewalahan, langkah paling awal yang perlu dilakukan adalah memindahkannya ke lingkungan yang lebih tenang dan redup.
Contohnya seperti bilik bayi alias ruangan yang tidak silau dan tenang di rumah. Bisa juga berupa stroller alias apalagi carseat, yang krusial bayi dibawa jauh dari suasana ramai.
Pastikan suasana di sekitar tetap tenang dan ajak bayi berbincang dengan bunyi yang lembut serta menenangkan.
2. Membedong
Bunda juga dapat mempertimbangkan untuk membedong bayi. Membedong memberikan tekanan yang stabil, meniru kenyamanan saat berada di dalam rahim, serta membantu mengurangi refleks kaget yang bagi sebagian bayi terasa menenangkan.
3. Tenangkan dengan white noise
Bunda juga bisa memutar musik yang lembut alias menggunakan mesin bunyi maupun white noise. Hal yang terpenting, hindari penggunaan televisi alias memberikan ponsel untuk bayi.
Para mahir sepakat bahwa screentime juga bisa memicu overstimulasi bagi anak di bawah usia 2 tahun.
4. Menggendong bayi
Sebagian bayi mau digendong alias disentuh ketika merasa kewalahan, tetapi banyak juga yang justru tidak menginginkannya.
Menurut Kathrotia, bayi yang berada pada fase purple crying dalam perkembangannya, ialah sekitar usia 2 minggu hingga 4 bulan, dapat menolak sentuhan alias pelukan ketika mengalami overstimulasi. Hal ini lantaran bagi mereka, justru perihal itulah yang membikin semakin kewalahan.
Jika Si Kecil tampak tidak nyaman dengan sentuhan Bunda, baringkan dia telentang di tempat yang kondusif seperti tempat tidurnya. Pastikan Bunda tetap berada di dekatnya sampai dia kembali tenang.
5. Lakukan kegiatan yang menenangkan
Dikutip dari The Bump, Bunda juga bisa membujuk Si Kecil melakukan kegiatan yang tenang, seperti membacakan kitab alias memeluknya.
Jika memungkinkan, pastikan juga lingkungan di sekitar anak juga tidak dulu terlalu bising.
Kapan kudu konsultasi ke dokter?
Sesekali mengalami overstimulasi sebenarnya merupakan perihal yang wajar bagi bayi. Namun dalam beberapa kasus, overstimulasi yang terlalu sering terjadi bisa menjadi tanda adanya kondisi lain, seperti gangguan pemrosesan sensorik alias autisme.
Bunda sebaiknya mendiskusikan kondisi tersebut dengan master apabila:
- Perilaku anak mengganggu kegiatan dan rutinitas sehari-hari
- Anak mengalami kesulitan bergerak alias berdiri
- Reaksi anak terlalu susah ditangani tanpa support profesional
Selain itu, pastikan anak tetap menjalani pemeriksaan kesehatan rutin agar master dapat memantau perkembangan dan perilakunya. Semoga berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·