Khutbah Jumat: Jangan Menjadi Muslim yang Rajin Ibadah tetapi Kasar kepada SesamaKincai Media– Khutbah Jumat ini membujuk kita merenungkan kembali prinsip ibadah dalam Islam. Sebab, kesalehan yang sejati bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah, tetapi juga tercermin dari lisan yang santun, hati yang penuh kasih, dan perilaku yang menghadirkan rasa kondusif bagi orang lain. Nah berikut “khutbah Jumat: Jangan Menjadi Muslim yang Rajin Ibadah tetapi Kasar kepada Sesama.“
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga terlihat dalam langkah kita memperlakukan sesama manusia.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah kegelisahan yang tengah kita saksikan dalam kehidupan umat dewasa ini. Di satu sisi, kehidupan berakidah tampak semakin semarak.
Masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah, majelis-majelis pengetahuan tumbuh di beragam tempat, dan kajian-kajian Islam sekarang semakin mudah diakses melalui beragam platform digital. Semangat untuk menjalankan ibadah sunnah pun tampak semakin hidup di tengah masyarakat.
Namun, di sisi yang lain, kita juga menyaksikan realita yang tidak kalah memprihatinkan. Ruang-ruang publik justru dipenuhi pertengkaran, ujaran kebencian, perundungan di media sosial, apalagi kebiasaan saling menghakimi atas nama agama. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi rahmat, sering kali berubah menjadi permusuhan yang mengikis ukhuwah dan persaudaraan.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Di sinilah letak persoalan yang patut kita renungkan. Mengapa semakin banyak orang yang giat beragama tidak selalu diikuti dengan semakin mulianya akhlak? Mengapa lisan tetap begitu mudah melukai, sementara dahi begitu sering bergesekan dengan sajadah? Mengapa seseorang dapat begitu intens ketika menghadap Allah, tetapi begitu keras saat berhadapan dengan sesama manusia?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah untuk mengurangi pentingnya ibadah. Justru sebaliknya, pertanyaan ini membujuk kita untuk kembali memahami prinsip dan tujuan ibadah yang sesungguhnya. Jangan-jangan selama ini kita lebih sibuk menyempurnakan gerakan-gerakan ritual, namun belum sungguh-sungguh menghadirkan nilai-nilai ibadah itu dalam kehidupan sosial kita.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Sejak awal, Al-Qur’an tidak pernah memisahkan hubungan manusia dengan Allah (ḥablun minallāh) dari hubungan manusia dengan sesama (ḥablun minannās). Kesalehan ritual dan kesalehan sosial adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Ibadah yang betul semestinya melahirkan pribadi yang semakin rendah hati, semakin penyayang, dan semakin berfaedah bagi orang lain.
Allah Swt. berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya; “Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, ialah mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang melakukan riya, dan enggan memberikan support kepada sesama.” (QS. Al-Ma’un [107]: 1–7).
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Susunan ayat-ayat ini sangat menarik untuk kita renungkan. Allah tidak memulai dengan menyebut orang yang meninggalkan shalat. Justru yang pertama kali disoroti adalah mereka yang kehilangan kepedulian kepada anak yatim dan orang miskin. Seakan-akan Al-Qur’an hendak menegaskan bahwa kerusakan kepercayaan sering kali bermulai ketika rasa kasih sayang menghilang dari dalam hati.
Barulah setelah menggambarkan hilangnya kepedulian sosial itu, Allah mengecam orang-orang yang tetap melaksanakan shalat, tetapi shalatnya tidak meninggalkan jejak dalam perilakunya. Mereka berdiri menghadap Allah, tetapi menutup mata terhadap penderitaan manusia. Mereka menjaga ritualnya, tetapi melupakan nilai yang hendak dibangun oleh ritual itu sendiri.
Karena itu, Surah Al-Ma’un sesungguhnya bukan hanya berbincang tentang tanggungjawab shalat. Surah ini juga berbincang tentang wajah kemanusiaan dalam agama. Sebab ibadah yang tidak melahirkan kasih sayang bakal kehilangan ruhnya, dan kepercayaan yang tidak menghadirkan kepedulian hanya bakal menyisakan simbol-simbol yang kosong dari makna.
Allah Swt. kembali mengingatkan:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Artinya; “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan biadab dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar tanggungjawab yang kudu ditunaikan, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan akhlak. Shalat yang diterima bukan hanya shalat yang betul aktivitas dan bacaannya, tetapi shalat yang bisa mengubah langkah seseorang memandang dan memperlakukan orang lain.
Apabila seseorang semakin giat shalat, tetapi semakin mudah menghina, memfitnah, merendahkan, dan menyebarkan kebencian, maka persoalannya bukan terletak pada hukum shalat. Persoalannya adalah lantaran shalat itu belum betul-betul menyentuh hati dan membentuk kepribadiannya.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Suatu hari Rasulullah diberitahu tentang seorang wanita yang sangat tekun beribadah. Ia giat melaksanakan shalat malam, banyak berpuasa sunnah, dan doyan bersedekah. Akan tetapi, dia juga dikenal sering menyakiti tetangganya dengan perkataan.
Mendengar perihal itu, Rasulullah bersabda:
هِيَ فِي النَّارِ
Artinya; “Dia berada di neraka.” (HR. Ahmad).
Kemudian disebutkan seorang wanita lain yang ibadah sunnahnya tidak sebanyak wanita pertama. Namun, dia tidak pernah menyakiti tetangganya dan giat bersedekah.
Tentang wanita ini Rasulullah bersabda:
هِيَ فِي الْجَنَّةِ
Artinya; “Dia berada di surga.”
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa banyaknya ibadah rupanya belum cukup menjadi ukuran kesalehan seseorang. Rasulullah justru mengaitkan keselamatan seseorang dengan akhlaknya kepada sesama. Sebab ibadah yang betul bakal menghadirkan kedamaian, bukan menghadirkan luka bagi orang lain.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Rasulullah juga bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (Muttafaq ‘Alaih).
Perhatikanlah gimana Rasulullah mendefinisikan seorang Muslim. Beliau tidak menjadikan banyaknya ibadah sunnah alias panjangnya referensi shalat sebagai ukuran utama. Akan tetapi, beliau menjadikan keamanan sosial sebagai karakter utama seorang Muslim.
Artinya, kehadiran seorang Muslim kudu menghadirkan rasa kondusif bagi orang lain. Orang merasa dihormati, dihargai, dan tidak takut disakiti oleh ucapan maupun perbuatannya. Inilah adab mulia yang menjadi buah dari ibadah yang benar.
Allah Swt. berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya; “Maka berkah rahmat Allah engkau bertindak lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan sekadar etika dalam pergaulan, melainkan bagian dari risalah kenabian. Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna ibadahnya. Namun demikian, Allah tetap menegaskan bahwa keberhasilan dakwah beliau bertumpu pada kelembutan hati dan kemuliaan akhlaknya.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin lembut pula sikapnya kepada sesama manusia. Kedekatan kepada Allah tidak melahirkan kesombongan, tetapi kerendahan hati. Tidak melahirkan kekerasan, melainkan kasih sayang.
Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beragama kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara baik alias diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Hadis ini terasa semakin relevan pada era media sosial seperti sekarang. Hari ini, lisan tidak lagi hanya berupa ucapan yang keluar dari mulut. Lisan juga datang dalam corak komentar, unggahan, pesan singkat, dan beragam corak komunikasi digital yang dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik.
Oleh karena itu, menjaga lisan pada era digital juga berfaedah menjaga jari-jari kita ketika menulis. Setiap kalimat yang kita tuliskan adalah gambaran isi hati. Setiap komentar mencerminkan kualitas ketaatan kita. Apa yang kita unggah mungkin segera dilupakan oleh manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengetahuan Allah Swt.
Mudah-mudahan Allah Swt. menjadikan shalat yang kita dirikan betul-betul bisa membentuk adab yang mulia, melembutkan hati, menjaga lisan, serta menghadirkan faedah dan rasa kondusif bagi sesama. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Jumat II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ