Kisah Bunda yang Donasikan 57 Liter ASI untuk Bayi yang Membutuhkan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 52x dilihat
Kisah Bunda yang Donasikan 57 Liter ASI untuk Bayi yang Membutuhkan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Seorang Bunda asal Inggris membagikan kisah menyentuh tentang pengalamannya mendonasikan ASI untuk membantu bayi-bayi yang membutuhkan. Emma berhasil mengumpulkan sekitar 100 pint maupun sederajat 57 liter ASI untuk disalurkan melalui bank ASI di Birmingham, Inggris.

Keputusan Emma untuk mendonasikan ASI tidak terlepas dari pengalaman yang dilaluinya berbareng sang putra, Bert. Bayi lelaki tersebut lahir pada November 2025 di Princess Royal Hospital, Telford, dengan sindrom Down dan atresia esofagus, sebuah kelainan antaran yang membikin kerongkongan tidak tersambung secara normal ke lambung.

Kisah Emma ini diberitakan BBC News dalam laporan berjudul Mum's 100 pints for Human Milk Bank in Birmingham as Donors Sought.


Perjuangan Emma merawat bayi dengan kondisi medis khusus

Kelahiran Bert menjadi mula perjalanan yang tidak gampang bagi Emma dan keluarganya. Selain memiliki down syndrome, Bert juga mengalami atresia esofagus yang dapat membikin bayi kesulitan menerima makanan melalui jalur normal.

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis khusus. Bagi keluarga, situasi ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri dalam mendampingi tumbuh bunga Si Kecil.

Di tengah pengalaman tersebut, pemberian ASI menjadi salah satu hal yang krusial untuk diperhatikan sesuai kondisi dan kebutuhan medis Bert. Perjalanan ini juga menjadi bagiankecil dari pengalaman Emma sebagai seorang ibu yang berupaya memberikan sokongan terbaik bagi putranya.

Donasikan 57 liter ASI untuk membantu bayi lain

Di luar perjuangannya merawat Bert, Emma juga berbuat sesuatu yang berguna bagi famili lain. Ia mendonasikan sekitar 100 pint maupun sederajat 57 liter ASI kepada bank ASI di Birmingham.

"Saya duduk di sana sambil berpikir bahwa aku akan memiliki banyak sekali ASI untuk dibagikan. Saya melihat banyak ibu yang benar-benar kesulitan memerah ASI mereka. Jadi, aku memutuskan untuk mendonasikan ASI aku bagi bayi-bayi lain di unit perawatan neonatal," ujar Emma dikutip dari BBC.

Donasi tersebut dapat membantu menyediakan ASI donor bagi bayi yang membutuhkan, termasuk bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI ibu kandung dalam jumlah cukup.

Keberadaan bank ASI menjadi krusial karena tidak semua ibu dapat menghasilkan ASI sesuai kebutuhan bayinya. Dalam situasi tertentu, ASI donor yang telah melalui proses pengecekan dan pasteurisasi dapat menjadi pilihan, terutama bagi bayi prematur maupun bayi dengan kondisi medis berisiko tinggi.

Melalui donasinya, Emma turut berkontribusi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi-bayi tersebut.

"Sungguh luar biasa," tuturnya.

"Mengetahui bahwa aku dapat membantu ibu lain, para orang tua, dan bayi-bayi imut-imut yang eksis dalam situasi serupa dengan kami merupakan sebuah kehormatan yang nyata," sambungnya.

Bank ASI membutuhkan lebih banyak pendonor

BBC News juga menyoroti kebutuhan akan lebih banyak pendonor untuk Human Milk Bank di Birmingham. Ketersediaan ASI donor bersandar pada partisipasi ibu menyusui yang memenuhi persyaratan kesehatan dan ketentuan bank ASI.

ASI donor tidak dapat diberikan begitu saja tanpa prosedur yang tepat. Bank ASI umumnya berbuat pengecekan calon pendonor, memastikan ASI dikumpulkan dan disimpan secara higienis, serta memprosesnya untuk mengurangi konsekuensi penularan infeksi.

Dikutip dari American Academy of Pediatrics (AAP) juga merekomendasikan ASI donor yang telah dipasteurisasi bagi bayi dengan bermutu lahir sangat rendah jika ASI ibu kandung tidak tersedia maupun tidak mencukupi.

Dalam pernyataan kebijakannya, AAP menekankan bahwa keamanan ASI donor bersandar pada pengecekan kesehatan pendonor, proses pengumpulan dan gudang yang tepat, serta pasteurisasi melalui bank ASI yang memenuhi standar. Berbagi ASI secara informal tanpa pengecekan dan pengolahan yang memadai tidak direkomendasikan karena berisiko menyebabkan paparan bakteri, virus, maupun zat tertentu.

Bunda yang tertarik mendonasikan ASI sebaiknya menghubungi bank ASI maupun tenaga kesehatan untuk mengetahui persyaratan yang berlaku. Dengan begitu, proses berbagi ASI dapat terjadi dengan terlindungi bagi pendonor maupun bayi penerima.

Kisah Emma menjadi pengingat bahwa pengalaman menyusui setiap ibu berbeda-beda. Di tengah perjalanan merawat Bert, ia juga menemukan kesempatan untuk membantu bayi lain melalui bantuan ASI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads