Jakarta -
Bunda, mengandung 30 minggu bukanlah masa yang ringan. Perut sudah semakin besar, tubuh terasa sigap lelah, dan pikiran mulai konsentrasi pada persiapan persalinan. Namun gimana jika di tengah kondisi itu, Bunda dihadapkan pada tuntutan family untuk berjalan jauh?
Inilah yang dialami seorang ibu mengandung yang kisahnya viral. Berikut kisahnya dikutip dari People.
Kisah ibu mengandung dibenci family lantaran menolak naik pesawat
Dalam ceritanya yang dibagikan di Reddit, Bunda tersebut sedang mengandung 30 minggu ketika keluarganya mengadakan pesta pernikahan di luar negeri. Untuk menghadiri kegiatan itu, dia kudu menempuh perjalanan udara jarak jauh. Bunda tersebut mengatakan bahwa dia merasa percaya bahwa berjalan bukanlah pilihan yang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, seiring mendekatnya tanggal pernikahan, tekanan semakin meningkat. Adiknya mendesaknya untuk berkonsultasi dengan master dengan angan dapat meredakan ketakutannya.
“Selama dua bulan terakhir, setiap kali suami saya bakal memesan tiketnya, ibu dan kerabat wanita saya menelepon dan mencoba meyakinkan saya untuk datang. Aku betul-betul takut berjalan dengan pesawat saat hamil, terutama jarak jauh,” tulisnya.
Ia mengakui situasi tersebut membuatnya terombang-ambing antara rasa takut dan cinta. “Aku mau berada di sana untuk adikku. Aku mencintainya, dan saya tahu pernikahannya bakal indah,” katanya.
Namun setelah mempertimbangkan kondisi kehamilannya, dia memutuskan untuk tidak ikut terbang. Alasannya sederhana: dia tidak merasa kondusif berjalan sejauh itu di trimester ketiga.
Sayangnya, keputusan ini memicu konflik. Beberapa personil family menilai dia tidak mendukung dan terlalu berlebihan. Ia apalagi merasa dijauhi lantaran memilih tidak hadir.
“Yang bisa saya lakukan adalah menjaga batas saya dan mengirimkan cinta saya, meskipun saya patah hati dengan gimana ini terjadi,” pungkasnya.
Kenapa mengandung 30 minggu perlu ekstra hati-hati?
Memasuki usia 30 minggu, Bunda sudah berada di trimester ketiga. Pada fase ini:
- Risiko kontraksi prematur mulai meningkat
- Tubuh lebih mudah bengkak dan lelah
- Nyeri punggung dan sesak napas lebih sering muncul
- Kontraksi tiruan (Braxton Hicks) bisa terasa semakin intens
Secara medis, memang banyak maskapai tetap mengizinkan ibu mengandung terbang hingga usia 32–36 minggu (dengan surat dokter). Namun, izin bukan berfaedah tanpa risiko. Perjalanan udara jarak jauh bisa meningkatkan akibat pembekuan darah (deep vein thrombosis), terutama lantaran duduk terlalu lama. Selain itu, jika terjadi kondisi darurat seperti pecah ketuban alias kontraksi dini, akses jasa kesehatan di negara lain bisa menjadi tantangan besar.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kehamilan secara alami membikin tubuh berada dalam kondisi hiperkoagulabilitas, ialah keadaan di mana darah lebih mudah membeku. Ini adalah sistem alami tubuh untuk mencegah perdarahan saat persalinan nanti. Namun pengaruh sampingnya, akibat terjadinya venous thromboembolism (VTE) alias penggumpalan darah meningkat dibandingkan perempuan yang tidak hamil.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis internasional Pubmed menemukan bahwa akibat VTE pada ibu mengandung bisa meningkat hingga 4–5 kali lipat dibandingkan wanita tidak hamil. Risiko ini semakin tinggi jika ibu duduk lama tanpa banyak bergerak, seperti saat perjalanan jauh alias penerbangan panjang.
Selain itu, studi meta-analisis tentang perjalanan udara menunjukkan bahwa duduk lebih dari 4 jam dapat meningkatkan akibat pembekuan darah, terutama pada perseorangan dengan aspek akibat tambahan dan kehamilan termasuk salah satunya.
Bukan hanya soal pembekuan darah, penelitian obstetri juga menunjukkan bahwa trimester ketiga adalah masa ketika akibat persalinan prematur mulai meningkat. Di usia 30 minggu, kontraksi tiruan (Braxton Hicks) bisa lebih sering muncul. Pada beberapa kasus, kontraksi ini bisa berkembang menjadi kontraksi persalinan dini.
Dari sisi fisiologis, studi tentang perubahan tubuh selama kehamilan menjelaskan bahwa:
- Volume darah meningkat hingga 40–50 persen
- Detak jantung lebih cepat
- Paru-paru bekerja lebih keras lantaran rahim menekan diafragma
- Tekanan pada pembuluh darah kaki meningkat sehingga mudah bengkak
Kondisi ini membikin tubuh ibu lebih sigap capek dan kurang toleran terhadap stres fisik, termasuk perjalanan jauh alias kegiatan padat.
Penelitian dari organisasi kebidanan internasional seperti European Board and College of Obstetrics and Gynecology juga menekankan bahwa meskipun perjalanan udara relatif kondusif pada kehamilan tanpa komplikasi, trimester ketiga memerlukan pertimbangan lebih matang terutama jika terdapat riwayat tekanan darah tinggi, glukosuria gestasional, kehamilan kembar, alias riwayat persalinan prematur.
Artinya, kehati-hatian di usia 30 minggu bukan sekadar rasa cemas, melainkan respons yang selaras dengan bukti ilmiah. Menjaga diri di fase ini berfaedah memberi kesempatan terbaik bagi janin untuk terus berkembang optimal hingga waktunya lahir.
Keputusan yang tidak mudah
Menolak datang di kegiatan family besar tentu bukan keputusan ringan. Apalagi jika momen tersebut sangat penting, seperti pernikahan.
Namun dalam kehamilan, prioritas utama adalah keselamatan ibu dan janin. Setiap Bunda mempunyai kondisi berbeda. Ada yang tetap aktif bepergian, ada pula yang perlu lebih banyak istirahat.
Keputusan tersebut bukan soal tidak peduli. Justru sebaliknya itu adalah corak tanggung jawab.
Kapan ibu mengandung sebaiknya tidak naik pesawat?
Bunda sebaiknya menunda perjalanan udara jika memiliki:
- Riwayat persalinan prematur
- Plasenta previa
- Preeklamsia
- Tekanan darah tinggi
- Diabetes gestasional yang tidak terkontrol
- Kehamilan kembar dengan akibat tinggi
Selalu konsultasikan dengan master kandungan sebelum memutuskan bepergian, terutama jika perjalanan lebih dari 4–5 jam.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·